ITS Hadirkan Mocits Bantu Petani Kelapa Panen Lebih Aman
- 26 Jun 2026 21:23 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Produktivitas perkebunan kelapa Indonesia masih terkendala risiko keselamatan kerja dan rendahnya upah pemanen. Menjawab persoalan itu, dosen Departemen Teknologi ITS, Achmad Syaifudin mengembangkan alat panjat pohon kelapa bernama Moto Climber ITS (Mocits).
Pengembangan alsintan tersebut merupakan permintaan langsung Kementerian Pertanian RI. Inovasi itu ditujukan meningkatkan produktivitas panen kelapa di Indonesia.
"Perancangan ini didasari kebutuhan pertanian Indonesia untuk meningkatkan produktivitas panen kelapa," kata dosen ITS, Achmad Syaifudin, Jumat, 26 Juni 2026. Syaifudin menjelaskan timnya telah mengembangkan tiga prototipe Mocits.
Prototipe pertama masih memiliki keterbatasan komponen, bahan, dan desain. "Rodanya terlalu besar karena dibuat terburu-buru, meski tetap melalui perhitungan," ujarnya.
Prototipe kedua berhasil memanjat pohon, meski bobotnya masih berat dan pergerakannya lambat. Versi tersebut juga dipamerkan kepada Menteri Pertanian.
"Prototipe kedua menjadi wujud pertama yang dipamerkan kepada Pak Menteri Pertanian," kata Syaifudin. Berdasarkan masukan petani, tim ITS mengembangkan prototipe Alpha sebagai versi terbaru.
Alat tersebut telah diuji langsung di Kabupaten Lumajang. "Versi terakhir sudah jauh lebih optimal setelah wawancara dengan para petani," ucapnya.
Mocits terbaru dilengkapi sistem pengereman ganda, sabuk pengaman, dan diameter cengkeram yang dapat disesuaikan. Fitur tersebut meningkatkan keamanan sekaligus efisiensi saat memanen kelapa.
"Pengguna cukup menekan rem dan menarik gas saat naik. Untuk turun, gas dilepas perlahan bersama rem," ujarnya.
Syaifudin menambahkan seluruh komponen dirancang sederhana agar mudah dirawat masyarakat. Penggunaan rantai dipilih karena sudah familier bagi petani desa, dan penggunaan rantai lebih mudah dirawat oleh masyarakat.
Perwakilan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur, Ismatul Hidayah mengapresiasi desain sederhana Mocits. Menurutnya, teknologi harus lebih efisien, aman, dan mudah diterapkan petani.
Petani asal Lumajang, Muhammad Basiran, menilai Mocits lebih efektif dibandingkan metode konvensional. Ia juga mengaku cara penggunaannya mudah dipelajari.
Produksi Mocits didukung Kementerian Pertanian bersama PT Smarttech Reborn 2007. Produk tersebut akan dipasarkan melalui ITS Science Techno Park menuju e-katalog Kementerian Pertanian.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....