Recehan Keleso Antarkan Ema Della menuju Tanah Suci

  • 14 Mei 2026 22:55 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Langkahnya memang tak lagi sekuat dulu. Rambutnya pun telah memutih dimakan usia. Namun, sorot mata Aisyah Ismail atau yang akrab disapa Ema Della tetap memancarkan semangat yang tak pernah redup. Di usianya yang ke-87 tahun, warga Desa Lamahala Jaya, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur itu akhirnya menapaki perjalanan yang selama puluhan tahun hanya ia simpan dalam doa: berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Bagi banyak orang, perjalanan haji identik dengan kesiapan finansial yang besar. Namun bagi Ema Della, ongkos menuju Baitullah terkumpul dari cara yang sederhana, bahkan nyaris tak terbayangkan. Ia menabung sedikit demi sedikit dari hasil berjualan keleso, jajanan tradisional khas daerahnya yang dibuat dengan tangan sendiri setiap hari.

Di rumah sederhananya, aroma daun kelapa dan adonan keleso kerap memenuhi udara sejak pagi. Dengan telaten, perempuan renta itu meracik adonan, membungkusnya satu per satu, lalu menjajakan hasil buatannya. Nominal yang ia dapatkan memang tak seberapa, hanya recehan kecil dari hasil jualan harian. Namun, recehan itu tak pernah ia pandang remeh. “Uangnya hanya recehan kecil setiap hari. Tapi saya yakinkan hati, sedikit demi sedikit pasti cukup jika Allah mengizinkan,” ujarnya lirih, penuh keyakinan.

Rutinitas itu terus ia jalani meski usia terus bertambah dan tenaga tak lagi prima. Tidak ada keluhan yang terucap. Baginya, setiap keleso yang terjual adalah bagian dari ikhtiar menuju panggilan suci. “Saya percaya rezeki haji bukan soal harta banyak, tapi niat yang tulus dan kesabaran menanti waktunya,” kata Ema Della sambil tersenyum haru.

Hari demi hari, tabungan kecil itu terus bertambah. Butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya jumlahnya cukup untuk membiayai keberangkatannya. Penantian panjang itu pun berbuah manis saat namanya tercatat sebagai jemaah lanjut usia tertua di Kloter 80 NTT Embarkasi Surabaya.

Suasana haru pecah saat Ema Della dilepas menuju Jeddah pada Rabu malam, 13 Mei 2026. Di tengah keramaian bandara, anak, cucu, hingga cicit mengiringi langkahnya dengan pelukan dan doa. Wajahnya terlihat tenang, seolah seluruh penantian panjang itu kini terbayar lunas oleh panggilan Ilahi.

Tak hanya keluarga, warga Desa Lamahala Jaya pun turut mengantar kepergiannya. Banyak yang tak kuasa menahan air mata melihat perjuangan nenek sederhana itu akhirnya sampai pada titik yang diimpikan. “Semua terharu, beliau benar-benar menginspirasi kami. Berangkat haji dengan uang recehan dari jualan keleso,” ujar salah seorang warga yang ikut melepas keberangkatannya.

Kisah Ema Della menjadi pengingat bahwa mimpi besar tak selalu diraih dengan cara yang megah. Dari keleso, doa, dan ketekunan yang tak pernah putus, ia membuktikan bahwa ketulusan hati dan kesabaran mampu membuka jalan menuju cita-cita. Di usia senjanya, Ema Della telah menorehkan pelajaran berharga: bahwa panggilan suci bukan semata soal kemampuan materi, melainkan soal keyakinan untuk terus berikhtiar hingga waktu terbaik itu tiba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....