Cross Musea Pertiwi 2026, Suguhkan AI, Wayang, dan Perjalanan Hidup Manusia
- 03 Jun 2026 11:55 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Teknologi kecerdasan buatan (AI), immersive room, hingga fitur foto interaktif bersama Dr. Soetomo menjadi daya tarik utama dalam pameran Cross Musea Pertiwi 2026
- Pameran ini merupakan kolaborasi Museum Etnografi Universitas Airlangga, Museum Mpu Tantular Sidoarjo, dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta
- Selama pameran berlangsung, Pemkot Surabaya menargetkan keterlibatan aktif pelajar dengan mengundang sekitar delapan sekolah setiap hari. Masing-masing sekolah akan mengirimkan 30 hingga 50 siswa untuk mengikuti tur edukatif
RRI.CO.ID, Surabaya - Teknologi kecerdasan buatan (AI), immersive room, hingga fitur foto interaktif bersama Dr. Soetomo menjadi daya tarik utama dalam pameran Cross Musea Pertiwi 2026 yang dibuka Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya di Museum Dr. Soetomo, Kompleks Gedung Nasional Indonesia (GNI). Pameran yang berlangsung hingga 14 Juni 2026 itu menghadirkan cara baru menikmati museum dengan memadukan koleksi sejarah, budaya, dan teknologi digital.
Melalui berbagai instalasi interaktif tersebut, pengunjung diajak menelusuri perjalanan hidup manusia dari lahir hingga akhir hayat. Narasi itu dikemas melalui tema “Pertiwi, Penghormatan untuk Bumi Indonesia” yang menyoroti hubungan manusia dengan tanah sebagai sumber kehidupan.
Pameran ini merupakan kolaborasi Museum Etnografi Universitas Airlangga, Museum Mpu Tantular Sidoarjo, dan Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Ketiganya menghadirkan koleksi yang saling melengkapi untuk menggambarkan tradisi, identitas, dan nilai kehidupan masyarakat Nusantara.
Selain teknologi AI, pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai tradisi budaya seperti mitoni atau tujuh bulanan, khitanan, hingga koleksi wayang yang merepresentasikan perjalanan hidup manusia. Pendekatan tersebut diharapkan membuat museum lebih dekat dengan generasi muda.
Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Surabaya, Herry Purwadi, mengatakan tema Pertiwi dipilih untuk mengingatkan masyarakat tentang hubungan yang tidak terpisahkan antara manusia dan bumi. “Melalui tema ini, kita diajak semakin mencintai bumi, menjaga kelestariannya, serta hidup selaras dengan alam. Pada akhirnya manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Karena itu, bumi pertiwi merupakan warisan yang harus kita jaga bersama,” kata Herry.
Menurutnya, pameran ini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah, budaya, dan perjuangan bangsa melalui museum sebagai ruang belajar yang menyenangkan. “Kami berharap pameran ini dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap sejarah, budaya, dan perjuangan bangsa melalui museum sebagai ruang belajar yang menyenangkan,” ujarnya.
Kepala UPTD Museum dan Gedung Seni Balai Budaya Kota Surabaya, Saidatul Ma’munah, menjelaskan pameran dirancang untuk menghidupkan kembali fungsi museum sebagai ruang edukasi publik yang inklusif dan relevan dengan perkembangan zaman. Menurutnya, tema Pertiwi menghadirkan refleksi tentang perjalanan manusia melalui berbagai ritual dan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat.
Narasi tersebut diterjemahkan melalui koleksi, visualisasi digital, dan pengalaman interaktif agar lebih mudah dipahami, khususnya oleh kalangan pelajar. “Melalui penyajian berbasis visual dan teknologi, kami berharap pesan yang disampaikan museum dapat lebih mudah dipahami dan diingat oleh generasi muda,” tutur Saida.
Selama pameran berlangsung, Pemkot Surabaya menargetkan keterlibatan aktif pelajar dengan mengundang sekitar delapan sekolah setiap hari. Masing-masing sekolah akan mengirimkan 30 hingga 50 siswa untuk mengikuti tur edukatif dan berbagai aktivitas pembelajaran yang telah disiapkan.
Perwakilan Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Yashika Sidik Pradhana, menilai tema Pertiwi menjadi ruang refleksi untuk memaknai kembali tanah air sebagai sumber peradaban dan identitas bangsa. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas museum dalam upaya pelestarian budaya.
“Sinergi lintas museum ini menunjukkan bahwa museum bukan sekadar tempat menyimpan jejak masa lalu, melainkan juga ruang dialog yang dinamis. Melalui berbagai koleksi yang dipamerkan, pengunjung diajak memahami keberagaman budaya sekaligus merefleksikan hubungan manusia dengan alam, sejarah, dan kemanusiaan,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....