Sebelum BBM Mengalir, Ada Hitungan yang Tak Boleh Salah
- 25 Agt 2026 10:08 WIB
- Surabaya
Poin Utama
- Fuel Terminal Malang beroperasi dengan ritme berbeda dari kesibukan kota, mengelola proses pemeriksaan teknis presisi untuk ribuan liter bahan bakar setiap harinya.
- Armada truk tangki raksasa berwarna merah-putih melakukan antrian tertib di terminal untuk proses pemindahan bahan bakar sebelum meluncur ke berbagai daerah.
- Terminal ini merupakan pusat distribusi logistik yang strategis, menghubungkan pasokan bahan bakar dengan kebutuhan operasional jaringan transportasi regional Jawa Timur.
RRI.CO.ID, Malang - Pukul 09.30 WIB. Matahari mulai memanaskan aspal Kota Malang ketika truk-truk tangki merah putih bergerak memasuki Fuel Terminal Malang. Satu per satu kendaraan melewati pemeriksaan sebelum menuju area pengisian.
Bagi Mimar Ambari, Awak Mobil Tangki (AMT) yang telah menjalani pekerjaan itu selama 15 tahun, pemeriksaan sebelum berangkat sudah menjadi rutinitas. Bukan hanya kendaraan. Kondisi pengemudi juga harus dipastikan siap.
“Sebelum berangkat itu kendaraan sama kita juga dikontrol kesehatan. Kalau sudah ready, baru boleh berjalan,” ujar Mimar.
Ia bekerja dengan sistem 12 jam. Dalam satu perjalanan, truk yang dikemudikannya dapat membawa hingga 32 kiloliter (KL) BBM dengan beberapa jenis produk sekaligus.
“Kalau aku kan bawa yang 32 KL, jadi ada Pertamax, Pertalite, Solar. Itu sudah bisa sekali langsung. Dua SPBU bisa dikirim,” katanya.
Membawa BBM dalam jumlah besar membuat perjalanan di jalan raya tidak bisa dianggap biasa. Mimar mengatakan kendaraan terus dipantau melalui GPS dan kamera.
“Sekarang ada GPS, kita selama di jalan dipantau terus. Ada CCTV sekarang. Kalau kita lengah, kelihatan apa yang melanggar, langsung ketemu,” ujarnya.
Teknologi tersebut menjadi bagian dari pengawasan selama kendaraan berada di jalan. Namun risiko tetap ada, terutama ketika berhadapan dengan pengguna jalan lain.
“Memang tantangannya kadang-kadang kita kan penuh risiko. Di jalan kadang-kadang orang nggak paham,” katanya.
Bagi Mimar, perjalanan membawa BBM bukan hanya soal mencapai tujuan. Ia juga harus memastikan dirinya dan muatan tiba dengan selamat.

Ketika Rel Ikut Membawa Energi
Perjalanan BBM menuju Malang tidak seluruhnya ditempuh melalui jalan raya. Sebagian pasokan lebih dulu bergerak dari Surabaya menggunakan kereta api ketel atau Rail Tank Wagon (RTW) menuju Fuel Terminal Malang.
Dalam keterangan KAI Daop 8 Surabaya pada periode Angkutan Lebaran 2025, terdapat tiga perjalanan kereta setiap hari pada relasi Benteng–Malang Kotalama. Rata-rata 56 gerbong ketel dioperasikan untuk relasi tersebut, dengan volume angkutan mencapai 2.880 ton BBM per hari.
Angka tersebut menunjukkan bahwa rel telah menjadi bagian dari pola pasokan energi menuju Malang. Kereta dan mobil tangki memiliki tugas berbeda. Kereta membawa pasokan dari Surabaya menuju terminal. Setelah tiba, BBM masuk ke tangki timbun sebelum kembali didistribusikan menggunakan mobil tangki ke SPBU. Dari rel, BBM berpindah ke tangki. Dari tangki, kembali ke jalan raya.

Dibalik Tangki Data Menentukan
BBM yang tiba di Fuel Terminal Malang tidak serta-merta dikirim kembali ke SPBU. Ada perhitungan mengenai berapa banyak pasokan yang dapat diterima dan kapan harus dikirim.
Ery Cahya Suprapta, Supervisor Receiving and Distribution Pertamina Fuel Terminal Malang, mengatakan kebutuhan stok disesuaikan dengan kapasitas aman masing-masing tangki.
“Kita sesuaikan dengan yang namanya ruang kosong. Jadi ruang kosongnya itu kita lifting up sebanyak ruang kosong yang ada,” ujar Ery.
Kapasitas tangki berbeda-beda, mulai sekitar 300 hingga 1.000 KL. Jika tangki berkapasitas 1.000 KL masih berisi sekitar 400 KL, misalnya, ruang kosongnya sekitar 600 KL. Ruang itulah yang menjadi salah satu dasar permintaan tambahan pasokan.
Supply point Fuel Terminal Malang berasal dari Integrated Terminal Surabaya Bandaran. Pasokan dikirim menggunakan Rail Tank Wagon atau kereta api.
Dalam operasionalnya, Ery menyebut terdapat tiga ritase pengiriman BBM dengan kapasitas sekitar 750 KL pada masing-masing ritase. Namun, keputusan distribusi tidak berhenti pada kondisi tangki terminal.
Permintaan SPBU dipantau melalui sistem digital. Dashboard memberikan informasi mengenai jumlah produk, kapasitas tangki pendam, hingga ketahanan stok. Data itu kemudian dibandingkan dengan permintaan yang masuk.
“Jadi permintaan mereka kita compare dengan kondisi aktual saat itu,” kata Ery.
Jika permintaan SPBU lebih besar daripada ruang kosong tangkinya, jumlah pengiriman disesuaikan. Sebab, mobil tangki membutuhkan ruang untuk membongkar muatan. Jika tangki SPBU tidak memiliki ruang yang cukup, kendaraan tidak dapat segera membongkar dan kembali mengambil pasokan untuk perjalanan berikutnya. Karena itu, pengiriman diprioritaskan berdasarkan kondisi stok.
Ery mengatakan SPBU dengan ketahanan stok lebih rendah menjadi prioritas, tanpa semata-mata melihat wilayahnya.“Yang kita prioritaskan untuk pengiriman yang stoknya menipis, itu terlepas wilayahnya di mana,” ujarnya.
Pergerakan mobil tangki juga dipantau secara digital melalui GPS dan kamera. Ketika konsumsi meningkat, pola penyaluran dapat disesuaikan. Pada hari raya, tahun baru, atau periode libur, jam operasional dapat dimajukan. Jika biasanya dimulai pukul empat pagi, penyaluran dapat dimulai pukul tiga atau bahkan dua pagi.Tujuannya agar kebutuhan SPBU terpenuhi lebih awal.

Ketika Kota Bergerak, Terminal Tak Boleh Berhenti
Keputusan di ruang kontrol akhirnya bermuara ke jalan raya.Fuel Terminal Malang menyalurkan BBM ke sekitar 135 SPBU di wilayah layanan empat kota dan tiga kabupaten.
Fuel Terminal Manager Malang, Dolly Pratama Yuda, mengatakan penyaluran normal berada di kisaran 2.200 KL per hari. Angka itu dapat meningkat menjadi 2.500 hingga 2.600 KL ketika mobilitas masyarakat naik, seperti saat musim liburan, hari raya, maupun berbagai kegiatan di kawasan Malang dan sekitarnya.
“Untuk BBM sendiri rata-rata di kami sehari-hari 2.200, tapi untuk peak load-nya bisa 2.500 sampai 2.600,” kata Dolly.
Pertalite menjadi salah satu produk dengan volume penyaluran terbesar, sekitar 1.300 hingga 1.500 KL per hari. Biosolar berada di kisaran 500 hingga 600 KL, sedangkan Pertamax sekitar 300 KL per hari.
Tantangan distribusi tidak hanya soal volume. Kondisi jalan juga menentukan jenis armada yang digunakan. Di sejumlah wilayah Kabupaten Malang, jalur yang relatif sempit dan jauh membuat kendaraan tangki berukuran besar tidak selalu dapat melintas. Penyaluran ke wilayah tertentu harus menggunakan kendaraan dengan kapasitas lebih kecil. Akibatnya, satu titik dapat membutuhkan lebih dari satu perjalanan.
“Teman-teman retail untuk selalu pemenuhan titik-titik kritis SPBU yang didahulukan melakukan penyaluran BBM,” ujar Dolly.
Pekerjaan itu juga tidak berhenti pada jam kantor. Dolly mengatakan penyaluran dapat dimulai sejak dini hari. Pada periode tertentu, jam operasional dimajukan untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan.
“Walaupun Sabtu, Minggu ataupun hari libur tanggal merah, kita tidak pernah tutup,” katanya.
Ketika mobilitas masyarakat meningkat, volume penyaluran pun ikut berubah. Pada periode tertentu, kebutuhan dapat mencapai 2.500 hingga 2.600 KL per hari.

Di Ujung Rantai Ada Konsumen
Sepanjang proses itu berjalan, konsumen hanya melihat bagian paling akhir: SPBU. Ketika pasokan tersedia, proses di belakangnya hampir tidak terlihat. Sebaliknya, ketika antrean memanjang, waktu tunggu menjadi pengalaman langsung bagi pengguna.
Fredy, seorang pekerja kantoran, pernah mengalami antrean panjang saat mengisi BBM. Ia mengaku harus menunggu sekitar setengah jam.
“Waktu itu antrean panjang sekali, saya sampai tertahan setengah jam. Jadwal kerja berantakan semua, mood juga langsung hancur,” keluhnya.
Bagi Laini, seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari menggunakan sepeda motor, waktu yang terbuang di SPBU juga menjadi persoalan.
“Iya, kadang waktu yang harusnya dipakai buat beres-beres rumah malah habis tersita buat antre bensin. Kita cuma ingin stoknya selalu aman dan cepat pelayanannya,” katanya.
Fredy dan Laini mungkin tidak melihat bagaimana stok dipantau dari ruang kendali. Mereka juga tidak melihat bagaimana pengemudi diperiksa sebelum membawa BBM atau bagaimana pasokan dari Surabaya lebih dulu menempuh perjalanan melalui rel. Yang mereka rasakan adalah hasil akhirnya: BBM tersedia dan kendaraan dapat kembali bergerak.
Di belakang itu ada rangkaian pekerjaan yang berlangsung sejak pasokan diberangkatkan dari Surabaya, diterima di Fuel Terminal Malang, disimpan dalam tangki, dihitung berdasarkan kebutuhan, hingga kembali dikirim menggunakan mobil tangki.
Bagi Mimar, perjalanan itu berakhir di jalan. Bagi Ery, setiap pengiriman dimulai dari angka dan ruang yang tersedia. Bagi Dolly, seluruh keputusan tersebut harus menjaga ribuan kiloliter BBM tetap bergerak setiap hari.
Sementara bagi Fredy dan Laini, seluruh proses itu cukup dirasakan dari satu hal BBM tersedia ketika dibutuhkan. Saat kota mulai bergerak, sebagian orang baru memikirkan ke mana harus pergi. Di Fuel Terminal Malang, perjalanan itu sudah disiapkan sebelumnya pasokan datang melalui rel, disimpan di tangki, dihitung kebutuhannya, lalu diberangkatkan kembali melalui jalan raya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....