Persiapan Matang Kunci Haji Lancar

  • 26 Mei 2026 20:27 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Plt Kepala Kanwil Kemenhaj Jatim, Mohammad As'adul Anam, menilai persiapan yang matang menjadi faktor utama kelancaran pelaksanaan ibadah haji 2026 atau 1447 Hijriah, terutama saat puncak ibadah haji berlangsung di tengah suhu panas ekstrem yang mencapai 47 derajat celsius.

Menurut As'adul Anam, tantangan pelaksanaan haji tahun ini sebenarnya tidak jauh berbeda dibanding musim haji sebelumnya, khususnya berkaitan dengan cuaca panas dan tingginya mobilitas jemaah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.

“Tantangannya masih sama, terutama suhu panas ekstrem. Tetapi persiapan tahun ini jauh lebih matang sehingga pelayanan terhadap jemaah bisa berjalan lebih baik,” ujarnya saat diwawancarai RRI Surabaya, Selasa, 26 Mei 2026.

Ia mengatakan, pendekatan terhadap kelompok rentan seperti lansia, difabel, dan perempuan dilakukan lebih optimal sejak sebelum keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci. Pendampingan tersebut dinilai membantu jemaah menjalankan ibadah dengan lebih aman dan tertata.

“Pendekatan kepada jemaah rentan dilakukan sangat matang sehingga berbagai keluhan berat dari jemaah dapat diminimalkan,” katanya.

Berdasarkan data Kementerian Agama RI, suhu di Arab Saudi saat puncak ibadah haji tahun ini diperkirakan mencapai 47 derajat celsius. Kondisi tersebut membuat pemerintah memperkuat layanan kesehatan dan pendampingan bagi jemaah risiko tinggi, terutama lansia dan difabel.

As'adul Anam menjelaskan, persiapan pelaksanaan haji dilakukan secara menyeluruh mulai dari proses karantina, keberangkatan, kedatangan di Arab Saudi, hingga pelaksanaan ibadah haji. Pemerintah juga memperkuat pembekalan kesehatan, pemeriksaan fisik, mental, dan psikologis calon jemaah sebelum diberangkatkan.

Selain itu, pelayanan jemaah tahun ini juga diperkuat melalui sistem syarikah atau perusahaan layanan haji di Arab Saudi yang membantu koordinasi pelayanan jemaah mulai dari akomodasi, konsumsi, hingga mobilitas selama berada di Tanah Suci.

“Pendampingan berbasis syarikah membuat pelayanan lebih terstruktur sehingga kebutuhan jemaah bisa lebih cepat ditangani,” ujarnya.

Pemerintah pada musim haji 1447 Hijriah juga menerapkan sejumlah skema pelayanan seperti murur dan tanazul guna membantu mobilitas jemaah saat menghadapi kepadatan di Muzdalifah dan Mina. Skema tersebut diprioritaskan bagi jemaah lansia dan kelompok risiko tinggi agar pelaksanaan ibadah berjalan lebih aman dan tertib.

Kementerian Agama RI sebelumnya juga mencatat mayoritas jemaah haji Indonesia tahun ini masih didominasi kelompok lanjut usia sehingga pendekatan pelayanan berbasis kesehatan dan pendampingan menjadi prioritas utama selama operasional haji berlangsung.

As'adul Anam mengakui, hingga pelaksanaan puncak ibadah haji berlangsung, belum ditemukan keluhan berat dari jemaah. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan berbagai pembenahan pelayanan mulai memberikan hasil positif.

“Persiapan yang matang akhirnya mewujudkan pelayanan yang jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ucapnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....