Fenomena Bed Rotting Picu Kekhawatiran Gangguan Kesehatan Mental

  • 26 Mar 2026 23:27 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID,Surabaya - Fenomena baru yang dikenal dengan istilah bed rotting belakangan ini ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial, khususnya di kalangan generasi muda. Istilah ini merujuk pada kebiasaan menghabiskan waktu lama di tempat tidur bukan untuk tidur, melainkan melakukan aktivitas pasif seperti bermain ponsel, menonton video, atau menelusuri media sosial secara terus-menerus. Popularitasnya pun melonjak, terlihat dari banyaknya konten dengan tagar terkait yang telah ditonton jutaan kali.

Bagi sebagian orang, kebiasaan ini dianggap sebagai bentuk perawatan diri atau self-care yang mudah dan nyaman. Aktivitas tersebut dinilai mampu memberikan jeda dari rutinitas yang padat dan tekanan kehidupan sehari-hari. Terutama bagi mereka yang menghadapi stres akibat pekerjaan, pendidikan, maupun hubungan sosial, bed rotting menjadi pelarian yang terasa menenangkan.

Wenika, psikolog dari Surabaya, mengungkapkan bahwa fenomena ini memang dipandang beragam oleh masyarakat. Saat dihubungi Pro1 melalui sambungan telepon pada Kamis, 26 Maret 2026, ia menjelaskan bahwa banyak orang menganggap aktivitas tersebut sebagai hal yang wajar.

“Bagi sebagian orang, bermain ponsel atau menonton konten secara terus-menerus dianggap sebagai sesuatu yang wajar, bahkan sebagai bentuk perawatan diri untuk melepaskan stres dan rasa kelelahan setelah menghadapi tekanan sehari-hari,” ujarnya.

Namun demikian, Wenika mengingatkan bahwa pandangan tersebut perlu disikapi secara kritis. Ia menegaskan bahwa tidak semua bentuk istirahat memberikan dampak positif, terutama jika dilakukan secara berlebihan.

“Istirahat itu penting, tetapi cara kita beristirahat juga sangat menentukan apakah tubuh dan pikiran benar-benar pulih atau justru semakin lelah,” katanya.

Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan berlama-lama dalam aktivitas pasif seperti ini dapat berdampak negatif. “Menurut penelitian yang dilakukan para ahli, kegiatan bermain ponsel atau menonton konten secara terus-menerus, apabila dilakukan terlalu sering, akan berdampak negatif pada energi tubuh, kesehatan mental, serta produktivitas,” tambah Wenika.

Dari sisi fisik, tubuh yang terlalu lama berada dalam posisi pasif tanpa aktivitas dapat mengalami penurunan sirkulasi darah, melemahnya otot, serta berkurangnya kebugaran. Sementara itu, dari sisi mental, paparan informasi yang terus-menerus tanpa jeda dapat memicu kelelahan kognitif, menurunkan konsentrasi, hingga menyebabkan perubahan suasana hati yang tidak stabil.

Fenomena ini juga kerap dikaitkan dengan gaya hidup generasi muda yang sangat dekat dengan teknologi digital. Tekanan untuk selalu produktif dan terhubung membuat sebagian dari mereka mencari pelarian instan yang mudah diakses. Sayangnya, kebiasaan tersebut sering kali tidak memberikan manfaat jangka panjang dan justru berpotensi menambah beban fisik maupun mental.

Wenika pun mengajak generasi muda untuk mulai menyadari dampak dari kebiasaan ini dan mengubah pola hidup ke arah yang lebih sehat. “Saya mengajak generasi muda untuk membatasi penggunaan gadget atau ponsel dengan memberikan variasi kegiatan fisik lain yang lebih berdampak bagi kesehatan tubuh dan psikis mereka,” tuturnya.

Ia menekankan bahwa perawatan diri yang sesungguhnya adalah aktivitas yang mampu memulihkan energi dan meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar berdiam diri tanpa aktivitas yang bermanfaat.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....