Dari Ritual hingga Gaya Modern, Begini Sejarah Potong Rambut
- 01 Sep 2026 10:24 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Potong rambut mungkin menjadi aktivitas sederhana yang dilakukan secara rutin. Namun, di balik gunting, sisir, dan alat cukur yang digunakan saat ini, terdapat perjalanan sejarah panjang yang berkaitan dengan budaya, status sosial, hingga ritual keagamaan.
Menurut artikel Ancient Hairstyles of the Greco-Roman World yang diterbitkan World History Foundation, manusia sejak masa peradaban awal hampir tidak pernah membiarkan rambutnya tanpa ditata. Rambut dapat dipotong, dicukur, dikepang, digulung, dihias, maupun ditata dengan berbagai aksesori. Pada masa Yunani dan Romawi kuno, gaya rambut bahkan menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial.
Pada zaman dahulu, rambut bukan sekadar persoalan penampilan. Gaya rambut dapat menunjukkan kekayaan, usia, status sosial, hingga hubungan seseorang dengan ritual keagamaan.
Di dunia Yunani dan Romawi, perubahan gaya rambut juga mengikuti perkembangan zaman. Laki-laki Yunani dewasa, misalnya, memiliki tradisi memotong rambut secara ritual dan kemudian memelihara janggut. Rambut juga dapat dikaitkan dengan berbagai tahap kehidupan seseorang.
Artinya, aktivitas memotong rambut pada masa itu tidak selalu dilakukan hanya untuk membuat seseorang terlihat lebih rapi. Dalam situasi tertentu, potong rambut menjadi simbol perubahan status atau bagian dari upacara penting.
Perkembangan budaya potong rambut semakin terlihat di Romawi. Sumber sejarah yang dihimpun dalam A Dictionary of Greek and Roman Antiquities menyebutkan bahwa sekitar 300 SM, tukang cukur mulai diperkenalkan ke Roma dari Sisilia. Sejak periode tersebut, rambut pendek kemudian menjadi kebiasaan yang semakin umum bagi laki-laki Romawi.
Kehadiran tukang cukur membuat aktivitas merawat rambut berkembang menjadi sebuah pekerjaan khusus. Tempat cukur tidak hanya berfungsi sebagai lokasi untuk memotong rambut dan mencukur janggut, tetapi juga menjadi ruang sosial tempat masyarakat berkumpul.
Di Romawi, perhatian terhadap gaya rambut bahkan sangat tinggi. Museum Vatikan mencatat adanya profesi ornatrix, yaitu perempuan yang bertugas menata rambut perempuan Romawi. Mereka menggunakan sisir, peniti rambut, dan berbagai perlengkapan untuk menghasilkan gaya rambut yang rumit.
Seiring berjalannya waktu, potong rambut berkembang mengikuti perubahan budaya dan mode. Rambut pendek, panjang, keriting, kepang, hingga berbagai model rambut terus mengalami pergantian popularitas.
Dalam masyarakat modern, fungsi potong rambut memang lebih praktis. Orang datang ke salon atau barbershop untuk merapikan rambut, mengikuti tren, atau menampilkan karakter pribadi.
Namun, jejak sejarahnya masih terasa. Potongan rambut tertentu tetap dapat mencerminkan identitas, profesi, kelompok sosial, bahkan tren suatu generasi.
Sejarah panjang tersebut menunjukkan bahwa potong rambut bukan sekadar aktivitas memendekkan rambut. Dari ritual masyarakat kuno hingga layanan barbershop modern, rambut selalu menjadi bagian dari cara manusia mengekspresikan diri.
Jadi, ketika seseorang duduk di kursi barber dan mendengar suara gunting mulai bekerja, sebenarnya ia sedang melanjutkan sebuah tradisi yang telah berlangsung selama ribuan tahun—tradisi ketika rambut bukan hanya bagian dari tubuh, tetapi juga bagian dari budaya dan identitas manusia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....