Morning Person vs Night Person dalam Dunia Kerja, Mana yang Lebih Produktif?
- 16 Apr 2026 18:19 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Perbedaan waktu produktif antara morning person (early bird) dan night person (night owl) kini semakin menjadi perhatian di dunia kerja modern. Seiring tren kerja fleksibel pada 2025, perusahaan mulai mempertimbangkan jam biologis karyawan untuk meningkatkan produktivitas.
Berdasarkan laporan terbaru Sleep Foundation (2025) dalam artikel “Chronotypes: Definition, Types, & Effect on Sleep”, setiap individu memiliki chronotype, yaitu kecenderungan alami tubuh untuk lebih aktif pada waktu tertentu. Hal ini membuat tidak semua orang bisa bekerja optimal di jam yang sama.
Dalam laporan tersebut disebutkan, seseorang yang terbiasa begadang tetap bisa bangun pagi, tetapi belum tentu langsung berada pada kondisi paling produktif. Ini menunjukkan bahwa ritme biologis berperan besar dalam menentukan performa kerja harian.
Secara umum, morning person cenderung lebih segar di pagi hari dan mampu menyelesaikan pekerjaan lebih awal. Sementara itu, night person biasanya mencapai fokus terbaik pada sore hingga malam hari.
Meski kerap dianggap kurang ideal dalam pola kerja konvensional, sejumlah studi menunjukkan bahwa night person tidak kalah produktif. Bahkan, tipe ini sering dikaitkan dengan tingkat kreativitas yang lebih tinggi, sehingga banyak ditemukan di sektor pekerjaan kreatif.
Namun, sistem kerja yang masih didominasi jam pagi kerap menjadi tantangan bagi night person. Penelitian sebelumnya dalam Kobe Journal of Medical Sciences (2019) menunjukkan bahwa individu dengan tipe malam berisiko mengalami kualitas tidur lebih buruk serta penurunan kualitas hidup ketika dipaksa mengikuti jadwal kerja pagi.
Temuan ini sejalan dengan studi lebih awal pada 2017 yang menegaskan bahwa waktu puncak performa setiap individu berbeda secara biologis. Artinya, menyamaratakan jam kerja berpotensi menghambat produktivitas sebagian pekerja.
Para ahli menilai, chronotype merupakan bagian dari ritme alami tubuh yang sulit diubah secara drastis. Karena itu, pendekatan kerja fleksibel dinilai menjadi solusi yang semakin relevan di 2025.
Selain berdampak pada produktivitas, perbedaan jam biologis juga memengaruhi kualitas tidur, energi harian, hingga interaksi sosial di tempat kerja. Hal ini memperkuat pandangan bahwa efektivitas kerja tidak bisa hanya diukur dari satu pola waktu yang sama.
Pada akhirnya, baik morning person maupun night person memiliki keunggulan masing-masing. Dengan memahami ritme tubuh dan menyesuaikannya dengan pola kerja, produktivitas dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan kesehatan.
Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, fleksibilitas waktu dinilai menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan optimal bagi semua individu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....