Dr. Dre Anggap Musisi yang Terancam oleh AI Berarti Kurang Kreatif
- 24 Agt 2026 20:26 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID,Surabaya - Produser musik sekaligus rapper legendaris Dr. Dre secara terang-terangan mendukung dan menggunakan kecerdasan buatan (AI) dalam memproduksi musik. Ia menganggap AI bukanlah musuh atau ancaman, melainkan sebuah kemajuan teknologi dan alat baru untuk memicu kreativitas bermusik.
Dr. Dre memandang AI sebagai salah satu alat dalam teknologi musik, sama halnya dengan synthesizer, dan menegaskan bahwa hanya orang-orang yang "kesulitan berkarya" yang merasa takut terhadap AI.
Dilansir dari Deadline, Dre, pendiri label rekaman Aftermath serta salah satu pendiri dan CEO Beats milik Apple, menyatakan dalam wawancara bersama rekan bisnis lamanya, Jimmy Iovine menyatakan bahwa ia tidak menganggap AI "sebagai ancaman." Menurutnya, satu-satunya orang yang menganggapnya sebagai ancaman adalah mereka yang kesulitan dalam berkarya.
"Saya sempat berdiskusi dengan beberapa orang beberapa hari yang lalu," ujar Dre. "Mereka menentang AI, dan saya bilang, 'Oke, kalian terdengar seperti orang yang dulu menentang drum machine saat alat itu baru muncul. Atau synthesizer, kan? Ini adalah alat baru untuk kreativitas. Ada orang-orang yang takut mempelajari hal-hal baru."
Didukung oleh rekan bisnis setianya, Jimmy Iovine, Dr. Dre menyetujui bahwa sebenarnya saat ini sudah banyak produser musik yang diam-diam menggunakan AI di studio, namun mereka enggan dan malu untuk mengakuinya kepada publik
Dre, 61 tahun, masuk dalam daftar miliarder Forbes tahun 2026, kali pertama ia tercantum dalam peringkat publikasi tersebut, dengan estimasi kekayaan bersih sebesar $1 miliar. Pada tahun 2014, ia dan Iovine menjual Beats by Dre kepada Apple dalam kesepakatan senilai lebih dari $3 miliar. Pada tahun 2023, Dre menjual sejumlah aset pendapatan musik dan aset lainnya kepada Shamrock Holdings dan Universal Music Group dengan nilai lebih dari $200 juta.
Di industri musik, AI masih menjadi topik kontroversial dan subjek sengketa hukum yang sedang berlangsung. Sebagai contoh, pekan lalu penerbit musik independen Round Hill Music menggugat Suno dan Anthropic, menuduh kedua perusahaan AI tersebut melakukan pelanggaran hak cipta dengan cara mengambil data (scraping) ratusan lagu mereka secara ilegal untuk melatih model AI tanpa izin.
Suno telah digugat oleh ketiga perusahaan rekaman besar, Warner Music Group, Universal Music Group, dan Sony Music, meskipun perusahaan tersebut telah mencapai kesepakatan damai dengan WMG tahun lalu. Selain itu, Suno baru-baru ini menjalin perjanjian lisensi dengan BMG (yang tahun ini menggugat Anthropic karena diduga menggunakan rekaman milik BMG untuk melatih model AI dalam tindakan yang mereka sebut sebagai skema "pelanggaran yang meluas dan sistematis").
Sementara itu, Apple Music menyatakan akan mulai memberikan label pada lagu-lagu yang dihasilkan oleh platform AI pada akhir tahun ini, menyusul langkah Spotify yang melabeli profil artis yang tampak dibuat oleh AI sebagai "AI Personas."
Bulan lalu, sebuah koalisi yang mencakup RIAA, IFPI, Grammy, dan SAG-AFTRA bersatu untuk mendorong program pelabelan industri baru bagi lagu-lagu hasil produksi AI, serupa dengan label yang menandai konten eksplisit.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....