Sistem Belajar Kebut Semalam, Efek Positif dan Negatif bagi Tubuh
- 21 Mei 2026 21:26 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Sistem belajar kebut semalam atau yang sering disebut SKS masih menjadi kebiasaan banyak pelajar dan mahasiswa menjelang ujian. Tumpukan materi yang belum dipelajari membuat sebagian orang memilih begadang demi mengejar target hafalan dalam satu malam. Meski dianggap solusi cepat, metode ini ternyata punya dampak positif sekaligus negatif bagi tubuh dan kemampuan belajar.
Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Sleep dan dibahas dalam artikel Oxford Academic yang diterbitkan pada 2021 (academic.oup.com), tidur setelah belajar justru membantu otak memperkuat ingatan dibanding terus memaksakan diri belajar semalaman.
Penelitian tersebut menyebut tidur berperan penting dalam proses memory consolidation atau penguatan memori setelah seseorang menerima informasi baru.
Namun di sisi lain, sistem kebut semalam memang ada sedikit efek positif dalam kondisi darurat. Banyak pelajar merasa metode ini membantu meningkatkan fokus jangka pendek menjelang ujian.
Meski begitu, efek negatif SKS jauh lebih sering dibahas para peneliti dibanding efek positifnya. Studi tahun 2021 di PubMed (National Library of Medicine) menjelaskan kurang tidur sebelum atau sesudah belajar memiliki dampak buruk terhadap kemampuan mengingat materi baru.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa kurang tidur karena belajar SKS akan membuat otak lebih sulit menyerap dan mempertahankan informasi dalam jangka panjang.
Kebiasaan begadang saat belajar juga sering berkaitan dengan penggunaan ponsel berlebihan. Penelitian tahun 2020 di jurnal PubMed (National Library of Medicine) menemukan bahwa membatasi penggunaan ponsel sebelum tidur membantu meningkatkan kualitas tidur, suasana hati, dan daya ingat kerja. Sebaliknya, terlalu lama menatap layar saat belajar malam dapat membuat otak lebih sulit rileks dan mengganggu konsentrasi keesokan harinya.
Selain memengaruhi memori, SKS juga dapat meningkatkan stres. Penelitian dari Frontiers in Neuroscience tahun 2020 (www.frontiersin.org) menyebut stres menjelang tidur membuat seseorang lebih sulit terlelap dan berdampak pada kemampuan mengingat aktivitas penting keesokan hari.
Dalam penelitian itu dijelaskan bahwa tekanan mental sebelum tidur memperburuk kualitas istirahat dan performa otak saat bangun pagi.
Meski demikian, beberapa penelitian modern menunjukkan tidur singkat di sela belajar bisa membantu mengurangi dampak buruk kurang tidur. Studi Scientific Reports tahun 2021 yang dipublikasikan di www.nature.com menemukan pembagian waktu tidur malam dan tidur siang dapat membantu meningkatkan memori jangka panjang dibanding terus terjaga sepanjang hari. Hal ini menunjukkan otak tetap membutuhkan waktu istirahat agar informasi yang dipelajari bisa tersimpan lebih baik.
Sistem belajar kebut semalam memang bisa membantu dalam situasi mendesak, terutama untuk mengejar hafalan jangka pendek. Namun jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat mengganggu kesehatan, kualitas tidur, dan kemampuan otak menyimpan informasi dalam jangka panjang. Karena itu, banyak ahli menyarankan belajar bertahap dan memberi waktu tidur cukup agar hasil belajar lebih efektif dan tubuh tetap sehat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....