Mengulik Perbedaan Versi Film dan Novel Ayat-Ayat Cinta 2

  • 23 Jun 2026 20:21 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Setelah adanya novel Ayat-Ayat Cinta 1 karya Habiburrahman El Shirazy dan kemudian diadaptasi menjadi film, muncul sekuelnya yaitu Ayat-Ayat Cinta 2 yang sama-sama berupa novel dan film. Kali ini sutradara yang menggarap filmnya bukan lagi Hanung Bramantyo, melainkan Guntur Soeharjanto, namun tetap diproduksi oleh MD Entertainment.

Baik adaptasi film Ayat-Ayat Cinta 1 maupun Ayat-Ayat Cinta 2 juga tetap ditemukan perbedaan dari yang dituliskan dalam novel. Perbedaan paling utama terletak pada alur cerita film yang lebih ringkas daripada novelnya. Dalam novel, perjalanan Fahri sebagai akademisi Muslim di Edinburgh, Skotlandia, diceritakan sangat detail, termasuk berbagai interaksi sosial, pemikiran, dan konflik batin yang dialaminya.

Sementara dalam filmnya memang menyederhanakan beberapa bagian cerita agar sesuai durasi tayang dan lebih mudah diikuti penonton umum. Hal ini dijelaskan dalam hasil penelitian berjudul "TRANSFORMASI NOVEL AYAT-AYAT CINTA 2 KE DALAM FILM" dari jurnal.isbi.ac.id pada 2020.

Perbedaan berikutnya terlihat pada jumlah dan pengembangan karakter. Dalam novel, sejumlah tokoh pendukung punya latar belakang dan porsi cerita lebih panjang. Hal ini memudahkan pembaca dalam memahami motivasi, pemikiran, dan perkembangan karakter secara lebih mendalam.

Namun dalam film, beberapa tokoh mengalami penyederhanaan bahkan pengurangan adegan untuk menjaga fokus cerita pada perjalanan Fahri dan pencariannya terhadap Aisha yang menghilang. Selain itu, novel memberikan ruang lebih luas untuk mengeksplorasi nilai dakwah, toleransi, dan dialog antaragama.

Penelitian yang dimuat dalam ISTIFHAM: Journal of Islamic Studies dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2023) menjelaskan baik novel maupun film memang sama-sama mengangkat pesan moderasi beragama, tetapi novel menyajikannya lebih rinci melalui narasi dan dialog yang panjang. Sementara filmnya cenderung menyampaikan pesan tersebut melalui adegan visual dan tindakan para tokohnya.

Penelitian lain tentang representasi dakwah dalam novel Ayat-Ayat Cinta 2 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau yang dipublikasikan dalam JURNAL PIKMA pada 2020 (jurnal.amikom.ac.id) menyebutkan bahwa perubahan sikap tokoh-tokoh non-Muslim menjadi salah satu elemen penting yang mendapat perhatian khusus dalam versi novel. Penelitian ini menyebutkan perbedaan pada penyajian tema toleransi dan hubungan sosial di tengah masyarakat multikultural.

Dalam novel, interaksi Fahri dengan tetangga dan masyarakat sekitar di Edinburgh digambarkan lebih luas sehingga pembaca dapat melihat proses perubahan sikap beberapa tokoh terhadap Islam. Meski terdapat berbagai penyederhanaan, film Ayat-Ayat Cinta 2 tetap berhasil mempertahankan inti cerita dan karakter utama. mprovisasi yang dilakukan sutradara tidak mengubah karakter utama maupun garis besar cerita secara signifikan.

Perubahan dalam film dilakukan bertujuan untuk menyesuaikan kebutuhan sinematik dan keterbatasan durasi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....