Joki UTBK Kian Canggih, Sistem Diperkuat
- 23 Apr 2026 18:57 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Praktik perjokian dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dinilai terus berkembang seiring kemajuan teknologi. Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur, Ali Yussa, menyebut praktik tersebut bukan hal baru dan perlu diantisipasi dengan penguatan sistem serta pengawasan.
“Perjokian UTBK ini sudah ada sejak dulu hingga sekarang. Karena itu, sistem harus terus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan pengawasan diperketat. Kita tidak bisa lagi menggunakan pola lama menghadapi indikasi jaringan perjokian yang semakin berkembang,” ujar Ali Yussa dalam Dialog Aspirasi RRI Pro 1 Surabaya, Kamis (23/4/2026).
Ia menekankan pentingnya standarisasi nasional, mulai dari persyaratan peserta, standar operasional prosedur (SOP), hingga sistem pengawasan dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui skema SNBT.
Selain itu, Ali Yussa juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “inflasi nilai”, yakni kondisi ketika nilai akademik meningkat namun tidak selalu mencerminkan kemampuan riil peserta. Menurutnya, kondisi ini berpotensi mendorong persaingan tidak sehat.
“Ketika nilai tidak lagi mencerminkan kompetensi, sebagian calon mahasiswa bisa tergoda mengambil jalan pintas untuk lolos seleksi,” jelasnya.
Ia menegaskan, penguatan sistem harus diiringi pembentukan karakter. “Karakter, integritas, dan keberlanjutan nilai kejujuran menjadi kunci utama agar peserta tidak tergoda praktik perjokian,” tegasnya.
| Baca juga: UNAIR Siap Gelar UTBK SNBT 2026 21–30 April |
Sementara itu, mantan Rektor Unesa, Prof. Warsono, menilai persoalan tersebut juga berkaitan dengan pendidikan karakter yang dimulai dari lingkungan keluarga.
“Selama ini tantangan kita adalah karakter. Ada paradigma yang keliru bahwa harus masuk sekolah terbaik atau favorit tanpa mempertimbangkan kemampuan. Ketika keinginan tidak seimbang dengan kemampuan, orang bisa melakukan berbagai cara,” ujar Prof. Warsono.
Ia menekankan pentingnya nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan integritas sebagai modal sosial generasi muda untuk mencegah praktik kecurangan.
“Nilai-nilai itu harus menjadi tameng agar generasi muda tidak mudah tergoda berbuat curang,” tambahnya.
Warsono menegaskan, pencegahan perjokian tidak bisa dilakukan secara parsial. Kolaborasi antara keluarga, lembaga pendidikan, dan pemerintah diperlukan, termasuk melalui penguatan regulasi, pengawasan, serta pendidikan karakter secara berkelanjutan.
Pelaksanaan UTBK sendiri setiap tahun diikuti ratusan ribu peserta secara nasional, sehingga aspek integritas dan kejujuran menjadi kunci dalam menjaga kualitas seleksi masuk perguruan tinggi negeri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....