TEP UNAIR Kembangkan Hilirisasi Buah Matoa di Papua Barat

  • 09 Agt 2026 10:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Berbagai inovasi terus tumbuh dari pemikiran sederhana untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) menghadirkan inovasi pemanfaatan buah Matoa di wilayah transmigrasi Papua Barat.

Program tersebut bertujuan memberdayakan ekonomi masyarakat melalui hilirisasi komoditas Matoa Prafi dan ekosistem ekonomi terpadu. TEP kelompok 12 dipimpin Mhd Zamal Nasution, SSi MSc PhD, bersama lima anggota lainnya.

Mereka menjalankan misi pengabdian masyarakat selama empat bulan, mulai Agustus hingga November 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di Kawasan Prafi, Manokwari, Papua Barat, dengan mengembangkan berbagai produk berbasis Matoa.

Zamal mengatakan Prafi memiliki potensi sumber daya alam besar, meliputi padi, hortikultura, perkebunan, dan komoditas lokal. Menurutnya, buah Matoa tumbuh melimpah saat musim panen, tetapi pemanfaatannya masyarakat masih terbatas.

“Selama ini masyarakat hanya menjual Matoa dalam bentuk buah segar, sehingga nilai tambahnya masih rendah,” ujar Zamal, Sabtu, 8 Agustus 2026. Ia mengatakan sebagian masyarakat bahkan menebang pohon Matoa ketika masa panen tiba.

“Berangkat dari alasan tersebut, kami ingin mengajarkan cara lain menikmati buah Matoa dan mengolahnya menjadi produk lainnya,” katanya. Berbagai produk yang dikembangkan meliputi dodol, selai, stik buah, sambal, kacang biji, teh kulit, dan es krim Matoa.

“Produk-produk ini juga berpotensi menjadi menu pendamping Program Makan Bergizi (MBG) di sini,” ujar Zamal. Menurutnya, inovasi tersebut memanfaatkan hampir seluruh bagian pohon Matoa, kecuali kayu dan daun.

“Kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa ketika panen, buah dipetik, bukan pohonnya ditebang,” katanya. Selain mengembangkan produk, TEP UNAIR juga memberdayakan kelompok UMKM, khususnya perempuan yang menjadi tumpuan keluarga.

Pemberdayaan tersebut diharapkan mampu menciptakan ekosistem ekonomi dengan keseimbangan antara permintaan dan pasokan. “Ketika UMKM berkembang, harapannya bisa membuka lapangan pekerjaan bagi perempuan dan anak-anak muda,” ujar Zamal.

Zamal menyebut tantangan terbesar bukan teknologi, melainkan membangun kepercayaan masyarakat terhadap program pemberdayaan. “Setiap daerah memiliki karakter sosial, budaya, dan pengalaman berbeda terhadap berbagai program pembangunan,” ujarnya.

“Karena itu, pendekatan kami adalah mendengarkan sebelum menawarkan solusi,” kata Zamal. Program tersebut dilakukan melalui kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media.

Zamal berharap program tersebut memberikan dampak ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Prafi. “Kami ingin masyarakat Prafi semakin bangga terhadap potensi mereka, terutama Matoa sebagai buah asli Papua,” ujarnya.

Pemasaran produk nantinya diarahkan melalui toko suvenir Manokwari, platform digital, dan jejaring perguruan tinggi peserta Tim Ekspedisi Patriot. Upaya tersebut diharapkan memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal masyarakat Prafi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....