Merawat Bakat Sang Kicau: Cara Membentuk Murai Batu Jadi Jawara

  • 15 Apr 2026 13:39 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah hiruk-pikuk aktivitas perdagangan di Pasar Burung Bratang, suara kicauan burung saling bersahutan, menciptakan suasana khas yang tak pernah sepi dari para pecinta burung. Salah satu primadona yang banyak diburu adalah murai batu—burung dengan suara merdu dan gaya tarung atraktif yang kerap menjadi andalan dalam berbagai lomba kicau.

Bagi para penghobi, menjadikan murai batu sebagai juara bukanlah perkara instan. Dibutuhkan ketelatenan, pemahaman karakter burung, serta perawatan yang konsisten.

Hal ini diungkapkan oleh Dimas, seorang penjual burung yang telah puluhan tahun berjualan di Pasar Burung Bratang Surabaya. “Kalau mau murai batu jadi juara, yang pertama itu harus paham karakter burungnya. Setiap murai itu beda-beda, ada yang cepat gacor, ada juga yang butuh waktu lama,” ujar Dimas saat ditemui di kiosnya, Selasa, 14 April 2026

Menurut Dimas, proses awal dimulai dari pemilihan burung. Ia menyarankan memilih murai batu yang memiliki postur ideal, mata tajam, serta responsif terhadap lingkungan.

“Kalau dari awal sudah bagus, perawatannya akan lebih mudah,” katanya.

Setelah mendapatkan burung yang tepat, langkah berikutnya adalah membangun rutinitas perawatan harian. Murai batu membutuhkan pola mandi dan penjemuran yang teratur. Biasanya, burung dimandikan setiap pagi untuk menjaga kebersihan dan kesegarannya, kemudian dijemur sekitar satu hingga dua jam agar kondisi tubuh tetap prima.

Selain itu, pemberian pakan juga menjadi faktor penting. Murai batu dikenal sebagai burung pemakan serangga, sehingga asupan seperti jangkrik, kroto, dan ulat hongkong harus diperhatikan jumlah dan kualitasnya. “Pakan itu sangat berpengaruh ke stamina dan suara. Jangan asal banyak, tapi harus sesuai kebutuhan,” ujar Dimas.

Dalam hal pelatihan, Andi menekankan pentingnya pemasteran atau melatih burung dengan suara burung lain. Biasanya, pemasteran dilakukan dengan memutar suara rekaman atau mendekatkan murai batu dengan burung master seperti kenari atau cililin. Proses ini bertujuan agar murai batu memiliki variasi lagu yang kaya saat dilombakan.

Tak kalah penting adalah menjaga mental burung. Murai batu yang sering diikutkan latihan bersama atau “latber” akan terbiasa dengan suasana ramai dan tidak mudah stres saat lomba. “Mental itu kunci. Kalau burungnya takut atau drop, suara bagus juga percuma,” ucapnya.

Perawatan kandang juga turut menentukan performa burung. Kandang harus selalu bersih dan ditempatkan di lokasi yang nyaman, tidak terlalu bising namun tetap mendapatkan sirkulasi udara yang baik. Kebersihan kandang akan mencegah penyakit yang dapat mengganggu kondisi burung.

dimas juga mengingatkan bahwa konsistensi adalah hal utama dalam merawat murai batu. Banyak pemilik burung yang gagal karena tidak sabar dan sering mengubah pola perawatan. “Kalau sudah ketemu settingan yang cocok, jangan sering diubah. Burung itu butuh adaptasi,” katanya.

Di balik proses panjang tersebut, ada kepuasan tersendiri ketika murai batu berhasil meraih prestasi. Bagi sebagian orang, kemenangan di arena lomba bukan hanya soal gengsi, tetapi juga hasil dari kerja keras dan ketelatenan dalam merawat.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....