Dari Surga Belanja ke Kawasan Heritage, Jalan Tunjungan Tetap Memikat
- 02 Agt 2026 16:11 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Surabaya - Di tengah menjamurnya pusat perbelanjaan modern di Surabaya, Jalan Tunjungan tetap memiliki daya tarik tersendiri. Kawasan yang dahulu dikenal sebagai pusat belanja paling bergengsi di Kota Pahlawan itu kini kembali ramai dikunjungi masyarakat. Jika dulu orang datang untuk berbelanja, kini banyak warga menikmati suasana heritage, berburu kuliner, menyaksikan pertunjukan seni, hingga bersantai di ruang publik yang memanfaatkan bangunan-bangunan bersejarah.
Jauh sebelum pusat perbelanjaan modern hadir, Jalan Tunjungan telah menjadi urat nadi perdagangan Surabaya. Portal Data Cagar Budaya Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya menjelaskan, kawasan ini berkembang sebagai pusat perdagangan, perhotelan, dan kuliner sejak awal abad ke-20. Posisinya yang strategis menjadikan Jalan Tunjungan sebagai salah satu kawasan niaga paling bergengsi di Surabaya pada masanya.
"Jalan Tunjungan tumbuh sebagai pusat retail, perhotelan dan kuliner di Surabaya. Keadaan seperti ini terus berlangsung sampai tahun 1942 sebelum Jepang masuk," demikian keterangan dalam Portal Data Cagar Budaya Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kota Surabaya.
Selain menjadi pusat perdagangan, Jalan Tunjungan juga menyimpan jejak sejarah perjuangan bangsa. Di kawasan ini berdiri Hotel Yamato yang kini bernama Hotel Majapahit, tempat terjadinya peristiwa perobekan bendera Belanda pada 19 September 1945. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Surabaya.
Memasuki dekade 1990-an, aktivitas perdagangan di Jalan Tunjungan mulai mengalami penurunan. Portal Data Cagar Budaya Kota Surabaya menyebut, perubahan pola belanja masyarakat, munculnya pusat-pusat perbelanjaan modern, serta keterbatasan lahan parkir menjadi beberapa faktor yang membuat kawasan ini kehilangan pamornya.
"Munculnya konsep gedung baru yang dinamakan mal, dengan konsep belanja baru, serta sulitnya lahan parkir di sepanjang Jalan Tunjungan sering disebut sebagai sebab matinya toko-toko di sepanjang Jalan Tunjungan," demikian keterangan dalam Portal Data Cagar Budaya Kota Surabaya.
Dalam beberapa tahun terakhir, Jalan Tunjungan kembali menemukan denyut kehidupannya. Pemerintah Kota Surabaya melakukan revitalisasi kawasan melalui penataan trotoar, pencahayaan kawasan, pelestarian fasad bangunan bersejarah, serta penyediaan ruang bagi pelaku UMKM dan pertunjukan seni. Upaya tersebut menjadikan Jalan Tunjungan tidak hanya sebagai destinasi wisata heritage, tetapi juga ruang publik yang hidup dan diminati berbagai kalangan.
Kini, Jalan Tunjungan membuktikan bahwa kawasan bersejarah tidak harus berhenti menjadi kenangan. Bangunan-bangunan lama tetap berdiri sebagai saksi perjalanan Kota Surabaya, sementara aktivitas seni, kuliner, dan interaksi masyarakat memberi kehidupan baru bagi kawasan ini. Perpaduan antara nilai sejarah dan ruang publik yang terus berkembang menjadikan Jalan Tunjungan tetap memikat lintas generasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....