Kurang Tidur? Simak Dampaknya terhadap Konsentrasi dan Mood Harian

  • 25 Feb 2026 13:41 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya – Kamu sering kurang tidur? Kebiasaan tidur larut malam kerap dianggap sepele, terutama di tengah padatnya aktivitas kerja tuntutan gaya hidup digital. Padahal kurangnya tidur dapat berdampak langsung pada konsentrasi dan kestabilan emosi atau mood seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Sejumlah penelitian internasional menunjukkan bahwa kualitas dan durasi tidur memiliki peran penting dalam menjaga fungsi kognitif serta kesehatan mental.

Menurut penelitian dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) berjudul Effects of Sleep Deprivation on Emotion Regulation: A Systematic Review (2021) bahwa kurang tidur ternyata berhubungan erat dengan perubahan suasana hati, termasuk meningkatnya rasa mudah marah, cemas, dan stres. Dalam publikasinya, CDC menegaskan bahwa tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan proses biologis penting yang membantu otak mengatur emosi dan memproses informasi.

Senada dengan itu, pada tahun 2023 National Institutes of Health (NIH) pada penelitian yang berjudul The Effects of Insufficient Sleep and Adequate Sleep on Cognitive Function in Healthy Adults, orang dewasa disarankan untuk tidur selama 7 hingga 9 jam per malam guna menjaga performa otak tetap optimal. Kurang tidur secara konsisten dapat menurunkan kemampuan fokus, memperlambat respons, serta meningkatkan risiko kesalahan dalam pengambilan keputusan.

Sebuah analisis yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah berjudul The Effect of Sleep Deprivation and Restriction on Mood, Emotion, and Emotion Regulation (2021) oleh Cara C. Tomaso menemukan bahwa kurang tidur berkaitan dengan meningkatnya suasana hati negatif seperti mudah marah dan cemas, serta menurunnya kemampuan seseorang dalam mengendalikan emosinya secara sehat. Penelitian tersebut menegaskan bahwa kekurangan tidur tidak hanya membuat tubuh lelah, tetapi juga memengaruhi kestabilan perasaan dalam aktivitas sehari-hari.

Temuan serupa juga terlihat dalam penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Awal Bros Pekanbaru. Studi berjudul Hubungan antara Kualitas Tidur dengan Tingkat Stres pada Perawat Dinas Malam yang dipimpin (2024) oleh dr. Intan Nur Sari menemukan bahwa tenaga kesehatan yang mengalami kualitas tidur buruk cenderung memiliki tingkat stres lebih tinggi serta mengalami penurunan konsentrasi saat bertugas. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa durasi dan kualitas tidur yang tidak optimal berdampak langsung pada fokus kerja dan kestabilan emosi, terutama pada profesi dengan beban kerja tinggi. Menurutnya juga, gangguan tidur pada pekerja shift malam dapat memengaruhi kemampuan berpikir dan berkonsentrasi, seperti kemampuan mengambil keputusan dan mempertahankan perhatian dalam waktu lama.

Menurut Dr. Lawrence J. Epstein dari Harvard Medical School di Boston, Amerika Serikat, dalam artikelnya berjudul Improving Sleep: A Guide to a Good Night’s Rest (2020) yang diterbitkan melalui Harvard Health Publishing merekomendasikan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu memperbaiki kualitas tidur, seperti membatasi penggunaan gawai sebelum tidur, mejaga jadwal tidur yang konsisten, serta menjaga kebersihan lingkungan kamar, dan usahakan minim cahaya pada malam hari.

Kesadaran terhadap pentingnya tidur yang cukup menjadi kunci dalam menjaga produktivitas dan kesehatan mental. Ada yang tuntutan aktivitas modern, istirahat berkualitas atau tidur yang cukup bukan lagi sekedar pilihan, melainkan kebutuhan yang mendasar agar tubuh dan pikiran tetap seimbang dalam menjalani hari. (Salsa/MG)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....