Cacing Tanah, Jalan Baru Mengolah Limbah dan Rezeki
- 16 Jan 2026 20:22 WIB
- Surabaya
RRI.CO.ID, Mojokerto: Di banyak tempat, cacing tanah kerap dipandang sebelah mata. Makhluk merah bergeliat ini hidup tersembunyi di balik tanah dan sering dianggap menjijikkan serta tak bernilai. Namun di sebuah desa yang terletak di pegunungan di Jawa Timur, cacing tanah justru memainkan peran penting dalam sebuah kisah transformasi limbah menjadi peluang ekonomi berkelanjutan.
Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, dikenal dengan udara sejuk dan hamparan hijau lereng gunung. Di balik ketenangan perdesaan itu, tumbuh sebuah aktivitas yang jarang tersorot, pemanfaatan limbah kotoran sapi untuk cacing tanah hingga menjadi produk bernilai ekonomi tinggi yang bahkan diminati pasar luar negeri.
Di lahan area Bimasakti Farm yang berukuran sekitar 6×10 meter persegi, Wahyutri (40) menyimpan drum-drum berisi kotoran sapi atau kohe yang dikumpulkan dari peternak sekitar. Limbah tersebut tidak dibiarkan terbuang percuma, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan ribuan cacing tanah yang dibudidayakan secara telaten.
Dari proses biologis alami itu dihasilkan kascing (bekas cacing), berupa pupuk organik bertekstur halus menyerupai pasir. Produk ini kini menjadi komoditas yang menjanjikan secara ekonomi.
"Jadi kotoran sapi yang dibuang peternak kami tampung, lalu kami beri cacing. Hasilnya kascing seperti ini," ujar Wahyutri sambil menunjukkan butiran cokelat gelap yang kering dan ringan, saat ditemui di lokasi budidaya, Jumat 16 Januari 2026, kepada RRI.CO.ID.
Kerjasama Yayasan Bimasakti Peduli Negeri dengan Askara ini dimulai tahun 2025. Tanpa teknologi rumit, Wahyutri mengandalkan pemahaman terhadap siklus alam. Dalam kurun dua hingga tiga bulan, cacing-cacing itu sudah dapat dipanen. Dari lahan yang tak lebih luas dari halaman rumah, ia mengaku mampu meraih pendapatan tambahan jutaan rupiah setiap bulan.
Wahyutri (40), menunjukkan cara budidaya cacing tanah untuk produksi Kascing (bekas cacing) di Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, Jumat (16/1/2026). (Foto: RRI/Andri Santoso).
Menurut Wahyutri, kascing yang dihasilkan memiliki kualitas tinggi karena sepenuhnya berasal dari proses alami tanpa campuran bahan kimia. Pupuk ini dinilai lebih efektif dibanding kompos konvensional dalam memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kesuburan.
"Secara siklus hidup, kascing ini penyubur tanah paling bagus. Komposnya kami buat secara mandiri," katanya.
Selain kascing, cacing tanah sebenarnya juga memiliki potensi ekonomi lain. Di sejumlah negara, cacing kering dimanfaatkan sebagai bahan baku obat tradisional dan suplemen kesehatan. Namun di Desa Claket, pemanfaatan tersebut masih terbatas. Saat ini, sebagian besar cacing hanya dipasarkan untuk kebutuhan umpan memancing.
"Cacingnya bisa dikeringkan untuk obat, tapi sementara kami fokus ke kascing karena permintaannya sangat tinggi," ujarnya.
Pasar kascing pun terus meluas. Selain peminat dari luar daerah, petani lokal mulai beralih menggunakan pupuk organik ini. Awalnya, Wahyutri membagikan kascing secara gratis sebagai uji coba kepada warga sekitar.
"Sekarang banyak yang minta. Kita kasih tester, hasilnya di tanaman seledri dan tanaman lain jauh lebih maksimal," katanya.
Meski peluang ekspor terbuka, keterbatasan kapasitas produksi masih menjadi tantangan. Dengan permintaan yang terus meningkat, Wahyutri berharap budidaya cacing dan produksi kascing dapat dikembangkan melalui dukungan modal, kemitraan, dan pendampingan teknis.
Lebih dari sekadar usaha, apa yang tumbuh di Desa Claket menjadi contoh nyata bagaimana solusi berbasis alam mampu menjawab persoalan pengelolaan limbah sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.
"Harapannya bisa ikut mendorong pertanian ramah lingkungan," ujarnya.
Sementara, sebagai pihak pendukung, M. Adistya Dwi Kurniawan, pengelola Yayasan Bimasakti Peduli Negeri yang menjadi mitra utama dalam budidaya ini berharap, di tengah dunia yang terus mencari cara menyeimbangkan ekonomi dan ekologi.
"Manfaat cacing tanah ini mengingatkan bahwa terkadang, perubahan besar justru dimulai dari makhluk paling sederhana di dalam tanah," ucap Wawan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....