Dari Kaset ke Musik Pribadi, Sejarah Walkman
- 12 Agt 2026 08:44 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Jauh sebelum musik dapat didengarkan hanya dengan menyentuh layar smartphone, masyarakat mengenal kaset sebagai salah satu media musik paling populer. Untuk mendengarkan lagu favorit, seseorang harus memiliki pemutar kaset sekaligus membawa kaset yang berisi musik pilihannya. Kehadiran kaset membuat musik lebih mudah dinikmati, tetapi pengalaman mendengarkannya masih terikat pada perangkat tertentu.
Pada akhir dekade 1970-an, sebuah perangkat kecil kemudian mengubah kebiasaan tersebut. Namanya Walkman. Menurut Smithsonian Magazine, Sony memperkenalkan Walkman pada 1979 sebagai pemutar kaset berukuran kecil yang dapat dibawa ke mana-mana. Perangkat ini menawarkan cara baru menikmati musik karena pengguna tidak lagi harus berada di dekat perangkat stereo di rumah.
Ketika pertama kali diperkenalkan, Walkman sebenarnya bukan teknologi yang sepenuhnya baru. Pemutar kaset dan headphone telah tersedia sebelumnya. Namun, Sony berhasil menggabungkan keduanya menjadi perangkat portabel yang memungkinkan seseorang menikmati musik secara pribadi ketika berjalan, bepergian, menggunakan kendaraan, maupun sekadar bersantai.
Walkman bahkan tidak langsung dianggap sebagai sebuah terobosan besar. Perangkat generasi awal hanya dapat digunakan untuk memutar musik dan tidak memiliki fungsi merekam. Meski demikian, perangkat yang saat itu dibanderol sekitar 200 dolar Amerika Serikat tersebut justru mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.
Smithsonian Magazine mencatat, sekitar 30 ribu unit pertama yang disiapkan untuk pasar Jepang langsung habis terjual. Ketika Walkman kemudian dipasarkan di Bloomingdale's, New York, permintaannya juga sangat tinggi hingga daftar tunggunya mencapai sekitar dua bulan. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat musik sebagai sesuatu yang dapat menemani aktivitas sehari-hari.
Sebelum Walkman hadir, menikmati musik berkualitas melalui headphone biasanya mengharuskan seseorang berada dekat dengan perangkat stereo di rumah. Walkman mengubah keadaan tersebut. Musik tidak lagi memiliki tempat tertentu, tetapi dapat mengikuti penggunanya ke berbagai tempat dan aktivitas.
Perubahan itu membuat musik menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari. Lingkungan sekitar yang sebelumnya terasa biasa saja dapat memperoleh suasana berbeda ketika seseorang mendengarkannya melalui headphone. Smithsonian Magazine menggambarkan pengalaman tersebut seperti kehidupan sehari-hari yang mendapatkan suasana layaknya sebuah film dengan soundtrack pilihan sendiri.
Walkman juga mengubah cara manusia menggunakan ruang publik. Seseorang yang mengenakan headphone dapat berada di tengah keramaian, tetapi pada saat yang sama memiliki ruang pribadi sendiri. Jalanan, kendaraan umum, taman, hingga tempat kerja dapat menjadi ruang untuk menikmati musik secara personal.
Namun, tidak semua orang menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang positif. Sebagian pihak menilai penggunaan headphone membuat seseorang terlalu tertutup dari lingkungan sekitar. Pengguna Walkman bahkan dianggap seperti memberikan tanda bahwa dirinya sedang tidak ingin diganggu.
Sony sempat memikirkan persoalan tersebut. Menurut Smithsonian Magazine, Akio Morita meminta agar Walkman generasi pertama dilengkapi jack headphone kedua sehingga dua orang dapat mendengarkan musik bersama. Namun, pengalaman mendengarkan musik secara pribadi justru lebih disukai pengguna dan menjadi salah satu ciri khas Walkman.
Menariknya, meskipun Walkman mendorong pengalaman mendengarkan musik secara individual, perangkat ini juga melahirkan budaya sosial baru, salah satunya mixtape. Pengguna dapat memilih lagu, menyusunnya dalam urutan tertentu, kemudian merekamnya ke dalam kaset untuk diberikan kepada teman atau orang terdekat. Mixtape menjadi cara untuk menyampaikan perasaan sekaligus menunjukkan selera musik seseorang.
Popularitas Walkman kemudian menjadikannya lebih dari sekadar perangkat elektronik. Walkman berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan simbol modernitas, terutama bagi generasi muda. Warisannya kemudian terasa dalam perkembangan pemutar CD, MiniDisc, MP3 player, hingga iPod. Kini, jutaan lagu dapat diakses melalui smartphone dan layanan streaming.
Namun, gagasan dasarnya telah diperkenalkan Walkman sejak 1979: musik tidak harus menunggu kita berada di rumah, melainkan dapat ikut bepergian bersama kita. Dari kaset yang berputar di dalam mesin kecil hingga lagu digital yang tersimpan di smartphone, sebuah perangkat kecil, sebuah kaset, dan sepasang headphone ternyata mampu mengubah cara dunia mendengarkan musik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....