Inovasi Mahasiswa ITPLN Deteksi Kebocoran Pipa lewat Telegram

  • 04 Jun 2026 20:08 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Mahasiswa Teknik Elektro ITPLN mengembangkan sistem pendeteksi kebocoran pipa berbasis sensor. Sistem tersebut ditenagai panel surya dan mengirim notifikasi otomatis melalui Telegram.

Riset itu dikembangkan Akmal Nuryadin bersama Dwi Iwan Setiawan dan Achmad Fadly Siregar. Inovasi tersebut menjadi proyek tugas akhir mereka di ITPLN. Akmal menjelaskan alat itu dikembangkan untuk jaringan pipa bercabang. Sistem ini mampu memantau beberapa titik aliran air secara bersamaan.

"Kalau penelitian sebelumnya masih menggunakan jalur pipa utama, kami mengembangkan sistem untuk pipa bercabang," ujarnya, Kamis, 4 Juni 2026. "Jadi ada beberapa titik yang bisa dipantau sekaligus."

Sistem memanfaatkan sensor flowmeter yang dipasang pada sejumlah titik aliran. Sensor bekerja mendeteksi debit air masuk dan keluar secara real time. Data dari setiap sensor kemudian dibandingkan oleh sistem. Selisih debit air menjadi indikasi adanya kebocoran pada jaringan pipa.

"Ketika ada perbedaan debit antara sensor satu dengan lainnya, sistem mendeteksi kebocoran," kata Akmal. "Setelah itu notifikasi langsung dikirim ke Telegram."

Menurut Akmal, Telegram dipilih karena mendukung layanan bot otomatis. Fitur tersebut memudahkan pengiriman peringatan dari sistem monitoring. Dalam pengujian, tim mensimulasikan kebocoran pada beberapa cabang pipa. Hasilnya, sistem mampu mengidentifikasi lokasi kebocoran dengan tepat.

"Ketika kami melakukan simulasi kebocoran, notifikasi yang dikirim sesuai lokasi yang diuji," ucapnya. "Sistem berhasil mengidentifikasi titik kebocoran yang terjadi."

Keunggulan lainnya adalah penggunaan PLTS sebagai sumber energi utama. Sensor, pompa, ESP32, dan relay ditenagai listrik dari panel surya. "Suplai daya utama berasal dari PLTS sehingga tidak bergantung pada pasokan listrik PLN," katanya. "Semua komponen utama mendapatkan energi dari panel surya."

Akmal menilai teknologi ini berpeluang diterapkan di daerah minim akses listrik. Potensi tersebut mencakup kawasan terpencil dan jaringan distribusi air.

Meski masih berupa prototipe, teknologi ini berpotensi diterapkan pada skala lebih besar. Penggunaannya dapat dikembangkan untuk jaringan distribusi air PDAM maupun industri.

"Dari hasil pengujian skala kecil, tingkat akurasinya sudah baik," katanya. "Penerapan di PDAM atau industri sangat memungkinkan dengan penyesuaian komponen."

Akmal mengungkapkan ide penelitian muncul saat menjalani magang di PLTA Saguling, Jawa Barat. Pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya sistem perpipaan bagi operasional pembangkit.

"Saya membaca jurnal tentang tingginya kehilangan air akibat kebocoran pipa," ucap Akmal. "Dari situ muncul gagasan membuat sistem pendeteksi kebocoran yang lebih cepat."

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....