Bedah Film Pesta Babi, ITS Buka Ruang Diskusi

  • 14 Mei 2026 19:44 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Institut Teknologi Sepuluh Nopember menghadirkan ruang diskusi terbuka di tengah polemik film Pesta Babi. Melalui bedah film, ITS menegaskan komitmennya menjaga ruang dialektika akademik yang konstruktif.

Kegiatan ini digelar Departemen Studi Pembangunan IITS yang diinisiasi Himpunan Mahasiswa Studi Pembangunan sebagai bagian mata kuliah Kajian Agraria. Diskusi menghadirkan Jurnalis Senior Ambrosius Harto Manumoyoso dan Dosen Studi Pembangunan Khairun Nisa. (Icha)

Keduanya membahas isu film dari perspektif akademik dan jurnalisme. Film yang mengangkat konflik agraria di Papua dinilai relevan sebagai studi kasus kebijakan publik.

Menurutnya, diskursus kritis merupakan bagian penting dalam pendidikan tinggi. Dosen yang akrab disapa Icha itu menilai film dapat menjadi media pembelajaran.

Mahasiswa diajak menguji pola pikir yang sistematis, kritis, dan multidimensional. “Setiap kebijakan publik idealnya dirumuskan melalui pendekatan bottom-up,” ujar Icha, Kamis, 14 Mei 2026.

Ia menegaskan aspirasi masyarakat harus menjadi pertimbangan utama pembuat kebijakan. Menurut Icha, kebijakan strategis nasional selalu memiliki trade-off bagi masyarakat.

“Film ini relevan untuk menilai kebijakan melalui tiga dimensi keadilan,” katanya. Ia menjelaskan keadilan sosial mencakup distribusi, representasi, dan rekognisi.

Ketiganya menjadi landasan menilai kebijakan pembangunan secara menyeluruh. Selain itu, Icha menegaskan pentingnya merujuk Pasal 33 Ayat 3 UUD 1945.

Sumber daya alam, katanya, harus dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. “Mahasiswa harus mampu berargumentasi saat menjadi pengambil kebijakan,” katanya.

Kebijakan tidak cukup dinilai dari sisi ekonomi semata. Sementara itu, Ambro menyoroti kekuatan film dokumenter membangun kesadaran publik.

Menurutnya, dokumenter mampu memperluas pemahaman masyarakat terhadap suatu isu. “Provokasi dalam film dokumenter perlu dikritisi secara sehat,” kata Ambro.

Ia menilai provokasi dapat mendorong masyarakat menentukan sikap atas persoalan. Menutup diskusi, Ambro menegaskan kampus adalah ruang eksplorasi gagasan dan kritik.

“Intervensi terhadap kebebasan berpikir dapat melemahkan marwah akademik,” pungkasnya. Melalui forum ini, ITS menegaskan komitmen sebagai ruang akademik terbuka.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....