Komnas PA Surabaya Ajak Sekolah Lakukan Pengembangan Bakat Berdasarkan Karakter

  • 18 Jun 2026 22:01 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya : Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Kota Surabaya mengajak seluruh sekolah untuk mengembangkan bakat anak sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. Hal tersebut diungkapkan Ketua Komnas PA Kota Surabaya Syaiful Bachri saat diwawancara RRI Kamis 18 Juni 2026.

Syaiful mengatakan ada dua tipe karakteristik yang di miliki anak, yakni hiperaktif dan pasif. Dari dua karakter tersebut menjadi dasar yang di miliki pengajar untuk mengarahkan potensi bakat apa yang cocok bagi anak. “Anak itu punya kecenderungan hobi dan bakat yang berbeda, anak yang aktif dengan yang pasif tentu beda penanganannya, dan itu harus di fasilitasi,” ujarnya.

Ia mencontohkan seperti anak dengan karakteristik hiperaktif perlu di salurkan ke potensi yang relevan seperti olahraga, menari, cheerleader dan sebagainya. “Misal anak yang aktif kalau di beri kegiatan yang banyak diam seperti main catur, atau perlombaan olimpiade, pasti tidak akan betah, idealnya di fasilitasi ikut olahraga atau kegiatan kinestetik,” ungkapnya.

Sebaliknya, pada anak berkarakter pasif menurutnya akan lebih optimal untuk di arahkan ke bidang keahlian non kinestetik seperti akademis, olahraga berfikir seperti catur, dan cabang bakat lainnya. “Sebaliknya jika anak yang pasif juga harus dengan pendekatan yang selaras. Biasanya harus di arahkan ke kegiatan yang mengutamakan IQ,” ucapnya.

Menurutnya dengan pengembangan potensi yang tepat mampu mengeluarkan kemampuan anak dengan maksimal, sehingga dalam jangka panjang setiap anak mampu fokus kepada satu keahlian secara matang dan dapat berkontribusi penuh saat memasuki dunia kerja. “Mungkin efeknya tidak langsung, tapi anak bisa tahu apa yang mereka suka dan bukan tidak mungkin berpengaruh di ranah pekerjaan nantinya,” ujarnya.

Selain itu, dibalik pengembangan potensi anak yang tepat, perlu pendampingan yang tepat pula dari orang tua saat anak berada di rumah. “Tidak bisa hanya tugas guru, tugas tentor di bimbingan belajar atau semacamnya. Masalah ini perlu menjadi tugas bersama termasuk peran orang tua, karena waktu anak lebih banyak di rumah,” ungkapnya.

Terlebih, menurut data dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat bahwa sekitar 40% hingga 42,7% lulusan perguruan tinggi di Indonesia bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusan atau gelar mereka. Ketidaksesuaian sering kali terjadi secara vertikal (berpendidikan lebih tinggi dari tuntutan pekerjaan atau overeducated) maupun horizontal (bekerja di bidang yang sepenuhnya berbeda).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....