Kenapa Matcha Tiba-Tiba Jadi Makanan Favorit Banyak Orang?

  • 08 Sep 2026 13:33 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Jika beberapa tahun lalu kopi menjadi pilihan utama untuk menemani aktivitas sehari-hari, kini ada minuman berwarna hijau yang semakin sering muncul di berbagai kafe. Namanya matcha.

Matcha bukan sekadar teh hijau biasa. Bubuk berwarna hijau cerah ini kini digunakan dalam berbagai makanan dan minuman, mulai dari matcha latte, cokelat, es krim, roti, hingga sarapan. Popularitasnya bahkan terus meningkat di berbagai negara.

Menurut FoodNavigator, meningkatnya popularitas matcha didorong oleh perpaduan antara gaya, cita rasa, serta persepsi terhadap manfaat kesehatan. Matcha yang sebelumnya identik dengan tradisi Jepang kini berubah menjadi salah satu bahan yang banyak dicari dalam industri makanan dan minuman modern.

Salah satu produk yang ikut mendorong pertumbuhan tersebut adalah matcha latte. Minuman ini mulai dipandang sebagai alternatif bagi orang yang ingin mengurangi kebiasaan minum kopi. Kandungan kafeinnya tetap memberikan efek stimulan, tetapi jumlahnya rata-rata lebih rendah dibandingkan kopi. FoodNavigator menyebutkan bahwa secangkir matcha rata-rata mengandung sekitar 70 miligram kafein, sementara kopi dapat mengandung sekitar 100 hingga 140 miligram.

Selain kandungan kafein, matcha juga mendapatkan perhatian karena dikaitkan dengan berbagai potensi manfaat kesehatan. FoodNavigator mencatat sejumlah klaim yang membuat konsumen tertarik, termasuk kaitannya dengan fokus, metabolisme, kesehatan kulit, peradangan, hingga daya tahan tubuh.

Namun, perlu dicatat bahwa klaim mengenai manfaat kesehatan tersebut tidak semuanya memiliki bukti ilmiah yang kuat. Karena itu, matcha sebaiknya tetap dipandang sebagai bagian dari pola makan, bukan sebagai obat atau solusi untuk berbagai masalah kesehatan.

Daya tarik matcha juga semakin besar karena penampilannya. Warna hijau cerah membuat minuman ini sangat mudah dikenali dan menarik secara visual.

Media sosial kemudian memperkuat tren tersebut. FoodNavigator mencatat bahwa matcha telah menjadi bagian dari budaya media sosial, dengan komunitas khusus di Instagram dan TikTok. Banyak influencer maupun pengguna biasa membagikan video ketika membeli, membuat, atau menikmati matcha.

Dari sinilah matcha tidak lagi hanya dianggap sebagai minuman tradisional. Matcha berubah menjadi bagian dari gaya hidup.

Menariknya, tren tersebut tidak berhenti pada minuman. Industri makanan mulai menggunakan matcha sebagai bahan untuk berbagai produk. Cokelat, es krim, roti, hingga makanan sarapan kini dapat ditemukan dalam varian rasa matcha.

Semakin banyaknya produk tersebut membuat konsumen memiliki lebih banyak kesempatan untuk mencoba matcha tanpa harus meminumnya sebagai teh.

Popularitas yang semakin tinggi ternyata juga menimbulkan persoalan baru. FoodNavigator melaporkan bahwa meningkatnya permintaan global mulai memberikan tekanan terhadap pasokan matcha.

Jepang sebagai salah satu negara pemasok utama bahkan mulai menghadapi kekhawatiran mengenai ketersediaan bahan baku. Beberapa perusahaan teh Jepang juga telah menerapkan pembatasan pembelian produk matcha.

Produksi matcha memang telah meningkat dalam satu dekade terakhir. Namun, proses produksinya memiliki tantangan tersendiri karena daun teh yang digunakan untuk membuat matcha membutuhkan waktu dan kondisi tertentu untuk tumbuh dan dipanen.

Perubahan cuaca juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi hasil panen. Fenomena ini menunjukkan bahwa popularitas sebuah makanan atau minuman di media sosial ternyata bisa memberikan dampak nyata hingga ke sektor produksi.

Jadi, mengapa matcha tiba-tiba menjadi favorit banyak orang?

Jawabannya ternyata bukan hanya karena warna hijaunya yang menarik. Matcha berada di tengah pertemuan antara tren media sosial, gaya hidup sehat, alternatif kopi, cita rasa yang unik, dan kemampuan industri makanan mengolahnya menjadi berbagai produk baru.

Dari tradisi minum teh Jepang hingga menjadi minuman favorit di kafe modern, matcha menunjukkan bagaimana sebuah bahan makanan tradisional dapat berubah menjadi fenomena global. Dan ketika permintaannya terus meningkat, satu hal menjadi semakin jelas: matcha bukan lagi sekadar tren di media sosial. Bubuk hijau ini telah berkembang menjadi salah satu fenomena besar dalam industri makanan dan minuman dunia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....