Mahasiswa UK Petra Hidupkan Budaya Indonesia lewat Karya Visual
- 22 Agt 2026 14:12 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) dan International Program in Digital Media (IPDM) Universitas Kristen Petra. menghidupkan nilai budaya Indonesia melalui karya visual adaptif. Pendekatan visual tersebut disesuaikan dengan perkembangan tren dan kebutuhan generasi masa kini.
Semangat itu hadir dalam ADIWARNA 2026, pameran tugas akhir mahasiswa DKV dan IPDM UK Petra. Pameran tersebut menjadi ruang selebrasi sekaligus sarana edukasi kreatif bagi mahasiswa dan masyarakat.
Mengusung tema SERAYA, Adiwarna menghadirkan estetika modern yang tetap berjiwa lokal. Pameran juga merayakan perjalanan mahasiswa dalam bertumbuh dan berproses selama menjalani perkuliahan.
Adiwarna 2026 berlangsung pada 20–22 Agustus 2026 di Basement Alun-Alun Kota Surabaya. Pameran dibuka pukul 10.00 hingga 21.00 WIB, dengan menampilkan 40 karya terpilih.
Sebanyak 40 karya tersebut dipilih dari 183 karya mahasiswa DKV-IPDM UK Petra angkatan 2022. “Seluruh karya yang dipamerkan merupakan karya terbaik dari setiap kategori yang ada,” ucap Anang Tri Wahyudi.
Dosen pembimbing tersebut menjelaskan, karya terbagi dalam empat kategori utama. Kategori tersebut meliputi Visual Studies, Brand Communication, Digital Media, dan Graphic Design.
Salah satu karya menarik hadir melalui art toys bertema Wayang Pandawa karya Christopher Agung. Karya itu berjudul “Perancangan Art Toys Bertema Blind Box untuk Mengenalkan Karakter Wayang Pandawa”.
Christopher memberi nama karyanya Pan5, yang terdiri atas lima karakter Pandawa. “Pan5 hadir untuk mengingatkan dan mengajarkan moral baik dalam budaya Indonesia," kata Christopher.
Ia menyebut karakter Pandawa mulai dilupakan generasi Alpha akibat perkembangan internet dan globalisasi. Pan5 menghadirkan karakter Puni, Bim Bim, Aru, Kuku, dan Dede dengan desain menggemaskan.
“Elemen busana, filosofi warna, dan ukuran karakter bertujuan merefleksikan setiap karakter,” ucapnya. Karya lainnya dibuat Shannon Faustine Wijaya melalui buku edukatif berjudul The Dear Friend in Me.
Karya tersebut membantu remaja mengenali, menerima, dan mengelola duka kehilangan orang tersayang. “Buku ini berangkat dari fenomena banyaknya remaja yang kehilangan orang tersayang,” ucap Shannon.
Ia menggunakan pendekatan bibliotherapy melalui narasi personal dan guided journaling dalam karyanya. Buku tersebut dirancang sebagai grief companion agar remaja tidak merasa sendirian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....