Dewan Pendidikan Jatim Sebut Fenomena Defisit Guru Harus Segera di Atasi
- 06 Agt 2026 05:12 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Menanggapi statement Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti yang menyebut beberapa daerah di Indonesia mengalami kekurangan guru, Anggota Dewan Pendidikan Jatim Dr. Suko Widodo menyebut pembenahan pada sektor pembangunan SDM melalui pendidikan mutlak harus dilakukan.
Suko melihat fenomena defisit atau kekurangan guru menjadi masalah bagi pendidikan di Indonesia. “Jadi kalau kita lihat adanya fenomena kekurangan guru, sedangkan jumlah guru honorer di Indonesia masih sekian banyak rasanya ini sudah harus menjadi fokus utama pemerintah,” ungkap Suko saat dihubungi RRI Rabu 5 Agustus 2026.
Namun di sisi lain, dengan masih banyak jumlah guru honorer yang masih berjuang untuk memperoleh kesejahteraan, solusi pengangkatan menjadi ASN sudah seharusnya menjadi prioritas. “Nah itu dia sebenarnya yang harus dilakukan sejak kemarin. Karena dengan pendidikan yang tepat kita bisa lebih bersaing juga dengan dunia luar,” ucapnya.
Dirinya menilai dua hal tersebut menjadi sebuah paradoks yang dimana sebenarnya solusi nyata dari permasalahan defisit guru yakni melakukan pengangkatan pada guru honorer. “Oleh karena itu saya sangat mendorong pemerintah untuk melakukan revitalisasi kebijakan maupun anggaran untuk menyelesaikan masalah tersebut,” ungkapnya.
Sementara Pengamat Kebijakan Publik Universitas Airlangga Prof. Dr. Falih Suaedi, Drs., M.Si., mengungkapkan pengangkatan guru honorer menjadi ASN tidak cukup, harus ada seleksi berdasarkan poin yang valid dan valueable. “Tentunya perlu ada seleksi lebih lanjut pada guru honorer agar kualitas pendidikan dapat jauh lebih baik,” ujar Falih.
Selain itu, dirinya melihat permasalahan lain selain kuantitas jumlah pengajar, pemerintah juga perlu melihat aspek kualitas pengajaran di sistem pendidikan di Indonesia. “Input awal itu penting. Pendidikan dasar sangat menentukan proses pengajaran generasi penerus hingga ke jenjang selanjutnya. Tidak bisa kita lihat dari aspek kuantitas saja,” ungkapnya.
Baginya, perwujudan cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilakukan dengan hanya menambah guru, namun perlu adanya penguatan sistem dan materi pembelajaran sejak dasar. Oleh karena itu harapannya kedepan harus ada formulasi yang tepat antara sistem pendidikan terhadap kebutuhan pendidikan yang relevan di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....