Sterilisasi pada Kucing Sangat Bermanfaat, Mengapa masih ada Pro Kontra?
- 24 Jun 2026 03:22 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Program sterilisasi kucing atau spay-neuter selama ini dianggap sebagai salah satu cara paling efektif untuk mengendalikan populasi kucing liar dan meningkatkan kesehatan hewan peliharaan. Tetapi, di tengah kampanye yang terus digalakkan oleh dokter hewan dan komunitas pecinta kucing, masih ada sebagian masyarakat yang menolak atau merasa ragu untuk mensterilkan kucing mereka.
Salah satu alasan yang paling sering muncul adalah kekhawatiran terhadap risiko operasi. Menurut dokter hewan Rhiannon Koehler dalam artikel Cat Neuter Surgery: What It Is, Preparation, and Recovery yang diterbitkan PetMD.com pada 2025, sebagian pemilik khawatir kucing mereka mengalami komplikasi pasca operasi.
Padahal, sterilisasi merupakan prosedur yang umum dilakukan dan relatif aman apabila dikerjakan oleh dokter hewan yang kompeten. Meski demikian, risiko kecil seperti infeksi atau reaksi terhadap obat bius tetap ada sehingga menjadi sumber kekhawatiran sebagian pemilik.
Selain faktor kesehatan, sebagian orang menolak sterilisasi karena alasan emosional. Banyak pemilik mengaku merasa tidak tega karena menganggap sterilisasi sebagai tindakan yang menghilangkan hak alami hewan untuk berkembang biak. Bahkan ada yang menyebut sterilisasi sebagai tindakan yang "tidak manusiawi", meskipun pandangan tersebut tidak didukung oleh mayoritas dokter hewan.
Faktor budaya dan keyakinan juga turut memengaruhi. Sebuah artikel yang dimuat The Washington Post pada 2025 menjelaskan bahwa di beberapa negara Eropa seperti Norwegia dan Jerman, sterilisasi hewan peliharaan tanpa alasan medis masih menjadi perdebatan etis.
Sebagian kelompok beranggapan bahwa tindakan tersebut adalah bentuk intervensi yang tidak perlu terhadap tubuh hewan. Meski demikian, artikel tersebut juga menegaskan bahwa sebagian besar organisasi dokter hewan di negara lain tetap mendukung sterilisasi karena manfaatnya lebih besar dalam mengendalikan populasi dan mencegah penyakit tertentu.
Alasan lain terkait ekonomi juga tidak bisa diabaikan. Sejumlah pemilik mengaku menunda sterilisasi karena biaya operasi yang dianggap cukup mahal. Walaupun banyak organisasi penyelamat hewan menyediakan program sterilisasi murah (bakti sosial) atau gratis, namu tidak semua masyarakat mengetahui informasi tersebut atau memiliki akses yang mudah terhadap layanan tersebut. Terkadang juga karena kuota yang disediakan terbatas sehingga belum dapat mengakomodasi jumlah pemilik hewan yang berminat untuk mendaftar.
Di sisi lain, sebagian pemilik masih percaya pada berbagai mitos yang beredar. Menurut pakar reproduksi hewan Bruce W. Christensen yang dikutip dalam laporan DVM360 pada 2024. yang dipublikasikan dalam www.dvm360.com , masih ada anggapan bahwa semua hewan harus berkembang biak setidaknya sekali sebelum disterilkan atau sterilisasi selalu berdampak buruk bagi kesehatan. Christensen menegaskan bahwa keputusan sterilisasi sebaiknya didasarkan pada kondisi masing-masing hewan dan konsultasi dengan dokter hewan, bukan berdasarkan mitos yang beredar di masyarakat.
Meski terdapat berbagai alasan penolakan, banyak pakar hewan tetap menekankan manfaat sterilisasi. Menurut organisasi non profit The Animal Medical Center dalam panduannya pada artikel berjudul Spaying & Neutering in Cats (2024), sterilisasi membantu mencegah kelahiran yang tidak diinginkan, mengurangi jumlah kucing terlantar, dan menurunkan risiko sejumlah penyakit reproduksi. Organisasi tersebut menyebut jutaan hewan setiap tahun dapat terhindar dari kehidupan di jalanan atau penampungan berkat program sterilisasi yang efektif.
Dokter hewan juga menyoroti manfaat perilaku setelah sterilisasi. Kucing jantan yang disterilkan cenderung lebih jarang berkelahi, berkelana jauh dari rumah, atau melakukan spraying untuk menandai wilayah. Selain itu, risiko penyakit yang ditularkan melalui perkelahian antarkucing juga dapat berkurang. Sehingga sterilisasi bukan hanya untuk kucing betina, namun tetap bermanfaat terhadap kucing jantan.
Perdebatan tentang sterilisasi kucing masih akan terus berlangsung. Namun para pakar menyarankan agar pemilik hewan mencari informasi dari sumber ilmiah dan berkonsultasi dengan dokter hewan sebelum mengambil keputusan. Dengan informasi yang tepat, keputusan yang diambil dapat lebih mengutamakan kesejahteraan kucing sekaligus membantu mengurangi masalah populasi hewan terlantar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....