Akademisi UNAIR Soroti Rendahnya Nilai TKA SD dan SMP
- 03 Jun 2026 22:44 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya – Rendahnya hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SD dan SMP memunculkan berbagai tanggapan dari kalangan akademisi maupun masyarakat. Salah satunya datang dari dosen Sosiologi Pendidikan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi.
Menurut Tuti, format soal dalam TKA dirancang menyerupai Programme for International Student Assessment (PISA), yakni pengukuran kemampuan literasi dan numerasi siswa yang dilakukan secara berkala di berbagai negara. Melalui pendekatan tersebut, kemampuan berpikir siswa dapat diukur secara lebih mendalam.
"Nilai skor PISA digunakan untuk mengukur tingkat literasi keilmuan siswa. Seperti membaca, menulis, dan berhitung. Soal-soal TKA dibuat mirip dengan PISA," ujar Tuti, Rabu, 3 Juni 2026.
Ia menilai rendahnya capaian TKA tidak terlepas dari posisi Indonesia yang selama ini masih berada di kelompok bawah dalam peringkat PISA dunia. Kondisi tersebut menunjukkan kemampuan siswa dalam menjawab soal berbasis analisis dan penalaran masih relatif rendah.
"Indonesia selalu berada di ranking bawah untuk skor PISA. Artinya, tingkat kemampuan siswa menjawab soal-soal seperti itu masih rendah," katanya.
Tuti menjelaskan, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah model pembelajaran yang masih didominasi pendekatan hafalan. Padahal, sistem pendidikan di berbagai negara maju saat ini lebih menekankan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS).
"Model pembelajaran yang diberikan selama ini cenderung menghafal. Padahal pendidikan yang berkembang di negara maju lebih menekankan kemampuan berpikir kritis," ucapnya.
Sementara itu, sejumlah orang tua siswa menilai hasil TKA belum dapat dijadikan tolok ukur menyeluruh terhadap kemampuan akademik peserta didik. Salah satunya disampaikan Sony, orang tua siswa, yang membandingkan TKA dengan sistem Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) atau nilai Ebtanas murni pada masa lalu.
Menurut Sony, penilaian yang hanya berfokus pada Matematika dan Bahasa Indonesia dinilai kurang merepresentasikan capaian belajar siswa secara keseluruhan. Ia menilai sistem sebelumnya lebih komprehensif karena mencakup lebih banyak mata pelajaran.
"Kalau memang dikembalikan seperti kurikulum lama, lebih baik menggunakan Danem. Karena ada lima mata pelajaran yang bisa menjadi patokan," ujar Sony.
Perdebatan mengenai hasil TKA tersebut menunjukkan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembelajaran dan asesmen pendidikan. Selain peningkatan kualitas pengajaran, penguatan kemampuan berpikir kritis siswa dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan capaian akademik di tingkat nasional maupun internasional.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....