Modus Baru Penipuan Telepon Hening Manfaatkan Teknologi AI
- 30 Mar 2026 18:24 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap modus penipuan digital terbaru yang dikenal dengan istilah “Panggilan Hening”. Modus ini dinilai sangat berbahaya karena memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk meniru suara korban hanya dari rekaman singkat saat menjawab telepon. Imbauan ini disampaikan oleh Jamaludin Effendy, Dosen Fakultas Teknik Informatika dari Surabaya, dalam wawancara dengan Pro1 pada Senin, 30 Maret 2026.
Jamaludin Effendy menjelaskan bahwa modus ini bermula dari panggilan telepon yang tampak biasa, namun sebenarnya menyimpan jebakan. “Hati-hati dengan Modus Penipuan Baru yakni Panggilan Hening,” tegasnya saat memberikan peringatan kepada masyarakat.
Ia mendeskripsikan bahwa panggilan tersebut umumnya berasal dari nomor tidak dikenal dan tidak menimbulkan suara apa pun saat diangkat. “Panggilan hening ini adalah suatu panggilan masuk atau menerima panggilan dari nomor tidak dikenal, namun saat diangkat tidak ada suara sama sekali,” jelasnya.
Menurut Jamaludin, kesalahan yang sering dilakukan masyarakat adalah menganggap panggilan tersebut sebagai gangguan teknis atau sinyal. Padahal, pelaku justru memanfaatkan momen tersebut untuk merekam respons spontan korban. “Dengan menggunakan metode ini, si pelaku sengaja tetap diam untuk merekam suara korban saat secara spontan mengucapkan ‘halo’ atau memberikan respon lainnya,” ujarnya.
Rekaman singkat tersebut kemudian digunakan sebagai bahan untuk membuat tiruan suara dengan teknologi AI. Hasilnya, suara palsu yang dihasilkan dapat sangat mirip dengan suara asli korban. “Suara palsu ini selanjutnya digunakan untuk menipu keluarga atau kerabat, misalnya dengan berpura-pura mengalami keadaan darurat dan meminta transfer uang atau bantuan lainnya,” ungkap Jamaludin.
Modus penipuan ini kerap memanfaatkan skenario darurat untuk memancing kepanikan korban. Pelaku bisa berpura-pura mengalami kecelakaan, ditahan pihak berwajib, atau membutuhkan biaya medis mendesak. Dalam situasi panik, keluarga korban cenderung langsung mengirimkan uang tanpa melakukan verifikasi lebih lanjut.
Perkembangan teknologi AI disebut menjadi faktor utama meningkatnya risiko penipuan ini. Jamaludin menegaskan bahwa pemalsuan suara kini semakin mudah dilakukan. “Saat ini suara manusia bisa dipalsukan hanya dengan 3–10 detik sampel. Itu sangat berbahaya,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa bahkan aplikasi gratis mampu menghasilkan tiruan suara yang meyakinkan.
Untuk menghindari jebakan ini, masyarakat diminta untuk lebih berhati-hati saat menerima panggilan dari nomor asing. “Ketika kita menerima panggilan dari nomor asing atau tidak dikenal dengan keadaan hening, jangan langsung berbicara. Sebaiknya tutup saja panggilan tersebut,” katanya. Ia juga menyarankan agar masyarakat memblokir nomor mencurigakan dan melakukan verifikasi ganda saat menerima panggilan darurat. “Tetaplah waspada dan lindungi diri dari modus penipuan yang semakin canggih seiring perkembangan teknologi,” katanya mengakhiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....