Pilih Kost meski Keluarga Masih Satu Kota, Proses Pendewasaan dan Kemandirian
- 12 Jul 2026 10:35 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Pernahkah kamu menemui atau bahkan memiliki teman yang memilih tinggal sendiri padahal lokasi rumah keluarganya masih satu kota dengannya? Di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat perkotaan, tidak sedikit pekerja maupun mahasiswa yang memilih tinggal di rumah kost meski orang tua mereka tinggal di kota yang sama.
Keputusan tersebut sering kali memunculkan anggapan negatif, mulai dari dianggap ingin menjauh dari keluarga hingga dinilai kurang berbakti. Padahal, di balik keputusan itu sering kali terdapat alasan yang lebih kompleks, mulai dari efisiensi waktu, tuntutan pekerjaan, hingga keinginan untuk belajar hidup mandiri.
Bagi sebagian orang, tinggal sendiri bukan berarti memutus hubungan dengan keluarga. Justru, ruang pribadi yang dimiliki dapat membantu seseorang mengatur ritme hidup sesuai tanggung jawab yang dijalani. Mulai dari mengelola keuangan, mengatur jadwal, memasak, hingga menjaga kebersihan tempat tinggal menjadi bagian dari proses belajar menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Kemandirian ini merupakan salah satu fase perkembangan menuju kedewasaan yang banyak dibahas dalam psikologi perkembangan. Menurut psikolog perkembangan yang dikutip psychologytoday.com dalam artikelnya berjudul What It Means to Be an Emerging Adult (2023) menyebutkan bahwa usia 18–29 tahun merupakan fase ketika seseorang sedang membangun identitas, mengeksplorasi pilihan hidup, serta belajar mengambil keputusan secara mandiri.
Pada fase ini, memiliki ruang untuk berkembang menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter orang dewasa. Keputusan tinggal di kost juga dapat menjadi bentuk penetapan batasan yang sehat antara anak dan orang tua.
Psikolog Jeffrey Bernstein, Ph.D., dalam artikel Setting Win-Win Boundaries With Your Adult Child (2023) yang juga diterbitkan psychologytoday.com menjelaskan bahwa hubungan yang sehat antara orang tua dan anak dewasa dibangun melalui rasa saling menghormati, komunikasi yang baik, serta pemberian ruang bagi masing-masing pihak untuk bertumbuh. Bernstein menekankan bahwa batasan bukan bertujuan menjauhkan hubungan, melainkan menciptakan relasi yang lebih dewasa.
Meski demikian, tinggal sendiri tentu memiliki tantangan tersendiri. Karena seluruh kebutuhan sehari-hari harus dipenuhi secara mandiri, mulai dari membayar biaya hidup, mengatur pengeluaran, hingga menghadapi rasa sepi ketika pulang bekerja. Namun berbagai tanggung jawab tersebut justru menjadi sarana untuk melatih kemampuan menyelesaikan masalah, mengendalikan emosi, dan meningkatkan rasa percaya diri dalam menjalani kehidupan dewasa.
Hal yang terpenting adalah menjaga kualitas hubungan dengan orang tua. Tinggal terpisah tidak berarti mengurangi kasih sayang kepada keluarga. Menyempatkan pulang di akhir pekan, rutin menghubungi orang tua melalui telepon atau video call, hingga membantu ketika diperlukan merupakan bentuk perhatian yang tidak kalah bermakna dibanding tinggal serumah. Kedekatan emosional lebih ditentukan oleh kualitas komunikasi daripada sekadar berbagi atap yang sama.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan artikel dari psychologytoday.com berjudul What Makes Someone an Adult (2023) yang menyebut bahwa kedewasaan pada era modern tidak lagi hanya diukur dari tempat tinggal atau status tertentu, tetapi juga dari kemampuan seseorang mengambil tanggung jawab atas hidupnya, mengelola emosi, serta membuat keputusan secara mandiri. Dengan demikian, memilih tinggal di kost meski masih satu kota dengan orang tua bukanlah bentuk menjauh dari keluarga, melainkan dapat menjadi bagian dari proses bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....