“Pelangi di Mars”, Terobosan Film Sci-Fi Indonesia dengan Teknologi Extended Reality

  • 04 Mar 2026 12:00 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan gebrakan baru lewat film fiksi ilmiah bertajuk Pelangi di Mars. Film produksi Mahakarya Pictures ini tak hanya menawarkan kisah petualangan anak di masa depan, tetapi juga menghadirkan inovasi teknologi dalam proses produksinya.

Mengutip laman resmi Mahakarya Group, film ini diproduksi dengan pendekatan hybrid, yakni menggabungkan pengambilan gambar di dunia nyata dengan teknologi virtual. Sutradara Upie Guava memanfaatkan teknologi XR (Extended Reality), sebuah sistem yang mengombinasikan interaksi grafis hasil olahan komputer dengan elemen nyata secara simultan. Teknologi ini memungkinkan penciptaan lanskap futuristik, termasuk latar Planet Mars pada tahun 2100, secara lebih imersif dan realistis.

Lokasi pengambilan gambar dilakukan di studio khusus DOSS Guava XR Studio, yang dipadukan dengan beberapa set nyata. Studio ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan visual film, terutama untuk menghadirkan lingkungan luar angkasa tanpa sepenuhnya bergantung pada green screen konvensional. Pendekatan ini dinilai mampu memberikan pengalaman visual yang lebih hidup bagi penonton.

Melalui unggahan resminya pada Youtube Mahakarya Channel, mereka membagikan perjalanan produksi film ini terbilang cukup panjang. Riset teknologi telah dimulai sejak 2020, ketika para pembuat film masih mempertimbangkan penggunaan green screen, CGI, atau kombinasi hybrid antara manusia dan robot. Pada 2021, pengembangan naskah serta riset dan pengembangan (RnD) teknologi dilakukan secara intensif. Setahun berikutnya, tim produksi mengembangkan 3D assets dan optimalisasi studio XR.

Memasuki 2024, naskah final dan proses motion picture dimulai dengan dukungan teknologi XR. Menariknya, tim produksi juga merilis pengalaman interaktif Pelangi di Mars di platform Roblox sebagai bagian dari perluasan cerita. Bahkan, tampilan perdana film ini disebut dirilis seolah dikirim dari kamera Mars Orbiter, memperkuat nuansa futuristik yang diusung.

Secara sinopsis, film ini berlatar tahun 2100-an ketika krisis air mengancam masa depan Bumi. Pelangi, anak pertama yang lahir di Mars, berpetualang bersama robot-robot malfunction untuk menemukan Zeolit Omega, mineral yang diyakini mampu memurnikan air. Di tengah misinya, ia menghadapi Nerotek, korporasi raksasa penguasa sumber air. Lewat kisah ini, para pembuat film ingin menghidupkan kembali mimpi anak-anak menjadi ilmuwan dan penjelajah, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai bagian penting dalam upaya penyelamatan Bumi.

Dengan anggaran terbesar dibandingkan lima produksi sebelumnya, Pelangi di Mars dijadwalkan tayang pada Lebaran 2026. Kehadiran film ini diharapkan bukan hanya menjadi tontonan keluarga, tetapi juga tonggak baru pemanfaatan teknologi virtual production dalam perfilman nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....