Kenapa Smartphone saat ini Banyak Memakai Baterai Tanam
- 04 Mei 2026 15:10 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Jika Anda mengingat ponsel dari satu dekade lalu, Anda mungkin masih bisa melepas penutup belakang, mencabut baterai, lalu memasangnya kembali dengan mudah. Namun, saat ini hampir semua ponsel pintar yang beredar di pasaran menggunakan baterai tanam (non-removable) yang tidak bisa dilepas secara manual oleh pengguna.
Perubahan besar ini bukan tanpa alasan, melainkan hasil dari berbagai pertimbangan desain, keamanan, dan teknologi yang terus berkembang. Salah satu alasan utama produsen beralih ke baterai tanam adalah untuk menciptakan desain ponsel yang lebih ramping dan premium.
Baterai lepasan membutuhkan rangka plastik pelindung serta mekanisme pengunci yang membuat ponsel menjadi lebih tebal dan terasa kurang kokoh. Dengan baterai tanam, ponsel dapat dirancang dalam konstruksi unibodi yang menyatu, memungkinkan penggunaan material seperti kaca dan logam yang memberikan kesan lebih elegan dan solid di tangan pengguna.
Menurut laman Android Authority, peralihan ke baterai tanam juga memungkinkan produsen memaksimalkan ruang internal ponsel secara lebih efisien. Baterai dapat dibentuk tidak hanya persegi panjang, tetapi juga mengikuti rongga kosong di dalam perangkat, misalnya berbentuk huruf L untuk mengisi ruang di sekitar komponen lain.
Hasilnya, kapasitas baterai bisa lebih besar tanpa harus mempertebal ukuran ponsel secara keseluruhan.
Keunggulan lain yang tidak kalah penting adalah kemampuan ketahanan terhadap air dan debu. Ponsel dengan baterai tanam dapat dirancang dengan bodi yang tertutup rapat tanpa celah, sehingga mendapatkan sertifikasi tahan air seperti IP67 atau IP68.
Sebaliknya, ponsel dengan baterai lepasan memiliki celah pada penutup belakang yang menjadi jalur masuknya air dan debu, meskipun sebenarnya tetap bisa dibuat tahan air dengan desain yang lebih rumit dan tebal.
Dari sisi keamanan, baterai tanam juga memberikan perlindungan lebih baik bagi pengguna. Produsen dapat mengontrol kualitas baterai yang digunakan karena pengguna tidak bisa menggantinya dengan baterai pihak ketiga yang belum teruji.
Sebuah pengujian dari Transport Canada - lembaga yang berfokus pada keselamatan transportasi, efisiensi ekonomi, dan keberlanjutan energi menemukan, bahwa hampir setengah dari baterai non-resmi tidak lolos uji keamanan, bahkan beberapa di antaranya berisiko meledak. Dengan baterai tanam, risiko kecelakaan akibat baterai berkualitas rendah dapat ditekan secara signifikan.
Fitur keamanan lain yang didukung baterai tanam adalah kemampuan pelacakan ponsel saat hilang atau dicuri. Pada ponsel dengan baterai lepasan, pencuri dengan mudah dapat mencabut baterai dan mematikan sumber daya, sehingga fitur pelacakan menjadi tidak berguna.
Sebaliknya, baterai tanam yang tertanam kuat membuat ponsel tetap dapat dilacak meskipun dalam keadaan mati, memberikan kesempatan lebih besar bagi pemilik untuk menemukan perangkatnya.
Dari perspektif keberlanjutan lingkungan, baterai tanam memang memiliki kekurangan karena penggantian baterai yang sulit dapat mendorong pengguna membuang ponsel lebih cepat. Android Authority mencatat bahwa setelah dua tahun pemakaian, kapasitas baterai ponsel umumnya mulai menurun, dan tanpa kemudahan penggantian baterai, pengguna cenderung membeli ponsel baru.
Namun, kabar baiknya, regulasi baru dari Uni Eropa akan mewajibkan produsen untuk merancang baterai yang dapat diganti dengan alat sederhana mulai tahun 2027, sehingga di masa depan kita mungkin akan melihat kembalinya kemudahan penggantian baterai tanpa harus mengorbankan desain ramping dan ketahanan air.
Dengan memahami alasan di balik tren baterai tanam, pengguna kini dapat lebih bijak dalam merawat ponsel dan mempertimbangkan opsi penggantian baterai di pusat layanan resmi saat performanya mulai menurun.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....