Masuki Era Full Digital Mulai 2028, Sony Resmi Akhiri Produksi Game Fisik
- 02 Jul 2026 15:52 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Sony Interactive Entertainment mengumumkan langkah besar yang akan mengubah industri video game. Mulai Januari 2028, seluruh game baru yang dirilis untuk konsol PlayStation tidak lagi diproduksi dalam bentuk cakram fisik. Sebagai gantinya, semua judul baru akan dipasarkan secara eksklusif melalui format digital, baik melalui PlayStation Store maupun kode unduhan yang dijual di toko ritel. Langkah ini menandai dimulainya era full digital bagi ekosistem PlayStation.
Dilansir dari PlayStation Blog, keputusan tersebut diambil karena perubahan perilaku konsumen yang semakin memilih membeli game secara digital dibandingkan media fisik. Sony menyebut transisi ini sebagai langkah alami untuk menyesuaikan diri dengan tren industri hiburan modern sekaligus memusatkan investasi pada inovasi layanan digital dan distribusi game.
Menurut laporan Reuters, sekitar 80 persen penjualan game penuh PlayStation pada tahun fiskal 2025 berasal dari pembelian digital. Angka tersebut menunjukkan bahwa mayoritas pemain kini lebih memilih mengunduh game langsung ke konsol dibanding membeli versi cakram. Kondisi inilah yang menjadi salah satu alasan utama Sony menghentikan produksi media fisik untuk semua game baru mulai 2028.
Sony menegaskan bahwa kebijakan baru ini tidak berlaku surut. Game yang telah dirilis atau dijadwalkan meluncur sebelum Januari 2028 tetap akan tersedia dalam versi fisik maupun digital. Dengan kata lain, koleksi game PlayStation yang sudah beredar di pasaran masih dapat dibeli seperti biasa selama stok tersedia.
Dilansir dari Reuters, setelah memasuki 2028 seluruh judul baru PlayStation hanya akan tersedia melalui PlayStation Store atau retailer yang menjual kode digital. Artinya, pemain tetap bisa membeli game melalui toko fisik, tetapi yang diperoleh bukan lagi keping Blu-ray, melainkan voucher atau kode unduhan untuk diaktifkan di akun PlayStation mereka.
Keputusan ini menuai beragam tanggapan dari komunitas gamer. Sebagian menyambut positif karena distribusi digital memungkinkan pemain melakukan pre-load, mengakses game lebih cepat saat hari peluncuran, serta tidak perlu lagi mengganti cakram ketika berpindah permainan. Selain itu, distribusi digital juga mengurangi biaya produksi, pengemasan, dan pengiriman sehingga dinilai lebih efisien bagi penerbit maupun pengembang.
Namun di sisi lain, tidak sedikit gamer yang menyampaikan kekhawatiran. Dilansir dari Ars Technica, hilangnya media fisik berarti pemain tidak lagi dapat menjual kembali, meminjamkan, atau mengoleksi game dalam bentuk cakram. Isu kepemilikan digital (digital ownership) juga kembali menjadi sorotan karena akses terhadap game sepenuhnya bergantung pada akun, lisensi, dan keberlangsungan layanan digital milik Sony.
Para pemerhati pelestarian video game (game preservation) juga menilai keputusan ini membawa tantangan baru. Tanpa salinan fisik, keberadaan game di masa depan akan semakin bergantung pada server dan kebijakan perusahaan. Jika suatu saat layanan digital dihentikan atau lisensi dicabut, akses terhadap game tertentu dapat menjadi jauh lebih sulit dibanding era media fisik.
Kekhawatiran tersebut semakin menguat setelah Sony juga mengumumkan penutupan PlayStation Store untuk PS3 dan PS Vita secara bertahap.
Meski demikian, langkah Sony dinilai mencerminkan arah industri video game secara keseluruhan. Distribusi digital terus mengalami pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir, didorong oleh koneksi internet yang semakin cepat, kapasitas penyimpanan yang lebih besar, serta perubahan kebiasaan konsumen. Dengan keputusan ini, PlayStation menjadi salah satu platform besar pertama yang secara resmi menetapkan tanggal berakhirnya distribusi game fisik untuk seluruh rilisan baru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....