Jamaah Haji Indonesia Siap Menuju Armuzna

  • 01 Jun 2025 19:26 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Seluruh jemaah haji Indonesia tahun 1446 H/2025 M telah tiba di Tanah Suci. Sebanyak 203.149 jemaah reguler tergabung dalam 525 kloter dan kini memasuki masa tenang.

"Alhamdulillah, seluruh jemaah haji Indonesia sudah berada di Kota Makkah dalam keadaan aman dan sehat," ujar Sekjen Kemenag, Kamaruddin Amin di Makkah, Minggu (1/6/2025).

"Ini capaian besar yang patut disyukuri. Saatnya memperkuat kesiapan fisik, mental, dan spiritual para jemaah."

Puncak ibadah haji dimulai dengan pemberangkatan ke Arafah pada 8 Zulhijjah 1446 H atau 4 Juni 2025. Kamaruddin mengimbau jemaah fokus menyiapkan diri jelang fase Armuzna. "Kurangi aktivitas di luar tenda atau hotel. Istirahat cukup, jaga kebersihan, dan perbanyak konsumsi air putih," kata Kamaruddin.

Hari ini, layanan Bus Shalawat dihentikan sementara. Layanan akan kembali aktif pada Selasa, 14 Zulhijjah 1446 H pukul 00.00 WAS. Jemaah diimbau beribadah di hotel dan tidak keluar ruangan kecuali untuk keperluan mendesak. Ini demi menjaga kondisi fisik jelang puncak ibadah.

Menjelang Armuzna, katering hotel diganti dengan makanan siap saji (ready to eat). Distribusi dilakukan bertahap untuk 6 kali makan. Rinciannya: 7 Zulhijjah (3 kali makan), 8 Zulhijjah (1 kali makan), dan 13 Zulhijjah (2 kali makan). Semua makanan siap dikonsumsi.

"Nasi bisa direndam air 5–10 menit sebelum disantap. Lauk dapat langsung dimakan tanpa pemanasan," ucap Kamaruddin.

Setelah dibuka, makanan tidak boleh disimpan ulang untuk menjaga kesehatan. Jemaah diminta memperhatikan hal ini dengan serius. Selama di Armuzna, jemaah akan menerima 15 kali makan dan 1 snack berat. Rinciannya: 5 kali makan di Arafah, 1 snack di Muzdalifah, dan 10 kali makan di Mina.

"Makanan dirancang sesuai kebutuhan gizi dan kondisi medan selama puncak ibadah haji," ujar Kamaruddin.

PPIH Arab Saudi menerapkan dua skema pergerakan jemaah: murur dan tanazul. Kedua skema bertujuan mengurai kepadatan di Muzdalifah dan Mina. Murur adalah pergerakan jemaah dari Arafah melewati Muzdalifah tanpa turun dari kendaraan. Jemaah langsung menuju Mina untuk lempar jumrah dan mabit.

Skema murur diterapkan bagi jemaah lansia, disabilitas, dan yang uzur. Sekitar 50.000 jemaah diperkirakan ikut skema ini. Tanazul adalah pemulangan lebih awal ke hotel di Makkah setelah lempar jumrah aqabah. Tujuannya mengurangi kepadatan di tenda Mina.

Sekitar 30.000 jemaah dari sektor Syisyah dan Raudhah dijadwalkan mengikuti tanazul. Mereka tidak kembali ke Mina setelah lempar jumrah.

Bagi jemaah yang sakit dan tak bisa wukuf secara reguler, PPIH menyiapkan layanan safari wukuf. Mereka akan dibawa ke Arafah menggunakan ambulans.

Jemaah menetap sejenak di Arafah untuk memenuhi rukun wukuf. Ini demi menjamin pelaksanaan ibadah haji mereka secara sah. Bagi jemaah yang wafat sebelum wukuf, akan dilakukan badal haji oleh petugas resmi. "Hak mereka tetap dijamin secara syariat," ujar Kamaruddin.

Pemerintah menyiapkan 8 pos kesehatan di Arafah dan 8 pos di Mina. Jemaah dapat mengakses layanan ini selama puncak haji. "Ada pos mobile di jalur atas dan bawah Jamarat. Kami juga menyiagakan 15 ambulans standar medis."

Kamaruddin mengajak jemaah tetap kompak, patuh pada petugas, dan memperbanyak doa. "Semoga seluruh jemaah meraih haji mabrur dan kembali selamat ke Tanah Air," katanya mengakhiri.


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....