Cek Barang di Mall, Belanja di Online, Mengapa?

  • 27 Jan 2026 18:56 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Di saat dunia digital semakin berkembang, cara orang berbelanja juga ikut terpengaruh. Kalau dulu orang-orang menginginkan suatu barang, mereka langsung datang dan belanja ke mall atau pusat perbelanjaan. Fenomena yang terjadi saat ini, orang memang tetap datang ke mall, namun alih-alih langsung membeli saat itu juga, mereka justru memilih untuk checkout atau berbelanja melalui online marketplace. Mengapa demikian?

Mengutip dari jurnal yang diterbitkan oleh teewanjournal.com berjudul Dampak Perilaku Showrooming dan Webrooming pada Perbandingan Pengaruh Harga Produk terhadap Keputusan Pembelian Konsumen, menyebutkan istilah “Showrooming”.  Showrooming adalah istilah ilmiah untuk perilaku konsumen yang Melihat, menyentuh, mencoba produk di toko fisik terlebih dahulu, tapi akhirnya membeli barang itu secara online.

Selain itu mengutip dari salsify.com tentang Harga & Efisiensi juga menyebutkan mudahnya melakukan perbandingan harga dan biaya lebih mudah online untuk menentukan harga terbaik. Apalagi marketplace yang sering memberi diskon, cashback, gratis ongkir. 

Secara psikologis, ini disebut perilaku konsumen yang memaksimalkan utilitas yaitu orang mencari nilai terbaik untuk uang yang mereka keluarkan.Studi ritel di Amerika Serikat menunjukkan konsumen cenderung memilih kanal pembelian yang memberikan nilai ekonomi paling menguntungkan.

Selain harga, aspek psikologis turut berperan. Peneliti perilaku konsumen menjelaskan bahwa pengalaman sensorik melihat dan menyentuh barang secara langsung dapat menurunkan risiko kesalahan pembelian. Setelah kepastian produk diperoleh di toko fisik, konsumen merasa lebih aman untuk membeli secara online.

Survei yang dimuat dalam media ritel internasional Retail Dive mengungkapkan bahwa lebih dari separuh konsumen di Amerika Serikat mengunjungi toko fisik terlebih dahulu sebelum membeli produk secara online. Temuan ini menunjukkan bahwa showrooming merupakan fenomena global, bukan hanya terjadi di satu negara atau wilayah tertentu.

Pasca pandemi COVID-19, tren ini semakin menguat. Penelitian ritel internasional mencatat bahwa kebiasaan belanja digital yang terbentuk selama pandemi tidak sepenuhnya ditinggalkan. Akibatnya, fungsi pusat perbelanjaan pun bergeser dari pusat transaksi menjadi ruang pengalaman, sementara transaksi utama berpindah ke genggaman tangan melalui layar ponsel.

Fenomena ini membuat toko fisik beresiko hanya menjadi tempat melihat barang, sementara transaksi berpindah ke online marketplace yang menawarkan harga dan kemudahan. Oleh karena itu agar toko fisik tidak kehilangan pelanggan, maka penjual perlu menggabungkan keunggulan offline dan online, seperti layanan personal, memberikan kemudahan transaksi, promo, dan pengiriman cepat di kanal digital. .


google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....