Sebelum BBM Mengalir, Ada Hitungan yang Tak Boleh Salah
- 25 Agt 2026 10:08 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Fuel Terminal Malang beroperasi dengan ritme berbeda dari kesibukan kota, mengelola proses pemeriksaan teknis presisi untuk ribuan liter bahan bakar setiap harinya.
- Armada truk tangki raksasa berwarna merah-putih melakukan antrian tertib di terminal untuk proses pemindahan bahan bakar sebelum meluncur ke berbagai daerah.
- Terminal ini merupakan pusat distribusi logistik yang strategis, menghubungkan pasokan bahan bakar dengan kebutuhan operasional jaringan transportasi regional Jawa Timur.
RRI.CO.ID, Malang - Matahari mulai meninggi ketika saya berdiri di depan gerbang Fuel Terminal Malang. Pukul setengah sepuluh pagi. Dari luar, suara kendaraan di jalan raya terdengar ramai. Sepeda motor dan mobil terus melintas, sebagian mengejar jam kerja.
Suasana berbeda terasa setelah masuk ke area terminal. Sejumlah truk tangki antre untuk melakukan pengisian. Setelah pemeriksaan, kendaraan satu per satu bergerak keluar membawa BBM menuju SPBU di wilayah penyaluran.
Aktivitas itu sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum saya tiba. Di terminal, penyaluran BBM berjalan sejak dini hari. Ketika sebagian warga Malang Raya masih tidur, petugas sudah menyiapkan armada untuk mengirim pasokan ke SPBU.
Dari tempat inilah saya kemudian melihat bahwa perjalanan BBM tidak sesederhana yang terlihat ketika nozzle dispenser mulai mengucur. Sebelum truk berangkat, ada stok yang harus diperiksa, ruang tangki SPBU yang harus dihitung, serta tujuan pengiriman yang harus ditentukan.
Keputusan tersebut kemudian berpindah dari ruang kontrol ke jalan raya. Ada petugas yang menghitung kebutuhan, ada awak mobil tangki yang membawa muatan, dan ada SPBU yang menunggu pasokan.
Semua proses itu berlangsung jauh dari perhatian pengendara yang setiap hari datang mengisi bahan bakar. Bagi mereka, ukuran kelancaran distribusi mungkin sederhana datang ke SPBU, mengisi BBM, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Tetapi dari balik gerbang Fuel Terminal Malang, saya menemukan cerita yang berbeda. Sebelum BBM sampai ke tangki kendaraan, ada angka yang lebih dulu menentukan berapa banyak yang harus bergerak.

Dini Hari, Ketika Kota Belum Bergerak
Enam setengah jam sebelum saya tiba di Fuel Terminal Malang, aktivitas di area pemuatan sudah dimulai. Pukul tiga pagi, armada truk tangki mulai disiapkan untuk mengangkut BBM ke sejumlah SPBU. Saat sebagian warga Malang Raya masih tidur, kendaraan-kendaraan itu sudah bergantian masuk ke area pengisian.
Dolly Pratama Yudha, Fuel Terminal Manager Pertamina Malang, mengatakan kegiatan penyaluran memang dimulai sejak dini hari.“Kami memang selalu mulai operasional penyaluran dari jam tiga pagi. Teman-teman sudah start mengisi armada sejak jam itu,” kata Dolly saat ditemui beberapa waktu lalu.
Menurut Dolly, dalam kondisi normal Fuel Terminal Malang menyalurkan sekitar 2.200 kiloliter BBM per hari untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Malang Raya dan sejumlah daerah lain dalam wilayah pelayanan. Jumlah tersebut bisa meningkat ketika kebutuhan masyarakat ikut naik.
Memasuki Agustus, misalnya, aktivitas masyarakat meningkat seiring berbagai kegiatan seperti pesta rakyat dan pawai. Penyaluran BBM bisa mencapai sekitar 2.600 kiloliter per hari.
Kenaikan itu membuat pergerakan armada di terminal ikut bertambah. Truk tangki keluar-masuk membawa pasokan menuju SPBU sesuai kebutuhan yang telah ditentukan.
Penyaluran juga tidak berhenti pada hari kerja. Menurut Dolly, terminal tetap beroperasi pada Sabtu, Minggu maupun hari libur.“Kita tidak pernah tutup. Hari Sabtu, Minggu, atau tanggal merah tetap buka,” ujarnya.
Pada periode dengan mobilitas tinggi, termasuk Idul Fitri dan Natal, jadwal penyaluran bahkan bisa dimajukan. Dolly mengatakan pengisian armada dapat dimulai sekitar pukul dua dini hari agar pasokan sudah bergerak sebelum aktivitas masyarakat meningkat.
Dari sini terlihat satu hal sebelum masyarakat mengisi BBM pada pagi hari, sebagian prosesnya sudah berlangsung beberapa jam sebelumnya. Truk lebih dulu bergerak, membawa pasokan yang telah dihitung dan dialokasikan untuk SPBU yang membutuhkan..

Matematika Alokasi di Layar Kontrol
Setelah armada disiapkan sejak dini hari, ada pekerjaan lain yang berlangsung di ruang kontrol. Ketika beberapa SPBU membutuhkan pasokan dalam waktu berdekatan, jumlah BBM yang dikirim tidak serta-merta mengikuti angka permintaan.
Ery Cahya Suprapta, Supervisor Reserving and Distribution Fuel Terminal Pertamina Malang, menjelaskan bahwa salah satu yang dilihat adalah ruang kosong atau ullage pada tangki pendam SPBU.
“Logikanya, kita kirim BBM sebesar ruang kosong (ullage) yang tersisa di tangki pendam SPBU, bukan sebesar permintaan mereka. Tapi dalam praktiknya, angka itu jarang pas,” ujar Ery.
Ia kemudian memberikan contoh. Jika sebuah SPBU mengajukan permintaan 24 kiloliter, tetapi ruang kosong tangkinya tidak memungkinkan seluruh jumlah tersebut masuk, pengiriman harus disesuaikan.
“Misalkan permintaan SPBU ada 24 kiloliter, tapi ruang kosong di tangki pendam mereka hanya muat 10, kita kirim 8 kiloliter,” jelasnya.
Angka 24 dan 8 kiloliter tersebut merupakan ilustrasi yang diberikan Ery untuk menjelaskan cara kerja alokasi. Artinya, jumlah yang diminta SPBU tidak selalu sama dengan jumlah yang diberangkatkan dari terminal. Pasokan disesuaikan dengan kondisi tangki dan kebutuhan di lapangan.
Dari ruang kontrol itu pula ditentukan SPBU mana yang perlu lebih dulu mendapat pasokan. Menurut Ery, tingkat kekritisan stok menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan prioritas pengiriman, bukan semata-mata jarak SPBU dari terminal.
Ada pula batas waktu yang harus diperhatikan. Pengiriman pada malam hari harus diselesaikan sebelum tengah malam karena setelah itu dilakukan proses pembukuan dan closing pergerakan stok harian.
“Pengiriman malam harus tuntas sebelum jam 12, karena ada proses pembukuan dan closing stok pergerakan minyak harian,” kata Ery.
Dengan demikian, pekerjaan di ruang kontrol bukan hanya mencatat berapa banyak BBM yang diminta. Ada stok yang harus dibaca, ruang tangki yang harus diperhitungkan, prioritas yang harus ditentukan, dan waktu pengiriman yang harus disesuaikan.
Di layar komputer, semua itu masih berupa angka. Beberapa saat kemudian, angka tersebut akan berubah menjadi muatan di atas truk dan dibawa menuju SPBU.

Belasan Tahun Menembus Jalan Sunyi
Setelah alokasi pasokan ditentukan, proses berikutnya berpindah ke jalan. Mimar Ambari, salah satu Awak Mobil Tangki (AMT) yang telah lebih dari 15 tahun mengemudikan truk tangki Pertamina, bertugas membawa angka-angka itu menembus keheningan malam menuju daerah tujuan seperti Tulungagung.
Sebelum satu pun roda armada seberat puluhan ton itu melindas jalan raya, ada ritual keselamatan yang tidak bisa ditawar. "Sebelum jalan, bukan cuma kendaraan yang diperiksa, kesehatan kita juga dikontrol ketat. Ada tes kesehatannya dulu melalui sistem fit-to-work. Kalau sudah dinyatakan ready, baru boleh jalan," kata Mimar.
Begitu keluar dari pintu gerbang terminal, geraknya dipantau secara real-time oleh teknologi GPS dan empat kamera CCTV di sekeliling kendaraan. "Kalau kita lengah atau melanggar sedikit saja di jalan, langsung kelihatan dari pusat kontrol," ujarnya. Satu unit armada yang dibawanya mampu mengangkut hingga 32 kiloliter BBM yang terbagi dalam beberapa kompartemen terpisah cukup untuk menyuplai dua SPBU berbeda dalam satu kali jalan.
Risiko terbesar di jalanan, menurut Mimar, justru datang dari pengguna jalan lain yang kurang memahami bahaya di sekitar truk muatan bahan bakar. Menyalip sembarangan atau memotong jalan di depan truk tangki adalah pemandangan yang kerap ia temui. Di balik kemudi, Mimar harus selalu menjaga konsentrasi penuh agar muatan bernilai tinggi dan berisiko besar itu tiba tanpa celah keselamatan.
Namun, hal paling berat yang dirasakannya belasan tahun di jalanan bukanlah kemacetan atau medan yang sulit, melainkan mengelola rasa cemas keluarga di rumah. "Keluarga pasti khawatir. Kita berangkat pagi, pulang juga sering masih gelap. Di jalan kan risikonya membawa BBM," ucap Mimar lirih. Meski begitu, belasan tahun mengabdi, ia selalu berusaha memastikan BBM sampai di tujuan dengan selamat.

Ketika Hitungan di Layar Bertemu Antrean
Seluruh perhitungan di meja alokasi Ery pada akhirnya harus berujung di tempat yang paling mudah dilihat masyarakat dispenser SPBU. Di sana, angka-angka yang sebelumnya muncul di layar kontrol berubah menjadi BBM yang mengalir ke tangki kendaraan. Bagi pengendara, prosesnya sederhana datang, mengisi, membayar, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Namun ketika pasokan terlambat, kerumitan di baliknya baru terasa.
Fredy, warga yang ditemui saat mengisi BBM, masih mengingat ketika harus menghadapi antrean panjang di SPBU. Waktu tunggunya sekitar 20 hingga 30 menit. Bagi orang yang sedang mengejar pekerjaan atau urusan lain, waktu selama itu bukan sekadar angka di jam.
“Waktu itu memang cukup ramai, saya menunggu sekitar 20 sampai 30 menit. Paling terasa tentu ke waktu, jadwal aktivitas dan urusan hari itu jadi berantakan dan terlambat,” tuturnya.
Laini merasakan hal serupa. Sebagai warga yang mengandalkan kendaraan untuk mobilitas sehari-hari, antrean BBM berarti ada waktu yang harus dipindahkan dari pekerjaan atau urusan keluarga ke depan dispenser.
“Waktu yang seharusnya dipakai untuk bekerja atau mengurus keluarga malah habis untuk antre BBM. Harapan kami sederhana, ketersediaan BBM selalu terjaga dan distribusinya lancar, karena BBM ini sudah jadi kebutuhan pokok,” ujarnya.
Fredy dan Laini tentu tidak melihat layar yang dipantau di terminal. Mereka juga tidak berada di balik kemudi ketika para sopir membawa muatan BBM melewati jalanan malam. Yang mereka rasakan jauh lebih sederhana: berapa lama harus menunggu sebelum kendaraan kembali bisa bergerak.
Di situlah jarak antara hulu dan hilir terasa. Di terminal, pasokan dibaca melalui angka, ruang kosong tangki dan tingkat kebutuhan. Di jalan, keputusan itu menjadi muatan yang harus sampai dengan selamat. Di SPBU, seluruh proses tersebut akhirnya hanya terlihat melalui satu hal: BBM mengalir atau tidak.
Bagi pengendara, mungkin tidak ada alasan untuk memikirkan bagaimana 24 kiloliter permintaan bisa berubah menjadi jumlah pengiriman yang berbeda setelah ruang kosong tangki diperiksa. Tetapi bagi mereka yang mengatur distribusi, angka itu menentukan perjalanan berikutnya.

Beban di Balik Layar Dispenser
Di depan dispenser SPBU, perjalanan panjang BBM berakhir dalam pemandangan yang sederhana. Nozzle diangkat, angka pada meteran bergerak, tangki kendaraan terisi. Bagi pengendara, proses itu mungkin hanya berlangsung beberapa menit sebelum perjalanan kembali dilanjutkan.
Namun, sebelum BBM sampai di titik itu, ada sejumlah angka yang harus diperiksa. Ruang kosong di tangki pendam SPBU, kondisi stok, jumlah pasokan dan waktu pengiriman menjadi pertimbangan di ruang kontrol. Dari sana, keputusan dibuat berapa yang dikirim, ke mana armada bergerak, dan kapan harus tiba.
Bagi Ery, angka-angka itu muncul di layar dan harus dibaca sebelum keputusan pengiriman dibuat. Bagi Mimar, keputusan tersebut berubah menjadi muatan puluhan ton yang harus dibawa melewati jalan raya.
Pekerjaan mereka berlangsung di tempat yang jarang dilihat konsumen. Ery berhadapan dengan angka dan stok. Mimar berhadapan dengan jalan, waktu dan keselamatan. Di terminal, petugas lain menyiapkan armada berikutnya untuk kembali bergerak.
Bagi masyarakat, kerumitan itu biasanya baru terasa ketika pasokan terlambat atau antrean di SPBU memanjang. Ketika semuanya berjalan sebagaimana mestinya, proses panjang di belakang dispenser justru tidak terlihat.
Di situlah cerita ini bermula. BBM yang terlihat sederhana ketika mengalir ternyata telah melewati rangkaian keputusan sebelum sampai ke tangki kendaraan. Ada angka yang diperiksa, ada orang yang mengambil keputusan, dan ada pengemudi yang membawa keputusan itu sampai ke tujuan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....