Wayang Tradisional Surabaya Tergerus Hiburan Modern

  • 07 Mei 2026 18:29 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Nasib pelaku budaya tradisional di Surabaya semakin memprihatinkan, salah satunya adalah seni pertunjukan wayang. Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Surabaya mengaku, saat ini pagelaran hanya dilakukan saat Bersih Desa atau Suroan.

Ketua Pepadi Kota Surabaya Ki Madero, Kamis 7 Mei 2026 menjelaskan, tidak banyak individu yang mengundang gelaran Wayang. Sehingga para pelaku budaya ini mengandalkan undangan dari Pemerintah Daerah, baik Desa, Kota maupun Provinsi.

"Hanya di kampung kampung itu difasilitasi Pemerintah, kami bisa Wayangan saat bulan Suro atau Sedekah Bumi, hanya itu saja," katanya.

Setali tiga uang dengan Sekretaris Pepadi Kota Surabaya Ki Ris Handono. Pagelaran Wayangan seharga Rp25 juta ini, hampir tidak pernah lagi diundang oleh perseorangan, karena ada hiburan yang lebih murah.

"Dan orang due gawe (punya hajat, red) sekarang itu gak ada yang nanggap Wayang itu, jarang. teman teman Dalang sak Suroboyo ini, kalau tanggapan Bersih Deso, kalau Sedekah Bumi saja, itupun yang nanggap Dinas, dan kalau tanggapan pribadi wes ora ono. Nah ini yang prihatin," ujarnya.

Kurangnya minat anak muda terhadap kesenian Wayang, diakui oleh Ki Ris Handono, karena kurang mengertinya bahasa Jawa. Sehingga mereka tidak mengerti jalan cerita yang ditampilkan oleh dalang.

"Kami berharap di sekolah sekolah itu, pelajaran Bahasa Daerah atau Bahasa Jawa ini digalakkan lagi. Supaya kesenian tradisional itu tidak ditinggalkan," tambahnya.

Pepadi juga berharap Pemerintah Daerah memfasilitasi agar pelaku seni dapat memberikan edukasi di sekolah. "Tujuan saya tidak hanya ditanggap saja, tapi kita mau sosialisasi, Ow Wayang ini namanya Werkudoro, rumahnya ini, ada di adegan lakon ini, sehingga kan kenal anak anak," harapnya.

Keluhan para pelaku seni, mulai dari Dalang, Sinden, maupun Niyaga ini didengarkan langsung oleh Anggota DPR RI Bambang Haryo Soekartono. Mulai dari tempat berlatih yang layak, hingga undangan rutin oleh Pemerintah Daerah, baik Kota Surabaya maupun Provinsi Jawa Timur.

"Mereka juga menginginkan tampil di sekolah sekolah. Harus ada dorongan dari Pemerintah Provinsi maupun Kota, untuk bisa setiap sekolah paling tidak SMA, satu SMA satu tahun sekali (mengundang Wayangan, red)," katanya.

Bambang Haryo juga sudah menyampaikan kepada Walikota Surabaya, agar kesenian tradisional ini mendapat tempat pertunjukan di THR (Taman Hiburan Rakyat). Baik seni Wayang, Ketoprak, Ludruk, maupun Campursari.

"Yang dulu ada, diberdayakan lagi. Moga moga ini bisa terealisasi dengan baik," harapnya.

Bahkan Bambang Haryo juga mengaku akan melakukan komunikasi dengan Dirut RRI dan TVRI, agar kesenian tradisional ini mendapat alokasi waktu khusus. "Paling tidak sebulan sekali ada tayang di TVRI dan siaran di RRI, nanti saya hubungi Dirutnya," ucapnya.

Komisi VII yang juga membidangi Pariwisata ini berharap, kesenian tradisional di Jawa Timur, khususnya Kota Surabaya, menjadi daya tarik bagi wisatawan. Sebagaimana yang ada di Bali, bahkan di Thailand, dimana mampu menarik minat wisatawan mancanegara.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....