Kemiskinan Merampas Sekolah Tiga Bocah Sidoarjo
- 13 Jan 2026 10:48 WIB
- Surabaya
KBRN, Sidoarjo: Kisah pilu dialami tiga anak di Kabupaten Sidoarjo yang terancam kehilangan masa depan akibat himpitan ekonomi dan persoalan keluarga. MFZ (11), GPK (7), BG (3) kini hidup menumpang di rumah kakek-nenek mereka dengan kondisi serba kekurangan, bahkan sehari-hari harus mengonsumsi nasi aking atau karak untuk bertahan hidup.
Ketiganya berasal dari Dusun Keling, Desa Jumputrejo, Kecamatan Sukodono, namun sejak sekitar satu tahun terakhir tinggal bersama kakek mereka, Jauri (63), dan nenek Sumarsih (60) di Dusun Maju RT 02 RW 01, Desa Tenggulunan, Kecamatan Candi.
Di rumah sederhana yang jauh dari kata layak itu, lima orang harus bertahan dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per hari dari pekerjaan Sumarsih sebagai buruh rumah tangga, sementara Jauri tak lagi mampu bekerja karena menderita pengapuran pada kedua kakinya.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pendidikan anak-anak. Fariz terpaksa putus sekolah sejak kelas 4 Madrasah Ibtidaiyah, sementara Gendis yang seharusnya duduk di bangku kelas 1 SD berhenti sekolah sejak taman kanak-kanak. “Pengen sekolah lagi, tapi nggak punya biaya,” ujar Fariz lirih, Selasa (13/1/2026).
Jauri mengungkapkan, keberadaan orang tua cucu-cucunya tidak menentu. Sang ibu pergi tanpa kabar, sementara ayahnya bekerja sebagai penjaga warung kopi di wilayah Porong dengan penghasilan pas-pasan.
“Yang penting anak-anak bisa makan dan sehat. Soal sekolah sebenarnya saya ingin mereka lanjut, tapi saya sudah tidak sanggup,” tutur Jauri dengan mata berkaca-kaca.
Kisah ini mendapat perhatian Pemerintah Desa Tenggulunan. Kepala Desa Tenggulunan, Akhmad Idom Maun, mengatakan pihaknya akan membantu pengurusan administrasi kependudukan dan berkoordinasi dengan instansi terkait agar hak pendidikan ketiga anak tersebut dapat terpenuhi.
“Kami akan bantu administrasi kependudukan dan koordinasi dengan pihak terkait agar anak-anak ini bisa kembali bersekolah,” ucapnya.
Idom menambahkan, keluarga Jauri sejatinya telah menerima sejumlah bantuan pemerintah seperti BPNT, BPJS Kesehatan, serta program bedah rumah. Namun, beban ekonomi keluarga semakin berat sejak harus menanggung kebutuhan hidup cucu-cucunya.
Pemerintah desa berjanji akan mengupayakan langkah lanjutan agar anak-anak tersebut tidak terus kehilangan hak dasar mereka, terutama pendidikan.