Roemah Bhinneka dan Untag Surabaya Gelar Diskusi Kebangsaan
- 05 Des 2022 19:54 WIB
- Surabaya
KBRN, Surabaya: Diskusi ilmiah di gelar Roemah Bhinneka dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Senin (5/12/2022). Diskusi ini mengambil tema Menggali Mutiara Bijak Bestari untuk Memperkokoh Persatuan Bangsa.
Ada berbagai pembicara yang hadir yakni Ketua Umum Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyah (NWDI), TGB HM Zainul Majdi, Ketua I PGIW Jawa Timur, Pdt Andri Purnawan MTS, hingga Dewan Pembina Islam Nusantara Foundation Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, M.A.
Dalam pemaparannya TGB menyampaikan keberagaman di Indonesia kerap memicu perpecahan, tak terkecuali perbedaan agama yang kerap dijadikan kepentingan beberapa golongan. Dia menyebut jika agama menjadi yang kerap didzalimi, khususnya menjelang tahun politik.
Menurutnya, nilai-nilai kemuliaan agama tak sepatutnya dipakai untuk kepentingan mendapatkan kekuasaan. Artinya, tidak diperbolehkan bagi siapapun mereduksi kemuliaan agama pada kontestasi politik.
"Agama itu paling sering didzalimi, khususnya menjelang kontestasi politik," ujar TGB di sela Diskusi di Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya.
Ia menjelaskan, kemuliaan agama itu melingkupi seluruh bangsa. Nilai-nilai mulianya harus dibawa, dan tidak untuk kepentingan mendapatkan kekuasaan.
"Mengklaim bahwa inilah yang paling agamis, inilah representasi dari agama A, agama B. Padahal, tidak boleh kita mereduksi kemuliaan agama hanya pada kontestasi-kontestasi politik," jelasnya.
Di kesempatan sama, TGB juga menyampaikan bahwa kesadaran akan keberagamaan adalah sesuatu yang sudah fitri dalam manusia, khususnya di Indonesia.
Namun perlu digarisbawahi, bahwa sesuatu yang sudah ada bukan berarti tidak perlu dijaga.
"Karena itu, upaya-upaya seperti yang dilaksanakan rumah bhineka ini sengaja membuat perjumpaan antar anak bangsa yang berbeda-beda dari beragam komponen untuk bicara tentang persatuan, kerukunan, kebersamaan. Menurut saya perlu kita perbanyak, itu memang kebutuhan bangsa kita," ujarnya.
Selanjutnya, dalam beberapa tahun ke depan, Indonesia juga bakal menghadapi agenda-agenda demokrasi.
Di situ, rentan terjadi perbedaan pilihan dan pandangan, sehingga persaudaraan yang terjalin bisa saja menjadi rusak.
Mengantisipasi itu, TGB menyebut bahwa perlu adanya memperbanyak perjumpaan. Tak sekedar perjumpaan saja, namun juga diisi dengan banyak perspektif.
"Intinya adalah kita sama-sama menjaga, berusaha menghadirkan persaudaraan yang bukan dibuat-buat dan sementara, tapi karena sadar bahwa kita ini memang harus menjaga persaudaraan," urainya.
Sementara itu, Ketua I PGIW Jawa Timur, Pdt Andri Purnawan MTS mengungkapkannya kemanusiaan kerap mendahului keagamaan, sama halnya dengan kenegaraan dan keagamaan yang kerap menjadi problematika.
"Perlu teologi publik untuk membangun persatuan saat ini. Bukan bicara apa yang bisa dilakukan agama untuk publik , tetapi apa yang dibutuhkan publik untuk bersama-sama kita bantu," ungkapnya.
Ia menegaskan tokoh agama memiliki peran kritis untuk menjadi teladan moral dan menunjukkan kerelaan untuk melintasi batas agama.
"Dengan demikian agama memiliki benteng dari penguasa politik dan pemecah populis yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan," katanya.
Sedangkan Ketua Roemah Bhinneka, Iryanto Susilo menyebut diskusi ilmiah kebangsaan sebagai bentuk kerjasama antar umat dari beragam agama, suku dan budaya. Dengan toleransi dan kerjasama yang terbangun dengan baik, kerukunan antar masyarakat di Indonesia akan terbentuk.
"Darurat (intoleran) banget enggak. Tapi toleransi dan kerjasama harus dibangun. Harapannya mahasiswa bisa meresapi dan mencotoh juga meneladani tokoh-tokoh nasional dalam diskusi," terangnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....