Asal Usul Emoji, Bahasa Digital yang Digunakan Miliaran Orang
- 13 Jul 2026 09:20 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Emoji pertama kali diciptakan di Jepang tahun 1999 oleh Shigetaka Kurita sebagai solusi untuk keterbatasan komunikasi di telepon seluler i-mode yang memiliki layar hitam putih berukuran kecil.
- Kurita dan timnya berhasil membuat 176 emoji pertama dengan ukuran 12 × 12 piksel yang terinspirasi dari piktogram, permainan video, dan simbol-simbol kehidupan masyarakat Jepang.
- Set emoji asli karya Shigetaka Kurita kini menjadi koleksi permanen Museum of Modern Art (MoMA) di New York, mengakui emoji sebagai karya desain yang berpengaruh terhadap perkembangan komunikasi manusia modern.
- Standarisasi melalui Unicode memungkinkan emoji digunakan secara universal di berbagai sistem operasi dan aplikasi, menjadi bahasa visual lintas budaya dan bahasa yang dipahami miliaran orang.
RRI.CO.ID, Surabaya – Sulit membayangkan percakapan digital saat ini tanpa emoji. Mulai dari wajah tersenyum 😊, jempol 👍, hingga hati ❤️, simbol-simbol kecil tersebut telah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari miliaran orang di seluruh dunia. Emoji tidak hanya mempercantik pesan, tetapi juga membantu menyampaikan emosi yang sulit diungkapkan melalui teks biasa.
Di balik kepopulerannya, emoji ternyata memiliki sejarah yang menarik. Berdasarkan artikel The World's Most Familiar Face yang diterbitkan oleh NTT Global, emoji lahir di Jepang pada tahun 1999 sebagai solusi atas keterbatasan komunikasi melalui telepon seluler generasi awal.
Kala itu, perusahaan telekomunikasi Jepang NTT DOCOMO sedang mengembangkan i-mode, layanan internet seluler pertama di dunia. Meski menjadi inovasi besar pada masanya, perangkat telepon seluler saat itu memiliki layar hitam putih berukuran kecil dan jumlah karakter yang sangat terbatas dalam setiap pesan. Kondisi tersebut membuat pengguna kesulitan mengekspresikan perasaan hanya melalui teks.
Melihat tantangan tersebut, tim pengembang i-mode mulai mencari cara agar komunikasi digital terasa lebih hidup. Salah satu anggota tim, Shigetaka Kurita, kemudian menciptakan serangkaian gambar sederhana berukuran hanya 12 × 12 piksel. Simbol-simbol kecil itu dirancang untuk mewakili berbagai emosi, cuaca, benda sehari-hari, hingga tempat umum sehingga pengguna dapat menyampaikan makna lebih cepat tanpa harus menulis kalimat panjang.
Kurita mengaku mendapatkan inspirasi dari berbagai sumber, mulai dari piktogram, permainan video, hingga simbol-simbol yang sering digunakan dalam kehidupan masyarakat Jepang. Dalam waktu sekitar satu bulan, ia bersama tim berhasil menciptakan 176 emoji pertama yang kemudian menjadi fondasi bagi perkembangan emoji modern.
Keberadaan emoji terbukti mampu mengubah cara manusia berkomunikasi. Pesan singkat yang sebelumnya terasa datar kini dapat disertai ekspresi bahagia, sedih, marah, atau terkejut hanya dengan satu simbol kecil. Emoji membantu mengurangi kesalahpahaman yang sering muncul ketika komunikasi dilakukan tanpa intonasi suara maupun ekspresi wajah.
| Baca juga: Emily Blunt Ungkap Ketakutannya Terhadap AI |
Seiring berkembangnya teknologi telepon pintar dan media sosial, penggunaan emoji meluas ke berbagai negara. Standarisasi melalui Unicode memungkinkan simbol yang sama dapat digunakan di berbagai sistem operasi dan aplikasi pesan, sehingga emoji berkembang menjadi bahasa visual yang dipahami lintas budaya dan bahasa. Meskipun desainnya dapat sedikit berbeda pada setiap platform, makna dasarnya tetap dapat dikenali oleh pengguna di seluruh dunia.
Popularitas emoji bahkan mendapat pengakuan dari dunia seni. Set emoji asli karya Shigetaka Kurita kini menjadi koleksi permanen Museum of Modern Art (MoMA) di New York. Pengakuan tersebut menunjukkan bahwa emoji bukan sekadar ikon digital, melainkan juga karya desain yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan komunikasi manusia di era modern.
Kini, emoji telah berkembang jauh melampaui 176 simbol awal. Ribuan emoji tersedia untuk menggambarkan beragam ekspresi, profesi, makanan, hewan, bendera, hingga identitas budaya dari berbagai negara. Pembaruan emoji juga terus dilakukan agar lebih inklusif dan mencerminkan keberagaman masyarakat dunia.
Lebih dari dua dekade sejak pertama kali diperkenalkan, tujuan awal emoji tetap tidak berubah, yakni membantu manusia menyampaikan emosi dengan cara yang sederhana, cepat, dan mudah dipahami. Dari gambar kecil berukuran 12 piksel di layar ponsel Jepang, emoji kini telah menjelma menjadi bahasa digital universal yang menghubungkan miliaran orang dalam percakapan sehari-hari di seluruh dunia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....