Film Bisikan Desa Gringsing Debut di Cannes Film Festival 2026
- 19 Mei 2026 15:23 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Film horor Bisikan Desa Gringsing resmi memperkenalkan foto adegan perdana di Marché du Film Cannes 2026. Film ini menjadi horor Indonesia pertama yang memakai teknologi virtual production.
Film produksi Mandela Pictures dan OMG Studios itu merupakan kolaborasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Kehadirannya menandai terobosan baru sinema Asia Tenggara berbasis teknologi produksi modern.
Bisikan Desa Gringsing disutradarai Ivander Tedjasukmana dan dibintangi Aghniny Haque. Ceritanya mengikuti perjalanan Hesti mencari ayahnya yang hilang di Desa Gringsing. Pencarian itu membawa Hesti menghadapi teror arwah Fatimah yang menghantui desa tersebut. Karakter Fatimah diperankan pendatang baru Fatmah Nahdi.
Lima foto adegan yang dirilis menampilkan suasana misterius dan mencekam. Beberapa foto memperlihatkan Hesti berdiri di gerbang desa dengan ekspresi penuh ketegangan. Foto lain memperlihatkan Hesti berada di antara sosok-sosok terbaring di sekitarnya.
Sementara gambar berikutnya menampilkan konfrontasi Hesti dengan Fatimah. Dua foto tambahan menghadirkan karakter Gagan dan Melati. Tokoh tersebut diperankan Surya Saputra dan Hesti Putri.
Kehadiran film ini di Cannes menjadi debut internasional pertamanya di pasar global. Mandela Pictures juga melakukan pertemuan dengan distributor internasional selama festival berlangsung.
Distribusi internasional film ditangani langsung oleh Mandela Pictures. Penayangan bioskop sudah dikonfirmasi di Indonesia, Malaysia, Singapura, Turki, dan Azerbaijan.
Produser Mandela Pictures, Manoj Samtani, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan karya kolaboratif dan inovatif. Menurutnya, film tersebut diharapkan meninggalkan kesan emosional bagi penonton.
“Kami di Mandela Pictures berkomitmen menghadirkan karya kolaborasi jangka panjang. Bisikan Desa Gringsing adalah bukti satu lagi karya kami,” ujar Manoj Samtani.
CEO OMG Studios, Nick GC Tan, menilai Indonesia memiliki pasar kreatif yang sangat potensial. Ia menyebut penonton Indonesia menyukai cerita kuat dan inovasi teknologi.
Nick mengatakan virtual production bukan sekadar teknologi baru. Menurutnya, pendekatan itu menjadi bahasa kreatif baru perfilman Asia Tenggara.
“Virtual production bukan sekadar teknologi, ini bahasa kreatif baru Asia Tenggara,” ujar Nick GC Tan. Ia juga menyebut OMG Studios bangga menjadi pionir teknologi tersebut di Indonesia.
Teknologi virtual production memungkinkan penciptaan atmosfer desa yang lebih realistis. Jalanan berkabut dan suasana supernatural ditampilkan memakai layar LED beresolusi tinggi.
Film ini disebut sebagai film panjang Indonesia pertama yang memakai LED volumetric stage berstandar dunia. Aktor berakting di depan lingkungan digital yang tampil secara real time.
Proses syuting berlangsung di studio virtual production milik OMG Studios di Iskandar Malaysia Studios. Produksi mendapat dukungan program insentif FIMI+ dan Studios Film Office.
Di Singapura, film ini memperoleh dukungan Infocomm Media Development Authority. Sementara di Indonesia, dukungan diberikan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Kolaborasi lintas negara itu menunjukkan berkembangnya infrastruktur kreatif Asia Tenggara. Dukungan pemerintah dinilai memperkuat produksi film genre berkualitas tinggi.
Selain Aghniny Haque dan Surya Saputra, film ini dibintangi Kiki Narendra dan Nina Tamam. Ada pula Iskak Khivano, Fatmah Nahdi, serta Mian Tiara. Saat ini Bisikan Desa Gringsing memasuki tahap akhir pascaproduksi. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 2026.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....