UNAIR Dorong Ekowisata Tangguh Bencana di Prafi Manokwari

  • 15 Agt 2026 04:51 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Wilayah Prafi, Manokwari, memiliki potensi ekowisata besar berkat keindahan alam dan kekayaan budaya, namun menghadapi ancaman banjir, longsor, dan gempa bumi. Tim Ekspedisi Patriot UNAIR mendorong konsep ekowisata terintegrasi mitigasi bencana dengan pendekatan berbasis masyarakat.

“Mitigasi ini mencakup pemetaan risiko, sistem peringatan dini, hingga pembangunan infrastruktur tahan bencana,” kata Ketua Tim Enam Ekspedisi Patriot UNAIR, Dr Neffrety Nilamsari, Pendekatan tersebut diharapkan menjaga keselamatan sekaligus mempertahankan potensi ekowisata Prafi.

Neffrety menilai pembangunan infrastruktur mitigasi berskala besar berpotensi mengubah bentang alam. Karena itu, pembangunan perlu mengutamakan infrastruktur hijau berbasis alam dan ramah lingkungan.

“Dengan mengutamakan desain minimal invasif, material ramah lingkungan, serta menyesuaikan pembangunan dengan daya dukung ekosistem,” katanya.

Setiap pembangunan juga perlu mempertimbangkan risiko bencana dan dampak lingkungan. “Sebaiknya melibatkan masyarakat lokal, sehingga keselamatan dan kelestarian ekologi dapat berjalan seimbang,” ucapnya. Keterlibatan masyarakat dinilai penting untuk memastikan pembangunan sesuai kebutuhan dan kondisi setempat.

Neffrety menyebut aspek sosial, budaya, dan birokrasi menjadi tantangan nonteknis terbesar di Prafi. Kesepahaman dengan masyarakat adat membutuhkan pendekatan partisipatif serta penghormatan terhadap kearifan lokal.

Tim Ekspedisi Patriot UNAIR merancang edukasi mitigasi tanpa mengganggu aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Edukasi mencakup pelatihan singkat, simulasi evakuasi, serta praktik pemilahan sampah.

“Perlu adanya kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat,” ucap Neffrety. Masyarakat juga dilibatkan sebagai pemandu wisata, kader siaga bencana, dan pengelola jalur evakuasi.

Dalam program TEP, mahasiswa UNAIR Kelompok Enam turut menginisiasi pembangunan bedeng menggunakan vegetasi lokal. Inovasi tersebut difokuskan pada tiga titik kritis rawan longsor di SP 4 Desa Udapi Hilir. Selain itu, tim turut menginisiasi pembangunan pos pantau darurat pada dua titik rawan banjir. Upaya tersebut menjadi bagian penguatan mitigasi berbasis lingkungan di kawasan Prafi.

Neffrety menilai Prafi membutuhkan sistem peringatan dini yang ramah lingkungan dan adaptif. Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan adalah sensor Internet of Things (IoT) bertenaga surya.

Menurutnya, keberhasilan ekowisata tangguh bencana tidak cukup diukur melalui peningkatan jumlah wisatawan. Ketahanan kawasan harus dinilai melalui berbagai indikator yang saling berkaitan.

“Terdapat lima indikator krusial yang menentukan, yaitu ketahanan infrastruktur dan kesiapsiagaan masyarakat,” ujarnya. “Indikator lainnya mencakup sistem peringatan dini, keberlanjutan lingkungan, ekonomi, dan tata kelola.”

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....