Dua Ending UMIGARI dan Makna yang Tersirat

  • 17 Feb 2026 19:57 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Game UMIGARI yang sudah dirilis pada awal Februari 2026 kemarin untuk platform PC melalui Steam menghadirkan pengalaman memancing dengan balutan cerita simbolis dan atmosfer misterius. Dalam permainan UMIGARI yang penuh simbolisme dan suasana aneh, dua akhir cerita yang sangat berbeda memaksa pemain mempertimbangkan makna moral dari setiap pilihan yang mereka buat sepanjang permainan. Dilansir dari NeonLightsMedia.com, berikut penjelasan lengkapnya.

UMIGARI bukan sekadar game memancing, tetapi ia menghadirkan komentar tajam tentang keserakahan, kekerasan, dan kemungkinan perubahan dalam manusia dan makhluk lain. Permainan ini berlatar di dunia terbalik di mana manusia berubah menjadi ikan dan ikan menjadi manusia setelah kutukan besar terjadi.

Kutukan tersebut dipicu oleh seekor paus yang bosan mendengar jeritan ikan yang disiksa dan diburu bertahun-tahun lamanya. Dunia kemudian tergenang air, diselimuti kabut tebal, dan dipenuhi makhluk yang dulunya ikan namun kini hidup dalam bentuk humanoid penuh amarah.

Pemain mengendalikan seorang nelayan yang terjebak dalam dunia tersebut. Misinya adalah mengumpulkan tablet-tablet untuk membuka sebuah tempat suci yang membawanya menuju sang paus mahakuasa. Sepanjang perjalanan, pemain bertemu berbagai entitas laut dan makhluk grotesk, yakni makhluk dengan bentuk aneh, menyeramkan, dan tidak lazim, yang merepresentasikan amarah serta penderitaan laut.

Salah satu musuh utama adalah Umiga, sosok raksasa berbentuk kepala perempuan yang mengejar perahu pemain di lautan terbuka. Ada pula Umibozu, figur bayangan besar dari folklore Jepang yang mencoba menjatuhkan perahu atau memakan pemain di dekat stasiun kereta bawah air.

Puncak cerita terjadi ketika pemain akhirnya bertemu dengan paus, entitas tertinggi yang menilai apakah kutukan harus dihapus atau tetap ada. Di sinilah dua ending UMIGARI muncul, bergantung pada jawaban pemain atas serangkaian pertanyaan moral tentang sifat manusia dan pengalaman selama permainan.

Ending A, bertajuk "The Cycle of Violence" atau Siklus Kekerasan, terjadi jika pemain mengakui bahwa manusia adalah jahat. Kutukan dihapus, air surut, dan manusia kembali seperti sediakala. Namun, permainan ini menegaskan bahwa tidak ada pelajaran yang dipetik sehingga siklus kekerasan pun terulang.

Sebaliknya, Ending B, bertajuk "The Coexistence" atau Koeksistensi, muncul jika pemain memilih bahwa masih ada harapan bagi manusia dan makhluk laut. Kutukan tetap ada, tetapi dunia berubah menjadi ruang hidup berdampingan yang lebih harmonis. Kedua akhir cerita tersebut menyampaikan refleksi kuat tentang kekuasaan, tanggung jawab, dan kemungkinan perubahan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....