3 Film Pendek Karya Sineas Indonesia yang Kini Bisa Ditonton di Netflix
- 04 Mar 2026 09:22 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Dunia perfilman pendek Indonesia kembali menunjukkan kreativitasnya di platform global, Netflix. Tiga karya terbaru dari sineas Tanah Air ini layak masuk daftar tontonan. Ketiganya menghadirkan gaya penceritaan unik, tema emosional, sampai pengalaman reflektif yang kuat.
1. Quarantine Tales (2020)
Film antologi ini merupakan kolaborasi lima sutradara Indonesia, Ifa Isfansyah, Dian Sastrowardoyo, Aco Tenri, Sidharta Tata, dan Jason Iskandar. Mengutip laman resmi Netflix, film ini menampilkan lima kisah berbeda yang berlatar masa pandemi COVID-19, dengan ragam genre mulai dari drama hingga komedi, yang merefleksikan dinamika kehidupan masyarakat saat pembatasan sosial.
Netflix juga menyebutkan bahwa Quarantine Tales menghadirkan sudut pandang personal dan relevan tentang relasi antarmanusia di tengah krisis global, menjadikannya salah satu potret sinema Indonesia di masa pandemi yang terdokumentasi secara audiovisual di platform internasional tersebut.
2. My Therapist Said, I Am Full of Sadness (2024)
Film dokumenter pendek karya Monica Vanesa Tedja ini mengangkat perjalanan personal selama tiga tahun dalam memahami relasi keluarga, identitas, dan penerimaan diri. Berdasarkan data di laman resmi filmindonesia.or.id, film ini memanfaatkan arsip pribadi sebagai medium refleksi untuk menjawab kegelisahan emosional yang dialami sang pembuat film.
Pendekatan dokumenter yang intim dan jujur ini memperlihatkan kecenderungan baru sineas muda Indonesia yang berani mengangkat isu kesehatan mental dan dinamika keluarga sebagai tema utama, sekaligus memperkaya ragam sinema nonfiksi nasional.
3. Sammi, Who Can Detach His Body Parts (2025)
Film pendek karya Rein Maychaelson ini tercatat dalam program Asian Perspectives Shorts pada JAFF edisi terbaru. Dalam laman resmi JAFF, film ini termasuk salah satu karya film pendek Asia yang dipilih untuk ditayangkan dalam kurasi festival tersebut.
Secara naratif, film ini mengisahkan Sammi, seorang pria dengan kemampuan unik untuk melepas bagian tubuhnya dan memberikannya kepada orang-orang yang ia cintai. Unsur surealis yang dibalut dengan drama keluarga menjadikan film ini tampil berbeda dan menunjukkan keberanian eksplorasi genre di ranah film pendek Indonesia.
Partisipasi di JAFF menjadi capaian penting, karena festival ini dikenal sebagai salah satu ajang film terbesar di Asia Tenggara yang memberi ruang bagi sineas muda dan karya eksperimental untuk bertemu dengan publik serta jaringan industri film internasional.
Sebagai bagian dari ekosistem perfilman nasional, kehadiran karya-karya ini di platform global seperti Netflix maupun panggung festival seperti Jogja-NETPAC Asian Film Festival menunjuukan bahwa film pendek Indonesia terus berkembang dan mendapat tempat di kancah internasional. Dukungan publik untuk menonton dan mengapresiasi karya sineas Tanah Air menjadi langkah sederhana namun berarti dalam memperkuat industri film nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....