Evolusi Audio Masa Lalu dari Piringan Hitam hingga Kaset

  • 14 Apr 2026 10:32 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Di tengah gempuran layanan musik streaming yang serba praktis, benda-benda fisik seperti piringan hitam, pita magnetik, dan kaset tampak seperti anomali bagi generasi masa kini. Padahal, benda-benda ini bukan sekadar alat pemutar musik, melainkan saksi bisu perkembangan teknologi audio dan industri kreatif Indonesia dari masa ke masa.

Perjalanan rekaman suara di Indonesia mencapai salah satu puncaknya pada era piringan hitam (vinyl). Di Galeri Tri Prasetya RRI Surabaya masih terpajang apik piringan hitam berwarna biru ikonik rilisan Remaco Record bertajuk "Aneka 12" yang memuat karya-karya legendaris.

Piringan hitam ini menawarkan kualitas suara yang sulit ditiru oleh format digital. Di masa itu, memiliki piringan hitam adalah simbol status sosial dan bentuk apresiasi tertinggi terhadap karya musik.

Hanya orang-orang elit yang sanggup membeli turntable dan piringan hitam karena harganya relatif mahal. Kalangan ekonomi menengah ke bawah biasanya menikmati musik dari radio.

Selain piringan hitam, koleksi Galeri Tri Prasetya juga menampilkan reel-to-reel tape atau pita magnetik terbuka. Teknologi yang dipopulerkan oleh merk seperti Scotch ini sempat menjadi standar emas di studio rekaman sebelum beralih ke format yang lebih ringkas.

Pita magnetik memungkinkan proses penyuntingan suara dilakukan secara fisik dengan memotong dan menyambung pita, sebuah ketelitian yang menjadi cikal bakal teknik produksi musik modern.

RRI Surabaya sendiri memanfaatkan pita magnetik sejak tahun 1955 sampai 2005, pita ini juga dimanfaatkan stasiun televisi untuk mengumpulkan berita, timeshift dan merekam konten tanpa harus menggunakan atau mengembangkan stok film sekali pakai yang relatif mahal dan memungkinkan untuk digunakan kembali.

Kemudian di awal tahun 60-an muncul kaset, dilansir dari teropongdaily.com kaset pertama kali diperkenalkan oleh Phillips pada tahun 1963 di Eropa dan tahun 1964 di Amerika Serikat, dengan nama Compact Cassette. Kemudian kaset semakin populer di industri musik selama tahun 1970-an dan perlahan-lahan menggeser piringan hitam.

Produksi besar kaset diawali pada tahun 1964 di Hanover, Jerman. Penemuan ini menjadi jawaban kalangan menengah-bawah atas keinginan mereka mendengarkan lagu favorit.

Kaset mulai masuk ke Indonesia awal 1970-an dan langsung mendapat sambutan baik. Meski kualitas suara yang dihasilkan konon tak sebagus vinil, kekurangan itu tertutupi oleh harga yang jauh lebih murah dan ringkas.

Kaset mengubah cara masyarakat menikmati musik, dari yang sebelumnya harus diam di ruang tamu mendengarkan pemutar piringan hitam yang besar, menjadi bisa dibawa ke mana saja menggunakan walkman. Harganya yang lebih terjangkau dibanding piringan hitam membuat musik bisa dinikmati oleh berbagai lapisan masyarakat.

Ingin melihat alat rekam dari masa lalu lainnya? Galeri Tri Prasetya RRI Surabaya selalu terbuka lebar bagi masyarakat ataupun komunitas untuk datang berkunjung dan melihat-lihat langsung koleksi alat rekam jadul dari masa ke masa. Koleksi-koleksi ini tetap dirawat sebagai pengingat bahwa kemudahan akses musik saat ini merupakan buah dari perjalanan panjang inovasi teknologi masa lalu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....