Kumiscacing Hadirkan “Giant Fish”, Dongeng Musikal Perjalanan Austronesia
- 07 Sep 2026 15:49 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Jambi - Unit musik independen eksperimental asal Jambi, Hanif / Kumiscacing, kembali menegaskan eksistensi artistiknya melalui rilisan terbaru bertajuk “Giant Fish”. Single ini menjadi bagian dari upaya Kumiscacing dalam meramu musik eksperimental dengan narasi sejarah dan kisah personal. “Giant Fish” resmi dilepas ke lautan luas pada 23 Agustus 2026, sekaligus menjadi karya yang membawa pendengar menyelami perjalanan lintas ruang dan waktu.
Lebih dari sekadar mengajak pendengar memutar kembali waktu, Kumiscacing menghadirkan dongeng musikal mengenai gelombang migrasi bangsa Austronesia. Kisah tersebut menggambarkan perjalanan dari daratan Tiongkok menuju lautan Nusantara melalui jalur utara, melewati Filipina, merambah pesisir Sulawesi dan Kalimantan, hingga kemudian menyebar dari Sumatera menuju Madagaskar. Narasi berskala besar tersebut menjadi fondasi konseptual dalam karya terbaru mereka.
Di kutip dari pernyataan resmi, rilisan ini mengangkat kisah sejarah tentang perjalanan bangsa Austronesia tersebut kemudian diterjemahkan Kumiscacing menjadi sebuah surat cinta dan dedikasi personal untuk sang buah hati. Kehadiran karya ini bertepatan dengan tanggal lahir Bestari, sosok yang menjadi bagian penting di balik dorongan emosional terciptanya “Giant Fish”. Dengan demikian, perjalanan panjang yang dibawa lagu ini tidak hanya berbicara mengenai migrasi dan sejarah, tetapi juga tentang kerinduan, kasih sayang, serta hubungan personal.
Dalam konsepnya, Kumiscacing memperkenalkan Kache, tokoh fiksi dari bangsa Austronesia yang sekaligus menjadi representasi mereka dalam cerita. Kache hadir sebagai “sang penjelajah waktu” yang mengajak pendengar menelusuri kembali rute epik bangsa Austronesia pada sekitar 1500 SM. Melalui karakter tersebut, sejarah kemudian dikemas menjadi sebuah pengalaman musikal yang imajinatif dan membuka ruang bagi pendengar untuk membangun interpretasinya sendiri.
“Giant Fish” sendiri menjadi track nomor dua dalam rangkaian cerita musikal tersebut. Lagu ini digambarkan sebagai sebuah elegi tentang cahaya, pencarian, dan kerinduan yang dibangun melalui harmoni polyrhythm serta rona-rona blues yang bising. Perpaduan tersebut menciptakan karakter suara yang eksperimental sekaligus atmosferik, seolah membawa pendengar masuk ke dalam ruang dengar yang luas dan perlahan menenggelamkan.
Dari sisi produksi, fondasi permainan drum dalam “Giant Fish” direkam oleh Imam Fathoni The Mure, sementara bagian bass dimainkan dan direkam oleh Afdal Fulan Fehan. Kedalaman ruang dengarnya kemudian diramu melalui proses mixing oleh Windu Segara Sanet dan mastering oleh EXP International. Sementara itu, identitas visual rilisan ini diperkuat interpretasi magis bernuansa biru-jingga karya Avif Ziady, yang melengkapi atmosfer dunia musikal yang dibangun Kumiscacing.
Ditulis dan diproduksi langsung oleh Ahmad Hanif / Kumiscacing, “Giant Fish” menjadi karya yang mempertemukan eksplorasi musik, dongeng sejarah, dan ungkapan personal dalam satu perjalanan. Bagi Kumiscacing, karya ini pada akhirnya bukan sekadar upaya menghadirkan kembali kisah perjalanan bangsa Austronesia, melainkan sebuah cara untuk merawat ingatan dan menyampaikan rasa rindu. Melalui “Giant Fish”, mereka kembali membuktikan bahwa musik eksperimental dapat menjadi ruang untuk menghubungkan sejarah, imajinasi, dan perasaan secara bersamaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....