Dewan Pendidikan Surabaya Soroti Ancaman Gadget dan Narkoba Pelajar
- 05 Mei 2026 15:30 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pemerintah Kota Surabaya resmi memperkenalkan 11 anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya masa bakti 2026-2030. Dewan baru ini langsung dihadapkan pada tantangan serius di dunia pendidikan, mulai dari kecanduan gawai, perundungan, hingga ancaman narkoba di kalangan pelajar.
Anggota Dewan Pendidikan Surabaya, Dr. Jokhanan Kristiyono, menilai tantangan terbesar saat ini adalah kesenjangan pola pikir antara orang tua dan anak-anak generasi digital atau Gen Alpha.
“Tantangan teknologi ini terjadi di semua jenjang pendidikan. Perlu penguatan aturan terkait batas usia penggunaan media sosial dan pengawasan penggunaan gawai di sekolah agar tidak mengganggu proses belajar mengajar,” ungkap Jokhanan, Selasa 5 Mei 2026.
Selain isu digital, Dewan Pendidikan juga menyoroti persoalan sosial seperti anak putus sekolah, siswa di bawah umur yang membawa kendaraan bermotor, hingga pernikahan usia dini yang masih ditemukan di sejumlah wilayah.
Untuk itu, Dewan Pendidikan akan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak serta mendorong pemanfaatan layanan pengaduan Surabaya 112 agar masyarakat turut aktif melaporkan persoalan pendidikan.
“Warga bisa melapor jika ada anak putus sekolah atau kekerasan di lingkungan pendidikan. Kami ingin respons cepat dan tepat sasaran,” tambahnya.
Ke depan, Dewan Pendidikan bersama Dindik Surabaya juga berencana mengembangkan dashboard pemetaan masalah pendidikan di 31 kecamatan. Sistem tersebut diharapkan mampu membantu pemerintah mengambil kebijakan secara cepat dan tepat sasaran.
“Kami ingin memastikan seluruh anak di Surabaya mendapatkan akses pendidikan yang layak dan berkualitas. Karena itu, kami akan terus turun ke lapangan,” pungkas Jokhanan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya, Febrina Kusumawati, mengatakan pihaknya siap bersinergi dengan Dewan Pendidikan untuk menjawab kompleksitas tantangan pendidikan saat ini.
“Anggota Dewan Pendidikan yang baru memiliki latar belakang beragam, mulai dari hukum, komunikasi, IT hingga kesehatan. Tantangan pendidikan saat ini bukan hanya akademik, tetapi juga perlindungan anak, kesehatan mental, dan literasi digital,” ujar Febrina di Surabaya.
Menurutnya, sinergi antara Dindik, Dewan Pendidikan, sekolah, guru, dan orang tua menjadi kunci dalam membangun karakter siswa di tengah derasnya perkembangan teknologi dan media sosial.
“Persoalan seperti perundungan, kecanduan gawai hingga ancaman narkoba sudah nyata di lapangan. Ini harus ditangani bersama,” katanya mengakhiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....