Meja Makan di Bawah Bayang-Bayang Makanan Instan
- 26 Mar 2026 21:15 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Lamongan - Langit Kota Lamongan pada Minggu pagi itu tampak lebih ramah. Di antara genangan banjir yang belum sepenuhnya surut, langkah-langkah kaki tetap berderap di sudut kota. Sekelompok pelari memulai pemanasan. Napas diatur, otot diregangkan. Di antara mereka, Dahlina Rosyida Nana menyatu dalam ritme yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan.
“Tidak panjang hari ini. Badan masih lelah,” ujarnya suatu siang, mengenang akhir pekan itu.
Perempuan kelahiran 1983 itu bukan pelari biasa. Tujuh belas tahun hidup sebagai atlet balap sepeda membentuk disiplin yang tak mudah luntur. Kini, meski telah pensiun sejak 2016 dan menjalani peran sebagai aparatur sipil negara, Nana tetap menempuh 50 hingga 60 kilometer setiap pekan. Di akhir pekan, jarak itu bisa memanjang hingga setengah maraton.
Namun, bagi Nana, menjaga kebugaran tak berhenti pada langkah kaki. Ia berlanjut ke meja makan.
Di sana, pilihan-pilihan sederhana menjadi penentu: sayur segar, telur rebus, buah-buahan. Sarapan yang tak rumit, tapi terukur. Makan berat cukup dua kali sehari, dengan batas terakhir pukul lima sore. Sebuah pola yang terbentuk bukan semata karena pengetahuan, melainkan kebiasaan panjang sebagai atlet.
“Kalau tidak diimbangi makanan bernutrisi, risiko cedera bisa datang kapan saja,” katanya.
Apa yang dilakukan Nana tampak sederhana. Tapi di luar sana, meja makan banyak keluarga justru menghadapi tantangan yang berbeda.
Di dapur-dapur rumah, di warung tepi jalan, hingga di etalase minimarket, makanan instan, gorengan, dan minuman berpemanis menjadi pemandangan yang akrab. Praktis, murah, dan cepat saji tiga alasan yang membuatnya sulit tergantikan.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah Jawa Timur, dr. Andriyanto, melihat persoalan ini bukan sekadar soal pilihan makanan. Ada persoalan edukasi yang belum sepenuhnya tuntas.
“Ibu-ibu adalah garda terdepan dalam menentukan pola makan keluarga,” ujarnya.
Dari tangan mereka, menu sehari-hari disusun. Dari kebiasaan di rumah, selera anak-anak terbentuk. Namun, di tengah arus makanan instan yang kian deras, upaya menjaga keseimbangan gizi menjadi pekerjaan yang tidak ringan.
Masalahnya tidak berhenti pada satu sisi. Gizi buruk, stunting, hingga obesitas menjadi spektrum yang saling berkelindan. Di satu ujung ada kekurangan asupan, di ujung lain ada kelebihan yang tak terkendali.
Meski demikian, Andriyanto tak serta-merta menunjuk satu pihak sebagai penyebab. Makanan olahan, gorengan, hingga minuman kemasan bukan musuh yang harus disingkirkan sepenuhnya.
“Yang penting porsi dan intensitasnya,” katanya.
Di titik ini, meja makan berubah menjadi ruang negosiasi. Antara kepraktisan dan kesehatan. Antara selera dan kebutuhan tubuh.
Budayawan Antonio Carlos melihatnya sebagai bagian dari perjalanan panjang budaya makan. Gorengan, misalnya, bukan hal baru. Ia tumbuh seiring dikenalnya minyak goreng, lalu menguat menjadi kebiasaan yang sulit dilepaskan.
“Sangat mudah menemukan gorengan di mana-mana. Tapi tidak mudah menemukan makanan sehat,” ujarnya.
Di sisi lain, kesadaran untuk hidup sehat perlahan tumbuh, terutama sejak pandemi melanda. Aktivitas olahraga meningkat. Konsumsi makanan sehat mulai dilirik. Namun, perubahan ini belum sepenuhnya menggeser dominasi makanan instan.
Bagi pelaku industri, ini menjadi tantangan tersendiri. Deputy Head for Agriculture, Food and Beverage EuroCham Indonesia, Dhedy Adi Nugroho, menyebut industri tengah berupaya menyesuaikan diri. Reformulasi produk dilakukan mengurangi gula, menghadirkan varian rendah atau tanpa gula. Namun, proses ini tidak sederhana.
“Ada riset, ada biaya, dan ada penerimaan pasar yang harus dijaga,” katanya.
Di atas kertas, label komposisi gizi telah dicantumkan. Regulasi mengaturnya. Namun, pilihan tetap kembali pada konsumen.
Di Surabaya, seorang pelari trail, Kristiono, masih sesekali mengonsumsi minuman berkarbonasi. Bukan sebagai kebiasaan, melainkan kebutuhan sesaat ketika tubuh kehilangan energi di tengah latihan.
“Tidak rutin. Hanya saat benar-benar perlu,” katanya.
Pilihan-pilihan kecil seperti itu, yang diambil setiap hari, perlahan membentuk kebiasaan. Dan dari kebiasaan, terbentuklah pola hidup.
Pada akhirnya, pertarungan di meja makan bukan sekadar soal makanan. Ia adalah pertemuan antara pengetahuan, kebiasaan, tradisi, dan pilihan.
Di satu sisi, ada keinginan untuk hidup lebih sehat. Di sisi lain, ada godaan yang selalu hadir mudah, cepat, dan akrab di lidah.
Seperti langkah Nana di pagi hari, menjaga kesehatan barangkali bukan soal perubahan besar yang datang sekaligus. Ia tumbuh dari konsistensi dari apa yang dipilih, setiap hari, di meja makan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....