Deddy Otara, Menghidupkan Sejarah lewat Koleksi

  • 07 Sep 2026 12:52 WIB
  •  Surabaya

RRI.CO.ID, Surabaya - Sebuah benda lama mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun, bagi Deddy Otara, Penulis Buku yang juga Founder Omah Otara, benda-benda tersebut dapat menjadi pintu untuk mengenali manusia, kehidupan, dan sebuah zaman yang pernah berlangsung.

Ketertarikan Deddy terhadap benda-benda unik berawal dari pengalaman masa kecil. Tidak semua benda yang diinginkannya ketika kecil dapat dimiliki. Ketika dewasa dan mulai memiliki penghasilan sendiri, Deddy kemudian berkesempatan membeli berbagai benda yang dahulu hanya bisa diinginkannya.

Kebiasaan tersebut perlahan berkembang menjadi kegemaran mengoleksi. Berbagai benda lama dan unik mulai dikumpulkan, termasuk benda-benda yang memiliki nilai sejarah. Namun, semakin banyak koleksi yang dimiliki, Deddy justru menyadari bahwa benda-benda tersebut tidak cukup hanya disimpan.

Ia tidak ingin koleksinya sekadar memenuhi rumah, kemudian tersimpan di gudang tanpa diketahui kisah di baliknya. “Saya tidak ingin barang-barang itu hanya teronggok di rumah, kemudian masuk gudang. Saya berpikir, bagaimana benda-benda ini bisa punya cerita dan orang lain bisa mengetahui cerita di balik benda tersebut,” ucap Deddy Otara kepada RRI Surabaya, Sabtu, 5 September 2026.

Pemikiran itu kemudian mengubah cara Deddy memperlakukan koleksinya. Ia tidak hanya mencari dan membeli benda, tetapi juga mulai menelusuri informasi mengenai asal-usul, fungsi, pemilik, hingga cerita yang melekat pada benda tersebut.

Majalah lama, perlengkapan perjalanan ibadah haji dari masa lampau, radio, hingga berbagai benda lainnya menjadi bagian dari penelusurannya. Bagi Deddy, sebuah benda dapat menjadi pintu masuk untuk memahami kehidupan masyarakat pada masa tertentu.

Kegemaran mengumpulkan benda pun bertemu dengan profesinya sebagai penulis. Deddy mulai mengumpulkan berbagai referensi dan mendalami cerita yang berada di balik benda-benda koleksinya.

Salah satu ketertarikannya adalah terhadap sosok seniman Tan Tjeng Bok. Ketertarikan itu bermula ketika Deddy membeli tiga kaset lawas Tan Tjeng Bok pada 2011. Dari benda tersebut, ia kemudian menelusuri lebih jauh kehidupan sang seniman dan mengumpulkan berbagai artefak yang berkaitan dengannya.

Bersama Fandy Hutari, Deddy kemudian menulis buku Tan Tjeng Bok: Seniman Tiga Zaman yang diterbitkan pada 2019. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa bagi Deddy, mengoleksi bukan sekadar aktivitas mengumpulkan barang. Ada proses pencarian informasi dan upaya memahami konteks sejarah yang menyertai setiap benda.

Dari pemikiran itu pula kemudian berkembang Omah Otara. Rumah pribadi Deddy tidak lagi hanya menjadi tempat menyimpan koleksi, tetapi menjadi ruang bagi masyarakat untuk melihat benda sekaligus mengenal cerita yang ada di baliknya.

“Yang ingin saya bagikan bukan hanya barangnya, tetapi cerita di balik barang tersebut,” ujar Deddy.

Keberadaan Omah Otara juga bersinggungan dengan upaya memperluas literasi kearsipan. Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat Komunitas Omah Otara sebagai salah satu komunitas yang terlibat dalam deklarasi Jaringan Komunitas Sahabat Arsip pada 2022.

Melalui jejaring tersebut, informasi kearsipan diharapkan dapat disampaikan kepada masyarakat dengan cara yang lebih menarik dan sesuai dengan perkembangan zaman. Bagi Deddy, upaya mengenalkan sejarah kemudian tidak berhenti di ruang koleksi. Ia juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram, YouTube, dan TikTok untuk menceritakan kembali tokoh-tokoh nasional maupun sejarah yang terdapat di balik benda-benda koleksinya.

Cara tersebut menjadi bagian dari upayanya mendekatkan sejarah dengan masyarakat, termasuk generasi muda yang semakin banyak memperoleh informasi melalui ruang digital. Kiprah Deddy sebagai penulis sejarah juga berlanjut. Pada 2024, ia tercatat sebagai penulis naskah Sudut Terlipat di Panggung Tan Tjeng Bok, bagian dari program Di Tepi Sejarah yang mengangkat kisah tokoh-tokoh Indonesia melalui pertunjukan monolog.

Perjalanan Deddy Otara bermula dari kegemaran mengumpulkan benda-benda yang dahulu tidak mudah dimilikinya. Namun, seiring waktu, koleksi tersebut membawanya pada perjalanan yang lebih panjang: mencari cerita, menelusuri sejarah, dan membagikannya kepada masyarakat.

Bagi Deddy, benda lama bukan sekadar peninggalan masa lalu. Di baliknya terdapat manusia, peristiwa, dan kehidupan yang pernah ada. Ketika cerita itu kembali disampaikan, benda tersebut pun seolah mendapatkan kehidupan untuk kedua kalinya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....