Mahasiswa Ubaya Ciptakan Tas Ramah Lingkungan Berbahan Serabut Kelapa

  • 28 Mar 2026 14:03 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Empat Mahasiswa Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya), menciptakan tas dengan bahan serabut kelapa. Mereka adalah Emily Jocelyn, Johan Febriawan, Tutik Masruroh, dan Jibrail Fajar.

Dilengkapi aksesoris gantungan berisi 5 jenis biji bunga, produk tas ini merupakan tugas kelompok untuk memenuhi mata kuliah Sustainability Concept. Yang dibimbing oleh Dr. Christabel Annora Paramita Parung, M.Sc.

Inovasi ini bermula dari keprihatinan Johan dan kawan-kawan terhadap kondisi lingkungan yang terus mengalami degradasi. Salah satunya akibat perkembangan industri mode dan pakaian.

Tidak hanya tingkat konsumsi energi yang tinggi, industri ini turut menyumbang konsentrasi sampah yang sangat besar. Mereka berinisiatif untuk mencari bahan alternatif pengganti kulit dengan versi yang lebih ramah lingkungan.

“Kami akhirnya sepakat untuk menggunakan serabut kelapa. Selain karena Indonesia merupakan salah satu negara penghasil serabut kelapa terbesar di dunia, harganya juga sangat murah dan bahannya kuat. Motif dan teksturnya juga sangat unik,” tutur Johan, Sabtu 28 Maret 2026.

Johan dan tim kemudian melakukan eksplorasi pengolahan serabut kelapa untuk mendapatkan tekstur dan ketahanan yang diinginkan. Untuk menambah nilai estetika dan keunikannya, mereka menambahkan aksesoris gantungan berisi bibit bunga matahari, celosia, anyelir, forget me not, dan baby’s breath.

“Selain bahan baku, kami memastikan bahan perekatnya juga tetap ramah lingkungan. Ketika tas ini sudah rusak dan tidak dapat digunakan, tas dapat ditanam dan diuraikan secara natural oleh alam. Kemudian, bibit-bibit bunganya dapat tumbuh,” lanjutnya.

Tantangan terbesar dalam menciptakan tas ramah lingkungan ini terletak pada proses pengeringan yang masih bergantung sepenuhnya pada cahaya matahari. Tidak hanya itu, proses menjahit lembaran menjadi tas juga sangat sulit karena masih dilakukan manual dengan jahit tangan.

“Ketika kami mengerjakan tas ini, kebetulan sedang musim hujan. Jadi, proses pengeringannya menjadi jauh lebih lama,” papar Johan.

Meskipun belum memiliki rencana komersialisasi atau produksi dalam skala besar, Johan dan tim berharap inovasi yang telah mereka hasilkan dapat memantik ide-ide yang ramah lingkungan dari para pegiat fesyen di Indonesia.

“Kita di Indonesia memiliki banyak sumber daya yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan fesyen yang ramah lingkungan sebenarnya. Tinggal inisiatif dan berani untuk melakukan eksperimen dalam pemanfaatannya,” tutup Johan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....