Canting di Kota Apel: Jejak Batik Olive dari Ambang Gulung Tikar ke Panggung Eropa

  • 21 Agt 2026 17:27 WIB
  •  Surabaya
Poin Utama
  • PUMK menjadi penyelamat usaha saat pandemi Pertamina memberikan pendanaan Rp250 juta dalam dua termin ketika usaha Iwan menghadapi tekanan pandemi.
  • Pertamina membantu UMKM menghadapi tuntutan pasar Bukan hanya menjual batik, Iwan harus membaca selera konsumen luar negeri, mengembangkan motif, warna dan bahan sesuai permintaan.
  • Pendampingan mendorong pemenuhan standar produk Batik Olive mendapat pendampingan sertifikasi halal hingga sertifikat diperoleh pada 2025.
  • Olive juga menjadi tempat magang siswa yang berpotensi direkrut menjadi pekerja.

RRI.CO.ID, Batu - Udara di Kota Batu sore itu dingin menusuk, khas dataran tinggi yang selama ini lebih dikenal sebagai kota apel dan wisata petik stroberi daripada sentra batik. Tapi di sebuah bengkel kerja sederhana, ada aroma lain yang menyeruak, malam yang meleleh hangat di atas wajan kecil, bercampur samar dengan bau kain mori yang baru dibentangkan.

Di sudut ruangan itu, Salimah duduk mengapit selembar kain putih. Punggungnya sedikit membungkuk, matanya fokus pada ujung canting tembaga di tangannya. Perlahan ia mencelupkan ujung canting ke dalam cairan malam, menahan sejenak agar suhunya pas, lalu menggoreskannya di atas kain tipis, presisi, mengikuti lekuk pola flora yang sudah digambar sebelumnya. Satu guratan meleset saja, dan berjam-jam kerja bisa berantakan.

"Ini buat sapu tangan," katanya polos, sembari melempar senyum tipis, Rabu 19 Agustus 2026.

Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya ada lebih dari dua dekade dedikasi. Salimah telah menjadi bagian dari Batik Olive sejak tahun 2000 sejak usaha ini masih seumur jagung, jauh sebelum nama Batik Olive dikenal hingga ke Eropa. Ribuan lembar kain telah lahir dari ujung cantingnya, dan jemarinya kini bergerak nyaris tanpa pikir, seperti sudah menyatu dengan lelehan malam itu sendiri.

Ketika ditanya soal tingkat kerumitan pekerjaannya yang menuntut presisi tinggi, ia hanya merendah. "Biasa," jawabnya singkat, seolah dua puluh lima tahun ketekunan bisa dirangkum dalam satu kata.

Di tengah industri batik modern yang berlomba mengejar kecepatan lewat mesin cap, Salimah dan rekan-rekannya memilih jalan yang lebih sunyi dan lambat batik tulis manual. Baginya, batik cap memang unggul dalam kuantitas, tapi tidak pernah bisa menandingi kehangatan rasa yang lahir dari sentuhan tangan.

"Ada pakai cap, ada pakai canting. Ya, sulit kalau tanpa pakai canting," ujarnya, seolah menegaskan bahwa ada jenis kerumitan yang justru menjadi nilai, bukan beban.

Uniknya, meski karya-karyanya telah melanglang buana ke berbagai negara, Salimah mengaku tak pernah sekalipun memikirkan berapa harga jual selembar batik yang ia selesaikan. Baginya, tugas seorang perajin hanya satu: menjaga kerapian dan kesempurnaan setiap helai kain, sampai ke garis yang paling halus sekalipun.

"Harganya kalau dijual? Enggak tahu saya. Cuma membatik saja saya," katanya jujur sebuah pengakuan yang, di tengah dunia yang serba dihitung untung-rugi, terasa hampir seperti filosofi hidup.

Faisal Salah seorang perajin Batik tulis di ruang produksi Batik Olive

Ketika Canting Bertemu Kuas

Beberapa meter dari tempat Salimah duduk, proses panjang membuat batik memasuki babak berikutnya. Di sudut lain bengkel, Faisal berdiri di depan meja kerja yang lebar, tangannya bergerak stabil mengoleskan kuas ke permukaan kain. Ia meratakan pigmen warna dengan gerakan yang terlihat sudah dihafal luar kepala hasil dari pengalaman yang, sama seperti Salimah, dimulai sejak tahun 2000.

"Kerja buat batik dari tahun 2000. Sebelum tahun 2000 sebenarnya sudah buat, tapi resminya tahun 2000," katanya, sembari terus meratakan warna, seakan percakapan dan pekerjaan tangannya berjalan di jalur yang berbeda dan tak saling mengganggu.

Kain yang sedang ia kerjakan berukuran 1,5 meter, kelak akan menjelma taplak meja eksklusif atau bahan pakaian. Untuk satu lembar batik tulis penuh, prosesnya tidak bisa diburu-buru. "Sampai jadi itu satu bulan. Full, full tulis," ujarnya sebuah kalimat pendek yang menyimpan makna panjang tentang betapa mahalnya waktu yang dikorbankan demi sehelai kain.

Faisal menguasai berbagai racikan warna, salah satunya remasol. "Banyak kok pilihannya," katanya sambil menunjuk beberapa wadah warna di sekelilingnya. Pengalaman lebih dari dua dekade juga membuatnya memahami karakter setiap jenis kain dengan detail primissima untuk batik tulis, sutra, katun, atau yang oleh orang-orang di daerahnya biasa disebut "kain mori."

Ketelitian tangan Faisal dan Salimah tidak berjalan sembarangan. Keduanya dipandu oleh satu identitas desain yang secara sengaja dikembangkan Batik Olive, berbeda dari daerah-daerah penghasil batik lain yang cenderung terikat pakem klasik. "Kalau kita motifnya modern aja, jadi tidak ikut pakem-pakeman. Pokoknya yang bagus ya kita buat, menurut pasar lah. Cuman kayak motif parang-parang gitu kita tidak ikut," jelas Faisal.

Hasil Batik Tulis di Galeri Batik Olive

Dari Kebun Apel ke Atas Selembar Kain

Keberanian mengambil jalur desain yang berbeda itu lahir dari kepala satu orang: Iwan Ahmad Irawan, pemilik Batik Olive. Baginya, warisan budaya seperti batik tidak boleh berhenti di masa lalu ia harus terus bergerak mengikuti potensi daerah dan selera zaman yang berubah.

"Kami tidak ingin terpaku pada motif lama. Desain kami kembangkan dengan mengambil inspirasi dari lingkungan Kota Batu. Bunga, kupu-kupu, burung, hingga ayam jago kami padukan. Produk agrobisnis lokal seperti apel, stroberi, dan jambu juga kami angkat menjadi motif utama karena itu identitas Kota Batu," terang Iwan.

Ide itu masuk akal jika melihat dari mana Kota Batu dikenal bukan dari sejarah batiknya, melainkan dari kebun-kebun apel dan ladang stroberi di lerengnya. Iwan seolah membalik logika itu: alih-alih mengimpor motif dari daerah lain, ia justru menanam identitas lokal Kota Batu langsung ke atas kain.

Eksplorasi Iwan tidak berhenti di ragam hias. Ia melangkah lebih jauh dengan memanfaatkan kekayaan flora di sekitar tempat produksinya sebagai bahan pewarna alami, mengurangi ketergantungan pada zat kimia sintetis yang selama ini jamak digunakan industri batik.

"Kami memanfaatkan daun-daun dan kulit kayu di sekitar tempat produksi untuk pewarna alami. Selain lebih ramah lingkungan dan menekan limbah kimia di kawasan agrobisnis Batu, warna alami ini memiliki karakter lembut (earth tone) yang sangat disukai konsumen, khususnya pasar Eropa," tambah Iwan.

pemilik Batik Olive, Iwan Ahmad Irawan.

Titik Nadir di Tengah Pandemi

Tapi jalan Batik Olive menuju pasar dunia tidak pernah mulus. Ada satu titik dalam perjalanan usaha ini yang nyaris menjadi akhir dari segalanya: pandemi COVID-19.

Iwan masih ingat betul bagaimana guncangan ekonomi saat itu nyaris melumpuhkan seluruh roda produksinya. "Sebelum pandemi, omzet kami berada di kisaran Rp200 juta sampai Rp300 juta per bulan. Tapi begitu pandemi datang, permintaan turun drastis. Prioritas utama saya waktu itu adalah bagaimana caranya agar usaha tidak gulung tikar dan para pekerja tetap punya penghasilan," kenangnya.

Ini bukan sekadar soal angka yang anjlok di atas kertas. Di balik omzet yang merosot itu, ada belasan perajin seperti Salimah dan Faisal yang menggantungkan penghasilan mereka pada goresan canting dan kuas setiap hari. Ketika pesanan berhenti, bukan hanya usaha Iwan yang terancam, tapi juga dapur rumah tangga para perajinnya.

Titik balik datang ketika Iwan mengakses Program Pendanaan Usaha Mikro Kecil (PUMK) dari Pertamina. "Kami mendapat pendanaan Rp250 juta dalam dua termin, pertama Rp100 juta lalu Rp150 juta. Dana itu sangat krusial untuk modal usaha dan biaya operasional, terutama membayar gaji para perajin. Bantuan itu benar-benar membantu kami tetap bertahan," tuturnya.

Yang membuat Iwan bersyukur bukan hanya soal dana segar itu sendiri, melainkan apa yang terjadi setelahnya. "Yang luar biasa, setelah pinjaman lunas pun kami tidak dilepas. Kami tetap dibina, diberi pelatihan, dibantu sertifikasi halal, dan diajak pameran," katanya, penuh syukur.

Berbagai kain batik tulis di galeri Batik Olive

Kurasi Ketat, Kepercayaan yang Dibangun Bertahun-tahun

Cerita Iwan itu dibenarkan dari sisi lain oleh Prina Widya, Pendamping Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara (Jatimbalimus), yang juga menjabat sebagai Penyelia Halal Pertamina Pusat.

"Pak Iwan ini sudah terlibat di kita dari tahun 2020 melalui PUMK. Dulu sebelum 2022, kita ada program PUMK untuk pinjaman dana UMKM. Awalnya beliau daftar untuk peminjaman modal. Namun di luar peminjaman modal, kita bantu dengan pembinaan, pelatihan, pengikutsertaan ke fasilitas pameran, hingga sertifikasi," ungkap Prina.

Yang menarik, pendampingan Pertamina rupanya tidak diberikan cuma-cuma tanpa proses. Prina menjelaskan bahwa setiap UMKM binaan harus melalui sistem kurasi dan evaluasi bertingkat yang berlangsung ketat selama tujuh bulan. Dari sekian banyak mitra binaan, tidak semua mampu bertahan hingga tahap akhir.

Iwan salah satu yang lolos dari seluruh rangkaian seleksi itu. Menurut Prina, setiap mitra binaan Pertamina memang harus melewati semacam pengujian bertahap, dan Iwan konsisten lolos di setiap tahap pendampingan serta pelatihan yang berlangsung selama tujuh bulan tersebut.

"Setiap mitra binaan itu ada tesnya. Ketika Pak Iwan ikut pendampingan dan pelatihan selama tujuh bulan, beliau lolos terus. Kebetulan Pak Iwan masuk 10 besar Pertamina Agregator tahun 2024 untuk mendapatkan fasilitas pendampingan halal yang resmi terbit pada 2025. Seluruh proses pewarnaannya, baik dari tanaman maupun sintetis, sudah dipastikan halal oleh auditor," tegas Prina.

Kombinasi antara keahlian batik tulis manual, motif flora agrobisnis yang khas, dan kepastian standar halal itulah yang kemudian menjadi kekuatan utama Batik Olive di mata pembeli baik dari mancanegara maupun kalangan pejabat tinggi negeri sendiri.

Detail motif batik tulis bertema flora agrowisnis khas Kota Batu.

Ketika Nama "Olive" Menyeberang ke Eropa

Dukungan pameran dari Pertamina menjadi pintu masuk yang selama ini sulit ditembus oleh UMKM sekelas Batik Olive. "Kesempatan ikut pameran jadi pintu masuk utama kami. Produk kami diajak pameran ke Belanda, Korea Selatan, hingga Swedia," kata Iwan.

Ada satu detail kecil yang menyimpan cerita panjang di baliknya: nama "Olive" itu sendiri. "Nama 'Olive' sendiri sebenarnya punya sejarah; diambil dari sebuah butik di Stuttgart, Jerman, yang jadi pelanggan awal dan membantu memasarkan produk kami di Eropa," beber Iwan. Sebuah nama dari Kota Batu, yang justru lahir dari jejak sebuah butik kecil di Jerman potret nyata bagaimana batik Indonesia dan pasar Eropa bisa saling menempel nama satu sama lain.

Prina menambahkan bahwa selera pasar internasional pun ternyata tidak seragam. "Pasar internasional dari Italia dan Spanyol sukanya warna cerah dengan bahan sutra, sedangkan dari Prancis, Jerman, dan Swiss lebih suka katun warna kalem. Bahkan Pak Purbaya, Pak Jokowi, dan para Menteri juga sering membeli batiknya Pak Iwan saat pameran," katanya.

Salah satu pengrajin batik tulis di ruang produksi Batik Olive,

Pasar Sudah Terbuka, Tangan yang Menganyam Masih Terbatas

Namun kesuksesan menembus pasar global ini justru melahirkan persoalan baru yang tak kalah pelik, keterbatasan tenaga kerja. Kota Batu, yang sejak dulu lebih dikenal sebagai kota agrowisata ketimbang sentra batik tradisional, membuat keberadaan tenaga ahli pembatik menjadi barang langka.

"Sekarang masalahnya bukan lagi mencari pembeli, pasarnya sudah ada. Tantangan terbesar kami adalah memastikan ada cukup tenaga untuk memenuhi pesanan. Secara ideal, saya membutuhkan sekitar 100 orang pembatik. Tapi saat ini pekerja kami baru ada sekitar 15 orang," ungkap Iwan.

Ironi ini terasa tajam, pasar dunia sudah mengantre, tapi tangan-tangan yang bisa mengisi pesanan itu masih terlalu sedikit. Ini bukan lagi soal strategi pemasaran, melainkan soal regenerasi keterampilan yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dibangun persis seperti perjalanan Salimah dan Faisal sendiri sejak tahun 2000.

Menghadapi hambatan SDM ini, Iwan tidak menunggu bantuan datang begitu saja. Ia berinisiatif menjalankan program pelatihan dan regenerasi secara mandiri bagi warga lokal. "Kami mengadakan pelatihan membatik gratis untuk warga lokal. Bengkel produksi ini juga kami buka lebar-lebar untuk tempat magang siswa SMK. Anak-anak yang potensial dan warga yang sudah mahir langsung kami rekrut. Dari yang dulu cuma enam orang, sekarang berkembang jadi 15 orang. Memang masih jauh dari target 100 orang, tapi ini proses regenerasi yang terus kami jalankan," katanya.

Garis yang Belum Selesai

Sore itu, di bengkel kerja Batik Olive, aktivitas tetap berjalan seperti hari-hari biasa. Di antara lembaran-lembaran kain yang tergantung, Salimah masih menumpahkan ketelitiannya lewat ujung canting, sementara Faisal di sudut lain terus mengoleskan warna demi warna. Keduanya hanyalah dua dari 15 mata rantai perajin yang, tanpa banyak bicara, menjaga agar roda produksi Batik Olive tetap berputar.

Kalau ditarik garis lurus, perjalanan panjang ini punya banyak persimpangan, bertahan di titik terendah saat pandemi, mendapat modal dari PUMK Pertamina, melewati pelatihan tujuh bulan yang tak semua UMKM sanggup lulus, mengantongi sertifikat halal, hingga akhirnya melenggang ke pameran-pameran di Eropa. Setiap persimpangan itu membuktikan satu hal sederhana: potensi lokal, sekecil apa pun asalnya, mampu bersaing di panggung global asal ada yang mau menuntunnya sampai ke sana.

Tapi perjuangan Batik Olive belum benar-benar usai. Pasar luar negeri sudah terbuka lebar, sementara pencarian 85 pembatik baru untuk mengejar target ideal seratus orang masih terus diupayakan demi menjaga keberlanjutan warisan budaya ini.

Di atas kain putihnya, Salimah kembali mencelupkan canting ke dalam cairan malam. Bersama Faisal, Iwan, dan para pekerja lainnya, ia terus menorehkan garis demi garis, pelan tapi pasti. Satu helai kain belum selesai, sementara pesanan berikutnya dari belahan dunia lain sudah mengantre, menunggu untuk disentuh oleh jemari-jemari yang sama, jemari yang tidak pernah menghitung harga, hanya menghitung ketelitian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....