Mengurai Pola Pikir Kriminal lewat Serial "The Scarecrow"

  • 21 Sep 2026 15:26 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Serial drama Korea bergenre crime-thriller, "The Scarecrow", kembali mencuri perhatian para penikmat tayangan misteri. Dibintangi oleh Park Hae-soo dan Lee Hee-joon, serial ini tidak hanya menyajikan alur pembunuhan berantai yang penuh teka-teki, tetapi juga membuka ruang diskusi menarik mengenai evolusi metodologi investigasi kepolisian.

Dilansir dari portal Gramedia.com serial ini mengambil latar waktu tahun 1988 dan 2019, "The Scarecrow" terinspirasi dari Hwaseong Serial Murders, salah satu kasus pembunuhan berantai paling legendaris dalam sejarah Korea Selatan yang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk terungkap. Series ini pun sering dibandingkan dengan "Memories of Murder", film legendaris karya Bong Joon-ho , Namun jika film tersebut berfokus pada pengejaran pelaku di masa lalu, "The Scarecrow" menghadirkan pendekatan yang berbeda dengan menyoroti trauma, luka lama, dan dampak emosional yang terus menghantui bahkan setelah puluhan tahun kasus ini berlalu.

Cerita "The Scarecrow" berfokus pada dinamika detektif Kang Tae-Joo dan Cha Si-Yeong, seorang jaksa yang juga merupakan "musuh" lamanya. Hubungan rumit keduanya menciptakan ketegangan tersendiri di tengah upaya memecahkan benang kusut kejahatan di Hwaseong.

Daya tarik utama serial ini terletak pada transisi pendekatan penyidikan dari masa ke masa. Pada era 1980-an, ketika profesi profiler belum dikenal dan teknologi forensik masih terbatas, Kang Tae-joo secara intuitif sudah menerapkan prinsip dasar analisis perilaku.

Ketimbang hanya bertumpu pada bukti fisik di tempat kejadian perkara (TKP), ia berupaya membaca pola kebiasaan serta emosi pelaku, meski kerap berbenturan dengan keterbatasan fasilitas zaman itu. Sisi edukatif drama ini kian terasa saat cerita melompat ke era modern, di mana Kang Tae-joo telah menjadi profesor kriminologi.

Lewat pendekatan psikologi forensik, sosok profiler digambarkan memiliki peran krusial dalam membantu penyidik memangkas waktu penyelidikan dan "merayu" pelaku untuk mengungkap kebenaran kasus. Dengan memetakan karakteristik, latar belakang, dan prediksi langkah pelaku, analisis perilaku sering kali menjadi kunci utama saat proses penyidikan konvensional menemui jalan buntu.

Di Indonesia sendiri, fungsi analisis perilaku dan psikologi forensik sebenarnya telah lama diterapkan dalam penanganan kasus-kasus besar, salah satunya melalui keterlibatan Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) yang bermitra dengan kepolisian. Penggabungan antara teknik penyidikan lapangan dan keahlian psikologi forensik ini membuktikan bahwa pendekatan ilmiah semakin tidak terpisahkan dari penegakan hukum modern.

Lewat kemasan narasi yang padat dan realistis, "The Scarecrow" tidak sekadar menghadirkan hiburan yang memacu adrenalin. Lebih dari itu, serial ini memberikan gambaran bagi publik mengenai pentingnya integrasi antara analisis sains, psikologi, dan kerja keras di lapangan dalam mengungkap kebenaran.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....