Mengapa Kucing Suka Bertengkar? Kenali Penyebab dan Solusinya

  • 24 Jun 2026 03:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Melihat dua kucing saling mengejar, mendesis, bahkan berkelahi sering membuat pemilik hewan khawatir. Padahal, menurut para pakar perilaku hewan, pertengkaran antar kucing merupakan perilaku yang sudah umum terjadi. Penyebabnya pun beragam, mulai dari perebutan wilayah hingga rasa takut terhadap kucing lain.

Dokter hewan Hannah Hart dari PetMD.com dalam artikel Why Cats Fight With Other Cats and How To Help yang diterbitkan pada 2023 menjelaskan alasan paling umum kucing bertengkar adalah masalah teritorial. Kucing secara alami merupakan hewan yang menjaga wilayahnya. Ketika ada kucing baru yang memasuki area yang dianggap miliknya, konflik bisa muncul sebagai bentuk pertahanan diri. Menurut Hart, perebutan tempat favorit, makanan, tempat tidur, hingga kotak pasir dapat memicu agresi antar kucing.

Selain faktor wilayah, pertengkaran juga bisa dipicu oleh rasa takut. Dalam artikel yang sama, Hart menjelaskan bahwa kucing yang merasa terancam oleh kehadiran kucing lain dapat menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk perlindungan diri. Situasi ini sering terjadi saat proses perkenalan kucing baru dilakukan terlalu cepat tanpa masa adaptasi yang cukup. Kucing yang pemalu atau kurang percaya diri cenderung lebih mudah bereaksi dengan cara menyerang ketika merasa terpojok.

Penyebab lain yang masih sering disalahartikan sebagai pertengkaran adalah perilaku bermain. Anak kucing dan kucing muda sering bermain dengan cara saling mengejar, menerkam, atau bergulat. Namun jika salah satu kucing bermain terlalu kasar, situasi tersebut bisa berubah menjadi konflik sungguhan. Pemilik perlu memperhatikan bahasa tubuh kucing untuk membedakan antara bermain dan berkelahi.

Penelitian lain yang dibahas oleh media sains internasional www.sciencealert.com pada 2023 menemukan bahwa kucing yang sedang bermain biasanya menunjukkan gerakan yang saling bergantian dan tidak terlalu agresif. Sebaliknya, jika salah satu kucing terus mendominasi, mendesis, atau menunjukkan bulu yang mengembang, interaksi tersebut lebih mengarah pada pertengkaran.

Menurut situs kesehatan hewan Catster yang ditinjau oleh dokter hewan Dr. Paola Cuevas pada 2025, pertengkaran juga bisa dipengaruhi oleh hormonal, terutama pada kucing jantan yang belum steril. Kucing jantan cenderung lebih agresif terhadap sesamanya ketika bersaing memperebutkan pasangan atau mempertahankan dominasi. Karena itu, sterilisasi sering direkomendasikan untuk membantu mengurangi agresivitas antar kucing.

Tak hanya itu, stres juga bisa menjadi pemicu konflik. Suara keras, kehadiran hewan asing di luar rumah, atau perubahan lingkungan dapat membuat kucing mudah menjadi lebih agresif. Dalam kondisi ini, kucing yang sedang stres namun tidak dapat melampiaskan emosinya kepada sumber gangguan sehingga menyerang kucing lain yang berada di dekatnya.

Para pakar menyarankan pemilik menyediakan perlengkapan yang cukup untuk setiap kucing di rumah, seperti kotak pasir terpisah, tempat makan, tempat minum, area bermain, dan tempat bertengger. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi pertengkaran antar kucing. Selain itu, proses perkenalan kucing baru sebaiknya dilakukan secara bertahap agar masing-masing hewan memiliki waktu untuk beradaptasi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....